Erabaru.net. Di sela-sela Tiongkok membuka KTT One Belt One Road di Beijing, Minggu, (14/5/2017)  lalu, Korea Utara justru melakukan uji coba senjatanya dengan meluncurkan rudal balistik jarak jauh Hwasong-12 (Mars-12).

Media di Jepang sebut tindakan tiba-tiba Kim Jong-un telah membuat marah Xi Jinping. Sehubungan dengan ini, Korea Utara mungkin akan membayar mahal atas tindakannya yang mengecewakan Beijing.

Menurut laporan media asing, Senin, (15/5/2017), Korea Utara kembali menembakkan rudal balistiknya pada Minggu pagi (14/5/2017) waktu setempat.

Peluncuran rudal Korea Utara ini bertepatan dengan pembukaan KTT One Belt One Road di Beijing. Setelah Xi Jinping selesai berpidato dengan ekspresi yang tidak biasa, Kementerian Luar Negeri segera mengeluarkan pernyataan mengecam Korea Utara atas tindakannya meluncurkan rudal yang melanggar resolusi Dewan Keamanan PBB.

Menurut analis, tindakan Kim Jong-un ini jelas menunjukkan ketidaksenangan Beijing terhadap Pyongyang.

KTT One Belt One Road yang dihelat di Beijing, dapat dikatakan sebagai kegiatan diplomatik terbesar Tiongkok 2017, namun, tindakan tiba-tiba Pyongyang justru membuat momen kesenangan Beijing berubah menjadi sangat tidak senang atas rezim Kim, demikian analisis Sankei Shimbun Jepang.

Selain itu, “Sankei Shimbun” juga menyebutkan bahwa dilema yang dialami Tiongkok bukan hanya itu, Korea Utara yang sebelumnya diundang dalam KTT terkait telah memicu ketidakpuasan Amerika Serikat.

Laporan tersebut mengatakan, bahwa “tindakan sembrono” Kim Jong-un kali ini membuat situasi Semenanjung Korea memanas lagi.

Setelah upacara pembukaan KTT, Xi Jinping dan Presiden Rusia Vladimir Putin yang berbicara tentang situasi di Semenanjung Korea menyatakan keprihatinan mereka terhadap peluncuran rudal Korut yang menyebabkan situasi semakin tegang.

Terkait ini, bisa dibayangkan bagaimana marahnya Xi Jinping, tindakan Kim Jong-un yang secara langsung membuat kecewa Beijing ini mungkin akan dibayar mahal oleh Kim Jong-un.

Laman KCNA menyebutkan bahwa pemimpian tertinggi Korea Utara Kim Jong-un memantau dan memberi komando langsung di lokasi peluncuran Rudal, Minggu pagi (14/5/2017) waktu setempat.

Menurut analis luar, ada beberapa tujuan Kim Jong-un memilih waktu peluncuran rudal ketika itu.

  1. Korea Utara mungkin memberikan tekanan pada Presiden baru Korea Selatan Moon Jae-in
  2. Menyampaikan pesan protes terhadap otoritas Tiongkok yang bekerja sama dengan AS menerapkan sanksi pada Korut di sela-sela pembukaan One Belt One Road yang dihelat di Beijing beberapa waktu lalu.

Meskipun Amerika Serikat sebelumnya menyatakan bisa berdialog dengan Pyongyang, dan perwakilan dari kedua belah pihak juga sudah mulai mengadakan kontak di Norwegia, tapi ada syarat mutlak yakni Korea Utara harus terlebih dahulu menghentikan program nuklirnya, baru bisa mengadakan pembicaraan dengan pemerintahan Trump.

Namun, peluncuran rudal Pyongyang ketika itu menunjukkan sikap Korea Utara melawan Amerika Serikat tidak berubah, demikian dilansir dari NHK World Radio Japan.

Duta Besar AS untuk PBB Nikki Haley juga menyatakan, bahwa tindakan Korea Utara yang tiba-tiba meluncurkan rudal ketika itu adalah pesan yang keliru di sela-sela akan diadakannya dialog AS-Korut, dan sehubungan dengan itu, Trump dipastikan tidak akan dialog dengan Pyongyang.

Sementara itu, The “Asahi Shimbun” juga melaporkan, bahwa di saat presiden baru Korea Selatan Moon Jae-in tengah mempertimbangkan dialog dengan Pyongyang, rezim Kim Jong-un justeru menembakkan rudal lagi, sehingga membuat Moon Jae-in harus menghadapi kritik keras dari kaum konservatif di dalam negeri. (Jhony/rp)

Sumber: Secretchina

Share

Video Popular