[Erabaru.net] Masih ingat dengan kisah Mahendra yang lahir dengan miopati bawaan, yang membuat kepalanya terkulai, sehingga membuatnya tidak bisa melakukan apa-apa sendiri. Namun, dia telah mengikuti operasi yang mengubah hidupnya, sehingga dia bisa meluruskan lehernya. Tragisnya, anak 13 tahun ini meninggal delapan bulan setelah menjalani operasi. Namun dia telah memiliki waktu berharga yang singkat dan sempat melihat dunia dengan posisi tegak.

Mahendra Ahirwar, memiliki kisah yang luar biasa menyentuh hati, meninggal tragis tepat delapan bulan pasca menjalani operasi untuk meluruskan lehernya. Anak laki-laki berusia 13 tahun dari Madhya Pradesh, India ini, memiliki kepala yang terkulai sebesar 180 derajat dari kepala normal, karena menderita gangguan otot miopati bawaan.

Ibunya mengatakan dia baik-baik saja di pagi hari, tapi setelah makan siang sekitar pukul 15:00, dia terbatuk dua kali saat menonton TV. Setelah batuk ketiganya, tiba-tiba dia meninggal.

“Dokter datang dalam waktu 15 menit dan menyatakan dia sudah meninggal. Saya jatuh ke lantai dan memeluknya erat-erat. Saya tidak ingin membiarkan dia pergi,”kata ibunya, Sumitra yang merasa hancur karena kehilangan anaknya.

Mahendra Ahirwar, bocah 13 tahun ini memiliki kepala terkulai dengan sudut 180 derajat karena penyakit langka, yang membuat otot-ototnya lemah

(Foto : YouTube Screenshot |nollygrio)
(Foto : YouTube Screenshot |Apollo Hospitals)
(Foto : YouTube Screenshot |Apollo Rumah Sakit)

Pada bulan Februari 2016, Mahendra dirawat di Rumah Sakit Apollo di Chennai, untuk menjalani operasi lehernya, operasi tersebut dilakukan oleh Dr.  Rajagopalan Krishnan. Seluruh biaya operasinya ditanggung oleh Julie Jones, seorang ibu dua anak dari Liverpool, Inggris,  yang tergerak hatinya setelah melihat  film dokumenter, ‘The Boy Who Sees Upside Down’. Dia berhasil mengumpulkan 12.000 Pound Sterling  melalui situs pengumpulan dana untuk membantu pengobatan Mahendra.

Dia menjalani operasi sepuluh jam untuk meluruskan lehernya dengan memasang pelat logam setelah mencabut piringan sendi lehernya, dan menggantinya dengan cangkokan tulang dari panggul.

Mahendra dapat pulih dengan cepat setelah operasi dan merasa gembira untuk pergi ke sekolah untuk pertama kalinya, tentunya dengan mengenakan penyangga leher.

Dia akhirnya bisa melihat tegaknya dunia setelah menjalani operasi pelurusan leher

(Foto: YouTube Screenshot |Di luarSains)
(Foto: Twitter |Mahendra AhirwrFUND)
(Foto: YouTube Screenshot |Apollo Hospitals)

“Orang-orang mulai menerima saya lagi. Dulu saya merasa sedih dan kesepian karena tidak ada yang mau bermain dengan saya. Sekarang hal-hal telah berubah dan saya senang semua orang mau bermain dengan saya,” kata Mahendra, yang baru menikmati kebahagiaan ini dan memanfaatkan kesempatan istimewa bertemu wisatawan, serta mengunjungi kota lain untuk melakukan operasinya.

“Anak saya ditangani oleh dokter terbaik di negeri ini. Baginya, melihat kota yang berbeda seperti melihat dunia yang berbeda,”kata Sumitra.

Dia tidak bisa melakukan apa-apa sebelum operasi

(Foto: YouTube Screenshot |Apollo Rumah Sakit)

Sebelum operasi, dia tidak bisa berbuat apa-apa. Mirisnya, orang-orang di desanya percaya bahwa dia telah dikutuk. “Tidak ada kekuatan pada leher, tangan dan kaki saya. Saya tidak bisa berjalan, makan, atau mandi sendiri. Saya tidak bisa melakukan apa-apa,” katanya dalam film dokumenter.

Setelah operasi, dia mampu tersenyum lagi

(Foto: YouTube Screenshot |Apollo Hospitals)

Mahendra menghargai semua hadiah yang dia terima dan meletakkannya dekat dengan tempat tidurnya. Dia sangat senang bermain dengan mobil-mobilan. Dia senang melihat dunia tegak. Namun, kebahagiaan itu hanya sementara, bahkan semua orang terkejut dengan kepergiannya yang begitu mendadak.

“Rumah kami penuh dengan barang-barang miliknya. Tidak ada yang berpikir hari ini akan datang. Dia pasti akan baik-baik saja,” kata kakaknya, Manisha.

Dr. Rajagopalan Krishnan menjelaskan bahwa Mahendra adalah salah satu anak paling berani yang pernah dia temui

(Foto : YouTube Screenshot |Apollo Rumah Sakit)

Dr. Krishnan menjelaskan Mahendra sebagai salah satu anak paling berani yang dia temui. “Sukacita dan senyum yang tampak di wajahnya ketika kepalanya terkulai adalah salah satu momen yang membuat saya memutuskan untuk mengoperasinya,” katanya.

“Senyumnya lebih terang dari Matahari setelah lehernya diluruskan,” tambah Dr. Krishnan. Meskipun penyakit Mahendra membuatnya cemas, Dr. Krishnan mengatakan itu hal yang luar biasa bagi Mahendra untuk menjalani operasi semacam ini. “Walaupun saya pikir, pada akhirnya tetap saja penyakit miopati dan lemahnya otot dada terus menyerang Mahendra hingga kematiannya,” katanya.

Pasca kematian anaknya, sang Ibu, Sumitra mengatakan  “Dia punya begitu banyak rencana dan mimpi. Saya ingin dia tumbuh besar. Dia bermimpi ingin membuka toko klontong dan kami akan membantunya.”

Namun, rupanya Tuhan memiliki rencana lain. Orang tua Mahendra tidak mampu lagi membantu untuk mewujudkan impian anaknya tersebut. “Dia telah berada bersama Tuhan sekarang. Saya berharap dia bisa menemukan kedamaian. Dia telah memiliki kehidupan yang menyakitkan di dunia ini. Saya berharap dimanapun dia berada, dia akan bebas dari rasa sakit,” tambahnya.(NTDTV/Intan)

Sumitra,  Ibu  Mahendra

(Foto: YouTube Screenshot | Apollo Hospitals)
(Foto: YouTube Screenshot |Chuggington UK)

Share

Video Popular