Praktisi Eropa Berbagi Kisah Spiritual di Time Square New York

45
Pirjo Spansong yang berasal dari Swedia mengatakan, setiap bulan Mei tiba, dia pasti datang ke New York untuk ikut merayakan Falun Dafa day, itu sudah berjalan 10 tahun lamanya. (Shao Yan / Epoch Times)

Oleh: Shao Yan

Erabaru.net. Pada 13 Mei 2017 lalu, hampir 100 pengikut Falun Gong berasal dari Eropa berkumpul di Time Square New York. Sesuai jadwal yang sudah ditetapkan, meski hujan, mereka tetap memperagakan metode latihan secara berjemaah.

Tujuan mereka berkumpul di New York hanya satu yaitu untuk secara bersama-sama merayakan 25 tahun Falun Dafa sejak dipublikasikan dan disebar ke seluruh dunia.

Walaupun hujan lumayan deras yang tak hentinya mengguyur, mereka masih saja dengan seksama berlatih mengikuti aba-aba dan ritme musik, nyaris tak terpengaruh oleh sikon.

Musik latihan meditasi yang lembut dan harmonis itu mengiringi suara hujan mengalun di Time Square. Adegan yang penuh ketentraman itu, sempat menarik perhatian para pejalan kaki New York, ada yang proaktif menanyakan, ada pula yang membidik dengan ponsel.

Walau hujan tak hentinya mengguyur, sebagian dari praktisi Falun Gong Eropa tak surut niatnya tetap dengan seksama berlatih mengikuti aba-aba dan ritme musik nan lembut itu. (Zhou Rong / Epoch Times)

Personil militer Prancis: berharap lebih banyak orang memahami apa itu Falun Gong

Matthieu Fouaiier datang bersama istrinya yang ahli design berasal dari Paris Prancis. Fouaiier telah berdinas selama 11 tahun di Angkatan Darat Prancis, ia merupakan seorang tentara kendaraan berlapis baja jenis berat. Mereka menyatakan kedatangannya ke New York adalah agar lebih banyak orang memahami perihal Falun Gong.

Prajurit Matthieu Fouaiier dengan sang istri. (Shao Yan / Epoch Times)

Melalui pengenalan dari istrinya, sejak 2013 Matthieu mulai berlatih, kala itu cedera di bagian otaknya siap dibedah akibat benturan keras. Namun begitu ia mulai berlatih, maka merasakan dalam tubuhnya teraliri arus energi yang kuat. Setelah itu kesehatan bagian otaknya pulih dengan pesat dan tidak lagi diperlukan operasi, tubuhnya pun senantiasa sehat-sehat saja.

Matthieu menyatakan dirinya telah menerima sangat banyak manfaat dari Falun Gong, konsepsi kehidupannya juga mengalami banyak perubahan.

“Sejak saya berkultivasi, saya telah berubah dalam memandang cara hidup. Orang-orang zaman sekarang sangat mementingkan uang, beda dengan orang yang telah berkultivasi, boleh dibilang dapat memandang hambar akan pengejaran materi,” katanya.

Istrinya merupakan seorang designer busana ber-etnis Tionghoa, sejak berusia 8 – 9 tahun dia mulai berkultivasi mengikuti sang ibu.

Mereka menceritakan, cukup banyak warga Prancis yang berlatih Falun Gong. Pusat wisata di Prancis digemari oleh banyak wisatawan dari daratan Tiongkok, Matthieu acap kali berlatih di dekat  Paris Lafayette Shopping City Paris.

Setelah para wisatawan RRT itu melihat, mereka pun terheran-heran, dan ia mempersilakan mereka mengambil gambar. Ia merasa baik-baik saja. Berharap mereka sekembalinya ke negerinya dapat menunjukkannya kepada para kerabat, dengan demikian orang-orang di RRT lantas mengetahui bahwa ternyata di Prancis banyak orang bebas berlatih Falun Gong.

Suasana khidmad amat terasa disaat Master Li Hongzhi hadir dan menyampaikan ceramah pada Konferensi New York yang diikuti hampir 10.000 ribu pengikut Falun Dafa dari seluruh dunia pada 14 Mei 2017. (Dai Ping /Epoch Times)

Murid gelombang pertama Swedia: memori berharga 22 tahun silam

Pirjo Spansong adalah seorang juru rawat terdaftar berasal dari Swedia. Dia memperkenalkan dirinya  telah berlatih Falun Gong sejak 1995. Setiap tahun, setiap Mei, dia dipastikan datang ke New York guna merayakan Hari Falun Dafa, tak terasa 10 tahun lebih telah berlalu.

Dia mengenang, di saat guru Li Hongzhi untuk kali pertama mengunjungi Swedia pada 1995, dia merupakan salah satu dari orang Swedia yang paling awal mengenal Falun Gong.

“Itu betul-betul kenangan yang indah. Ketika untuk kali pertama saya melihat guru, beliau muncul di pintu masuk, tak pelak merasa sangat gembira dari lubuk hati terdalam. Beliau terlihat begitu tampan dan ramah, sepertinya dipenuhi energi. Dalam sekejap saya menyadari ini merupakan sosok yang spesial. Hati saya dipenuhi suka cita,” katanya.

Terhadap isi ceramah guru, Spansong masih ingat dengan baik.

“Ketika guru membahas alam semesta dan kehidupan, saya merasa di dalam hati dipenuhi dengan harapan. Sebelumnya saya tidak mengetahui mengapa manusia hidup di bumi dan bagaimana menjadi seorang manusia yang baik. Guru mengajarkan kami bagaimana menjadi seorang manusia yang baik di dalam kehidupan dan mengapa harus menjadi orang baik. Hal ini kenapa begitu penting, apabila berharap memiliki sebuah masa depan yang baik, maka kami harus menjadi seorang manusia yang sangat baik. Guru memberitahu kami bahwa ‘sejati, baik dan sabar’ adalah kebenaran sejati yang tertinggi dari alam semesta, sesungguhnya, ia tertanam mendalam di kehidupan setiap insane,” katanya.

Sejak saat itu hal itu telah menjadi tujuan pelaksanaan olehnya. “Ketika Anda mempertahankan keramahan terhadap orang-orang di sekitar, permasalahan apapun dapat terjadi perubahan.”

Kala itu, nyeri punggung Spansong sudah berlangsung selama 2 tahun, karena kesibukan kerja, saking tegangnya dia tak dapat tidur nyenyak, nyeri punggung seperti itu, dokter pun tak dapat menemukan penyebabnya. Nyeri punggungnya itu nyaris lenyap dalam sekejap, kalau dibahas itu merupakan sebuah kejadian yang menakjubkan.  Dia mengenang.

“Di dalam kelas pelatihan, guru menyuruh kami memikirkan sebuah tempat di dalam tubuh yang selama ini terasa sakit, waktu itu saya pun terpikir tentang nyeri punggung. Guru membuat gerakan tangan shou yin yang indah, dalam sekejap saya merasakan seperti ada angin menembus tulang punggung saya, punggung saya sepertinya ada sesuatu yang telah diambil. Saya merasakan punggung ini telah memperoleh kemerdekaan, tiada lagi sakit, tiada lagi tekanan. Seketika itu saya merasa sangat terkejut!”

”Apa yang dikatakan oleh guru, saya percayai sepenuhnya. Karena apa yang dikatakannya sangat beralasan, mengenai alam semesta dan umat manusia ini. Saya merasakan energi Falun Dafa itu sangat kuat. Segenap peserta kelas belajar waktu itu merasakan seluruh badan mereka enteng.”

Dia mengatakan, setelah itu perubahan secara berangsur hinggap ke dirinya.

“Meskipun ada orang mencaci-maki saya tanpa alasan jelas, saya selalu dapat menjaga ketenangan. Saya telah belajar mendahulukan kepentingan orang lain. Ketika orang lain merugikan saya, kami tidak akan membalas.”

Spansong menyatakan, di dalam kehidupan setelah xiulian (修煉, dibaca: siu lien, berkultivasi / memperbaiki sifat, jiwa dan raga melalui pembelajaran dan pelaksanaan sejati-baik-sabar serta penempaan metode senam meditasi Falun Dafa) tentu masih bisa menemui permasalahan, hanya saja sudut pandang dan cara penyelesaian masalahnya sudah berbeda.

“Kami menerapkan empati, mencari permasalahan itu pada diri kami sendiri. Tatakala kami mengubah diri sendiri dari lubuk hati terdalam, permasalahan itu lantas dengan sendirinya terpecahkan. Apabila semua orang saling menghujat, hal ini tidak bakal bisa diselesaikan. Kami senantiasa mencari ke dalam,” katanya.

Mengenai para praktisi di Tiongkok yang tidak dapat berlatih dengan bebas, dia merasa sulit memahaminya. Dia mengatakan, “Di Swedia dan dimana saja di dunia, orang-orang boleh dengan bebas berkultivasi Falun Gong, hanya di daratan Tiongkok tidak diperbolehkan. Sebelum penindasan pada 1999, saya setiap tahun pergi ke Tiongkok, berlatih bersama para praktisi Tiongkok. Suatu kali di Dalian, ada puluhan ribu orang sedang berlatih bareng. Ketika itu asalkan kami pergi ke sebuah taman dan bertanya, yang berlatih Falun Gong ada dimana? Setiap orang dapat memberitahu kami. Karena semua orang tahu mengenai Falun Gong, banyak sekali orang yang berlatih. Kami menjumpai sangat banyak praktisi Falun Gong yang ramah dan santun.”

Dia menyatakan harus menuntut keadilan bagi Falun Gong di Tiongkok.

“Di Tiongkok, grup yang dikepalai oleh Jiang Zemin selalu menindas Falun Gong, terus menangkapi praktisi Falun Gong dan menindas dengan kejam. Untuk itu, kami tidak boleh diam. Semua orang Falun Gong sangat tenang dan damai, perlakuan tidak adil seperti ini yang dialami Falun Gong di Tiongkok terus akan kami katakan secara terbuka,” katanya.  (whs/rp)