Meriam Made in Tiongkok Gagal Fungsi dan Meledak Hingga Tewaskan Prajurit TNI, Seperti Apa Meriamnya?

95
Prajurit TNI dengan meriam serangan udara (Foto : PenKostrad)

Erabaru.net – Insiden mengerikan menimpa terhadap prajurit TNI hingga gugur saat meriam tipe 80 Giant Bow Made in Tiongkok meledak akibat gagal fungsi. Kejadian ini saat gladi bersih latihan PPRC (Pasukan Pemukul Reaksi Cepat) dengan menggunakan meriam itu di Tanjung Datuk, Natuna, Kepulauan Riau, Rabu (17/5/2017) siang.

Atas insiden ini, Kepala Dinas Penerangan TNI AD (Kadipenad) Brigjen Arm Alfret Dennny Tuejeh menyatakan dalam keterangan resmi bahwa tim dari TNI AD masih sedang dan terus melakukan investigasi untuk mengetahui penyebabnya.

Namun demikian secara teknis, Meriam 23mm/Giant Bow yang digunakan dalam latihan tersebut masih dalam kondisi baik dan dipelihara dengan baik di satuan Yonarhanud-1/K. Hasil investigasi yang dilakukan oleh tim dari TNI AD nantinya akan dilaporkan kepada Panglima TNI.

Pihak TNI AD menyatakan sangat menghormati dan menghargai kebebasan jurnalistik serta akan selalu terbuka untuk memberikan informasi kepada media. Namun demikian, TNI AD  berharap agar semua pihak bisa turut berempati terhadap duka cita yang sedang dialami oleh keluarga prajurit TNI AD yang menjadi korban, dengan cara tidak menyebarkan gambar-gambar maupun berita yang tidak benar terkait insiden tersebut.

Melansir dari indomiliter.com, meriam ini diproduksi oleh Norinco,Tiongkok dengan kecepatan proyektil 970 meter per detik dengan berat kosong 950kg . Kanon penangkis serangan udara ini memiliki dua laras disebut sebagai jiplakan kanon ZU-23-2 produksi Rusia.

Giant Bow atau disebut juga Shengong memiliki sudut putar 360 derajat. Sedangkan sudut elevasi laras dengan sistem manual yakni -5 sampai 90 derajat, dan elevasi laras dengan sistem elektrik mulai dari -3 sampai 90 derajat.

Meriam tipe 80 Giant Bow (Foto : Indomiliter)

Meriam Made in Tiongkok ini disebutkan memiliki jarak tembak sudut vertikal maksimum 1.500 meter dan horizontal maksimum 2.000 meter. Jarak tembak mendatar hingga 2.500 meter masih bisa dijangkau oleh meriam ini. Pesawat yang terbang rendah juga mudah dirontokkan oleh meriam ini dengan memuntahkan 1.500 – 2.000 proyektil dalam 1 menit.

Bobot 1.250kg dimiliki meriam ini dan biasa ditarik dengan truk Unimog. Sebanyak 5 orang personel mengoperasikan meriam ini dalam waktu 5 menit. Pada meriam ini memiliki dua kursi operator.

Sedangkan peran personil lainnya adalah melakukan loading amunisi (magasin) dan penggantian laras. Selain otomatis, Giant Bow dapat dioperasikan manual bahkan secara elektrik lewat joystick.

Meriam ini memiliki 2 box magasin, masing-masing box hanya berisi 50 butir peluru. Hal lain dimiliki oleh meriam ini adalah harus dilakukan pergantian laras. Pasalnya, dikarenakan kecepatan tembak yang tinggi hingga membuat laras cepat panas. Prosedur pada meriam ini yakni setiap 200 tembakan maka laras harus diganti.

Saat ini kanon Giant Bow menjadi etalase sista di Yon Arhanudri 1 Kostrad, yang bermarkas di Serpong, Tangerang – Banten. Yon Arhanudri Kostrad juga sudah berpengalaman menggunakan kanon PSU otomatis, yakni dari jenis Rheinmetall kaliber 20mm. (asr)