Oleh: Cheng Xiaorong

Erabaru.net. Umat manusia pada abad ke-20, telah menyaksikan peperangan dan guncangan yang amat mengerikan. Dua kali perang dunia (kesatu dan kedua) masing-masing telah merenggut nyawa 17 juta dan 70 juta jiwa tentara dan rakyat jelata.

Dalam medan perang, pembantaian, penganiayaan, wabah penyakit, kelaparan dan lain-lain alasan, mengakibatkan kehidupan yang amat besar jumlahnya secara mendadak atau perlahan-lahan telah lenyap dari bumi.

Asap peperangan telah sirna. Pasca Pengadilan Nuremberg, banyak penjahat perang dikirim ke atas tiang gantungan atau menjalani hukuman di dalam penjara, keadilan pun telah ditegakkan.

Dunia sepertinya telah kembali pada kondisi aman-tentram, dan perlahan-lahan memperbaiki bekas luka dari malapetaka perang. Selama 70 tahun lebih, berbagai renungan terhadap perang, penyingkapan dan kutukan terhadap kekejaman Nazi belum pernah berhenti.

Para peneliti, sastrawan dan seniman berangsur-angsur telah menerbitkan ribuan buku serta karya televisi dan film dalam jumlah besar, dari berbagai sudut pandang berbeda telah mencatat kegelapan sejarah itu.

Kamp Auschwitz telah dibuka untuk umum, museum memperingati holocaust telah bediri di Israel, Amerika Serikat dan kota Berlin, Jerman, telah mengungkap teror ekstrem genosida.

Kamar penjara yang menyeramkan dan kawat berduri, senantiasa memberi peringatan kepada masyarakat bahwa tindakan kejahatan terkutuk, selamanya tidak boleh terulang lagi.

Kini, kata “Nazi” sudah beken makna buruknya dan menjadi kata sinonim bagi kejahatan dan kekejaman.  Mempropagandakan atau menyetujui Nazisme dalam bentuk apapun, akan membuat orang terkejut dan tidak dapat menerima.

Namun dibawah sorotan sinar mentari dan apa yang disebut masa damai sekarang ini, justeru masih terdapat sejenis kejahatan yang lebih sadis yang masih merajarela dan terus berubah wajah. Para pencipta kejahatan dan sang tiran yang telah membunuh orang yang jumlahnya tak terhitung, bahkan masih terus dihormati dan dipuja.

Teori jahatnya masih melalui buku pelajaran sekolah dan berbagai media propaganda melakukan indoktrinasi kepada ratusan juta orang. Pembunuhan masih terus berlangsung, pemberangusan merupakan hak paten sang totaliter, itu sebabnya tetap berdiam dan menutup mata terhadap hal tersebut, merupakan penodaan terhadap jiwa dan martabat, sekaligus tidak menghormati para arwah korban mereka.

Manusia yang Dibunuh Partai Komunis Jauh Lebih Banyak dari Nazi

Nazi telah membunuh secara keji kaum Yahudi sebanyak 6 juta orang, 3,3 juta tawanan perang Soviet dan 1,1 juta orang buangan meninggal didalam kamp Nazi, serta ratusan orang Jipsi ditambah 15 juta orang yang tewas dalam medan perang. Jumlah korban keseluruhan diperkirakan mencapai 25 juta orang.

Dalam satu abad ini, dibandingkan Nazi, komunisme telah membunuh berapa banyak kehidupan?

Menurut data statistik “Buku Hitam Komunisme”, pada abad ke-20, korban meninggal dalam revolusi komunisme seluruh dunia, hampir mencapai 100 juta orang, diantaranya Soviet sebanyak 20 juta orang, RRT 65 juta orang, Vietnam 1 juta orang, Korea Utara 2 juta orang, Kamboja 2 juta orang, Eropa Timur 1 juta orang, Amerika Latin 150 ribu orang, Afrika 1,7 juta orang, Afganistan 1,5 juta orang, sebanyak 10 ribu orang meninggal dinegara yang tidak dikuasai oleh gerakan komunisme.

Banyak ilmuwan berpendapat, angka yang tertera diatas jelas lebih rendah dari angka meninggal sesungguhnya, misalnya di RRT sedikitnya ada 80 juta orang meniggal.

Pada 1948, penerbitan “Manifesto Komunis” telah menandakan lahirnya komunisme. Komunisme berawal dari organisasi geng yang pada hakekatnya menganut kepercayaan agama iblis. Sebuah makluk halus mulai melayang di Eropa dan berbagai daerah didunia, menyebarkan racun yang paling jahat.

Ajaran Komunisme dengan sengaja memperbesar perselisihan antara orang-orang diberbagai lapisan masyarakat yang berbeda, berpegang pada teori pelenyapan kelas, menyebarkan pertarungan kelas dengan kekerasan, sehingga Marx mendapat julukan sebagai nenek moyang politik modern pelenyapan ras.

Marx pernah menulis, ”Jika kelas dan ras terlalu lemah, tidak memiliki kesempatan menyesuaikan syarat hidup baru, harus memberi jalan kepada orang lain, jika tidak, mereka pasti akan “dilenyapkan oleh pembunuhan besar revolusi.”

1. Perlakuan Kekerasan Partai Komunis Soviet (PKS)

Pada 1917 PKS berhasil merebut kekuasaan, mendirikan sebuah kekuasaan komunis pertama di dunia, sehingga dapat mempraktikkan Marxisme, bersamaan itu juga mengawali sejarah pembunuhan oleh tirani komunis.

Vladimir Bukovsky,  aktivis pembangkang bekas Uni Soviet mengatakan,  “Setelah komunis berkuasa di Rusia, Polandia, Kuba, Nikaragua maupun RRT, pertama-tama  mereka pasti akan membasmi 1/10 penduduk dalam negerinya, bertujuan membangun kembali stuktur sosial.”

Kemudian dilanjutkan pembasmian terhadap berbagai kelompok tertentu, di Uni Soviet, orang-orang tersebut meliputi pastor, petani, kaum intelektual, pedagang dan beberapa etnis minoritas, misalnya orang Ukraina, orang Chechnya, orang Yahudi dan lain-lain.

Setelah Lenin berkuasa, langsung melaksanakan penguasaan terror, sejak 1918 hingga 2/1922 telah membunuh tidak kurang dari 2 juta orang. Lenin pernah mengatakan, “Setiap 10 orang yang bersalah melakukan aksi kerja lambat, satu orang diantaranya dihukum tembak mati ditempat. Paling sedikit menangkap 100 petani kaya, setelah dihukum mati, jasadnya digantung disana, supaya orang yang berada dalam radius beberapa ratus mil disekitarnya dapat menyaksikan dan gemetar ketakutan.”

Setelah Stalin naik tahta, dimulailah pembersihan secara besar-besaran yang membuat orang ketakutan. Dari pemerintahan hingga militer, lebih dari separo anggota partai ditangkap dan dibasmi. Para petinggi militer dari marsekal, pemimpin grup tentara tingkat -1 dan tingkat -2, hingga komandan korps tentara dan komandan Divisi. Setiap tingkat pimpinan yang dihukum mati lebih dari 60%, bahkan ada yang mencapai 100%.

Dibawah masa penguasaan Stalin, masih terjadi kelaparan berskala besar atas ulah manusia, mengakibatkan lebih dari 8 juta orang mati kelaparan.

Pada 1930, Uni Soviet telah mendirikan “Gulag” (Pesat Administrasi Kerja Paksa), sebelum Stalin meninggal dunia, seluruh Uni Soviet terdapat 170 kamp kerja paksa, tersebar diseluruh daerah hingga pelosok.

Menurut data statistik, dari 1930 hingga 1940, berhubung kondisi kamp sangat jelek, pekerjaan terlampau berat, kelaparan dan menghadapi perlakuan yang sangat tidak menusiawi, sehingga lebih dari 500 ribu tahanan meninggal dunia, termasuk banyak penyair, pengarang, kaum sarjana, ilmuwan dan seniman.

Kamp kerja paksa Uni Soviet kemudian menjadi contoh negara sosialis lainnya, bahkan Hitler mengirim  Gestapo ke Soviet , meninjau dan belajar pengalaman dalam mendirikan kamp.

Menurut perkiraan Yakovlev, anggota politbiro bekas Uni Soviet, jumlah orang yang meninggal dibawah tirani Stalin diperkirakan mencapai 20 juta orang. (whs/rp)

BERSAMBUNG

Share

Video Popular