Erabaru.net – Pada tahun 1928, Alexander Fleming menciptakan antibiotik yang pertama yakni penisilin, ketika itu mendapat pujian sebagai tonggak sejarah yang sangat penting dalam ilmu kedokteran.

Setelah antibiotik diedarkan, telah menciptakan banyak keajaiban di bidang ilmu kedokteran, membuat banyak sekali penyakit hilang tanpa jejak. Tapi pada saat ini, perkembangan bakteri yang kebal terhadap obat membuat orang berdebar-debar ketakutan.

Penyebab hilang dan muncul kembalinya Streptococcus A dari Scarlet fever itu justru adalah sebuah contoh tipikal klasik, di samping itu juga menunjukkan bahwa satu jenis kuman berhasil ditaklukkan dapat mendorong munculnya jenis bakteri yang lain.

Pada tahun ’60-an, Streptococcus A itu tampaknya hilang sama sekali. Tak terdapat Scarlet fever itu di negara Barat, tapi famili terdekatnya yakni Sterptocuccus B mulai bermunculan. Bayi yang baru lahir mudah sekali terjangkit bakteri dan sebagainya, hingga tahun 1980, telah menjadi penyebab kematian 75% dari bayi berusia di bawah dua bulan.

Bersamaan itu, bakteri Streptococcus A ini suka berada di tempat gelap, mengalami mutasi dan berkembang biak, sekali lagi pada akhir tahun ’80-an bermunculan dengan tiba-tiba. Toksin (racun) mematikan dari Streptococcus A yang baru dan syndrom shock karena keracunan, kebal terhadap segala obat-obatan yang ada kecuali penisilin dalam dosis besar.

Timbulnya bakteri yang kebal obat dalam jumlah yang besar itu, membuat peluang infeksi yang sulit disembuhkan serta infeksi dari bakteri penyebab penyakit semakin banyak. Dari sejarah perkembangan bakteri kebal obat itu bisa dilihat; setelah bermunculan suatu obat antibiotik yang baru, maka bermunculan pula sekelompok bakteri kebal obat.

Untuk mengembangkan sejenis antibiotik yang baru pun umumnya butuh waktu berkisar sepuluh tahun, tapi generasi baru bagi bakteri kebal obat umumnya butuh waktu hanya dua tahun saja, kecepatan penelitian serta pembuatan obat tersebut jauh ketinggalan dari kecepatan perkembangbiakan bakteri tadi.

Manusia tidak mungkin tidak khawatir dalam waktu dekat ini, akan muncul sejenis kuman yang tahan terhadap segala obat antibiotik yang ada, dengan kata lain, manusia akan berada kembali ke zaman tanpa antibiotik.

Dalam panggung adu kekuatan antara manusia dan bakteri ini, semakin banyak tenaga manusia yang ikut serta, namun manusia selalu kalah perang dalam setiap kali ‘peperangan’. Maklum seorang profesor dari Universitas Kolombia berkata dengan sedih; ”Kuman jauh lebih pintar daripada manusia”.

Dalam ilmu kedokteran manusia seakan telah mengetahui, betapapun dan dengan cara apa pun masalah umat manusia akan dipecahkan, tampaknya tidak dapat mengatasi persoalan yang paling hakiki.

Begitu tumor diangkat, sel kanker pun berpindah ke bagian tubuh yang lain; obat yang satu berhasil mengurangi penderitaan yang disebabkan oleh penyakit ini, namun timbul lagi radang atau reaksi hilangnya keseimbangan pada bagian tubuh yang lain.

Terapi radiasi membunuh sel kanker, bersamaan juga membunuh sel yang sehat, akhirnya Anda pun tetap harus mengalami penderitaan yang sama. Tidak heran seorang dokter dari Rumah Sakit Marie pernah berkata; menjaga kehidupan yang sehat adalah metode terapi yang paling baik. (epochtimes/asr)

Share

Video Popular