Erabaru.net – Tidak sampai separuh dari jumlah perokok yang berhenti merokok setelah mengalami serangan jantung yang pertama kali, demikian menurut sebuah survei di Eropa. Satu di antara lima perokok terus merokok tanpa menghiraukan anjuran dari dokternya untuk berhenti merokok.

Memang sulit dipercaya bahwa banyak orang tetap merokok setelah kejadian yang mengancam jiwanya di mana rokok adalah faktor pencetus utama, demikian pernyataan dr. Wilma Scholte op Reimer. Ia heran apakah mereka “benar-benar sadar akan risiko yang ditanggung”. Yang jelas, masih diperlukan peningkatan yang efektif atas program berhenti merokok, demikian catatan yang dibuat bersama rekan-rekannya dalam jurnal kesehatan Eropa.

Dalam survei itu, para peneliti mewawancarai 5.551 penderita jantung di 47 rumah sakit di 15 negara Eropa lebih dari satu tahun. Para responden pernah mengalami serangan jantung yang mengakibatkan mereka dirawat di rumah sakit, seperti serangan jantung mendadak, atau sejenis sakit pada dada yang makin parah yang disebut unstable angina, serta harus menjalani bedah bypass jantung, dan balloon angioplasty (untuk penyumbatan arteri),

Pewancara menanyakan pada responden apakah mereka telah merokok pada 30 hari sebelum masuk rumah sakit dan apakah mereka sekarang masih merokok. Bagi mereka yang mengaku tidak merokok dicek kandungan karbon monoksida melalui tes pernafasan, hanya untuk memastikan.

Scholte op Reimer, dari Pusat Medis Erasmus di Rotterdam, dan rekannya melaporkan bahwa hampir seperempat (21%) dari 5.551 responden masih merokok setelah mendapat serangan jantung.

Hampir seluruh (99%) dari 2.244 orang yang merokok sebelum mendapat serangan jantung, telah mendapat anjuran berhenti merokok dari dokter mereka, namun hanya 48% yang benar-benar berhenti.

Perokok di bawah usia 50 tahun lebih tidak berminat berhenti merokok daripada perokok yang lebih tua. Mereka yang menderita angina (sakit pada dada) juga lebih tidak berminat berhenti merokok daripada mereka yang mendapat serangan jantung.

Penemuan lebih lanjut ini amat memprihatinkan, lanjut Scholte op Reimer, karena menandakan bahwa penderita sakit dada mungkin tidak menyadari bahwa mereka memiliki risiko tinggi mendapat serangan jantung. Faktanya, risiko kematian untuk jangka panjang dari penderita sakit dada adalah sama dengan penderita serangan jantung.

“Mungkin hal ini perlu diklarifikasikan lebih jelas kepada penderita sakit dada”, ujar Scholte of Reimer.

“Berhenti merokok amat penting bagi penderita penyakit jantung koroner (CHD-coronary heart disease) karena mereka yang tidak pernah merokok lagi dalam 2-3 tahun mengalami penurunan risiko serangan,” ujar Scholte.

Menurutnya, mereka yang tidak mengalami gejala apa-apa memerlukan waktu hingga 10 tahun agar risiko turun ke tingkat non-perokok. Hal ini menunjukkan bahwa apa yang akan didapatkan seorang pasien dari berhenti merokok, hasilnya bisa melebihi dari biaya pengobatan yang harus dijalaninya bila terserang kembali. (Epochtimes/asr)

Share

Video Popular