Sang Ayah Sekarat, Sang Ibu ‘Percepat’ Kelahiran

148

Erabaru.net . Beberapa tahun yang lalu, Mark Augler 52 tahun didiagnosis menderita kanker paru-paru mengerikan. Dia sempat menjalani berbagai pengobatan, namun naas,  pengobatan tersebut justru menyebabkan fibrosis paru. Kemoterapi yang Mark jalani tidak hanya menghancurkan sel-sel kanker tetapi memperburuk sel-sel yang masih baik dan sehat.

Terapi yang diduga mampu menyelamatkannya dari kanker paru-paru, ternyata menjadi penyebab kerusakan organ-organ vitalnya.

(Foto : The Dokter)

“Pada dasarnya paru-parunya tampak seperti direndam dalam beton. Sehingga paru-parunya tidak bisa melakukan tugas dan fungsinya, seperti bernapas dan  memberi oksigen ke seluruh tubuh. Dengan kata lain, dia akan hidup tercekik sampai mati,” kata Diana sang istri kepada KCTV 5 News.

Diana sangat menginginkan seorang anak, tetapi kenyataan mengharuskan bahwa Mark akan pergi sebelum putrinya lahir. Itulah sebabnya Diana berbicara dengan para dokter terkait keinginannya untuk melahirkan anak dilakukan lebih awal jika kondisi Mark memburuk.

Diagnosis memilukan jatuh pada bulan Februari ketika Mark diberitahu bahwa dia hanya memiliki kesempatan untuk hidup dalam hitungan hari. Oleh karena itu, pasangan yang saling mencintai ini memutuskan untuk mempercepat kelahira bayinya, dan lahirlah sang buah hati mereka, Savanah Augler.

(Foto : The Dokter)

“Dia harus menjadi orang pertama yang memeluknya. Dia memeluknya selama 45 menit setelah dia lahir,”kata Diana.

Diana menangkap momen  mengharukan antara ayah dan anak dalam sebuah rekaman video dan Mark tidak bisa berharap lebih selain menyambut kelahiran bayi perempuannya ke dunia.

Beberapa hari setelah itu, kondisi Mark memburuk. Dia mengalami koma, dan setelah 48 jam koma, Diana melihat bahwa fungsi organ-organ vitalnya menurun. Tak kuasa menahan rasa sedih saat melihat suaminya terbaring tak berdaya, Diana menggenggam tangan suaminya sambil memeluk Savanah.

“Detak jantung mulai menurun, napasnya juga mulai turun, saya hanya bisa memeluk Savanah sambil memegang tangannya sampai dia meninggal,” jelas Diana.

(Foto : The Dokter )

Kepergian Mark merupakan hal terberat yang harus dialami Diana dan anaknya, tetapi mereka sempat hidup bahagia bersama, dan mereka juga berhasil melakukan semua hal yang Mark ingin lakukan sebelum ajal menjemputnya.

“Anak-anak akan tetap hidup seakan – akan ayah mereka benar-benar masih ada di sini. Anak-anak saya masih menceritakan beberapa lelucon seperti saat ayahnya masih berada di sekitar kami. Dia telah menjadi ayah terbaik untuk anak-anaknya,” imbuhnya.( shareably.net/Intan)