Erabaru.net – Hanya memanfaatkan sampah tulang ikan, sejumlah mahakarya dihasilkan yang bernilai jutaan rupiah. Hasil karya kerajinan tangan ini dipesan hingga pihak luar negeri dikarenakan tingginya nilai kreatif dan seni yang dimiliki mahakarya ini.

Ya, semua benda-benda mahakarya ini berasal dari tulang ikan yang mana diketahui, hanyalah sisa panganan untuk dibuang setelah disantap atau diolah dagingnya. Namun demikian, siapa sangka sisa-sisa ikan ini bisa menghasilkan pundi-pundi uang berkat kreativitas.

Miniatur burung elang dari tulang dan sisik ikan (Erabaru.net)

Inilah dilakukan Taryana yang tinggal di kompleks Pengolahan Hasil Perikanan Tradisional (PHPT) pengasinan, Muara Angke, Pluit, Penjaringan, Jakarta Utara ini. Sudah 13 tahun, dia menggeluti kemahirannya ini dalam mengolah sisa-sisa tulang ikan.

Miniatur elang dari tulang ikan (Erabaru.net)

Sebelumnya, segala macam miniatur termasuk lukisan sudah digelutinya sejak 1995 silam. Hingga kemudian pada suatu saat terpikirkan untuk membuat minatur dari tulang ikan. Sejumlah mahakarya lainnya seperti dari kertas, rumput dan pisang sudah digelutinya hingga pernah memberikan kursus bagi peserta luar negeri.

Hasil karya yang terbuat dari tulang ikan (Erabaru.net)

Taryana menceritakan bermula pembuatan mahakarya yang menghasilkan berbagai kerajinan seperti dari rumput, maka kemudian terpikirkan untuk membuat sesuatu yang lebih berbeda dari lainnya. Bersamaan adanya tempat produksi pangan ternak dari ikan maka kemudian terpikirkan untuk memanfaatkan sisa-sisa tulang ikan itu.

Taryana dengan karyanya membuat naga dari tulang ikan (Erabaru.net)

“Awalnya, kita sering melatih orang, lalu saya harus punya ide lagi akhirnya diambil dari tulang ikan, karena ada produksi pangan ternak lalu kita olah limbahnya, sementara kita pilih tulang yang memang bagus, bagaimana caranya kita bisa kreatif,” kata Taryana saat berbincang dengan Erabaru.net, Minggu (21/5/2017).

Misalnya ketika membuat miniatur naga, Taryana menuturkan dibutuhkan hingga 10 kilo tulang ikan ditambah dengan pola miniatur hingga secara total berat minatur mencapai sekitar 15 Kg. Pembuatan miniatur ini terdiri berbagai kombinasi tulang termasuk menyediakan tulang untuk membuat bagian sayap dan kaki.

Taryana dengan karyanya dari sisa-sisa tulang ikan (Erabaru.net)

Sedangkan untuk kebutuhan sisik ikan juga dimanfaatkan untuk menyempurnakan pembuatan miniatur ini agar lebih kaya pada wujudnya. Adapun waktu yang dibutuhkan oleh Taryana  untuk membuatnya dibutuhkan hingga 10 hingga 15 hari sesuai tingkat kesulitan masing-masing bentuk miniatur. Selanjutnya dijual dengan kisaran harga hingga Rp 3 juta rupiah per satuan.

“Kalau paling besar 15 hari membuatnya, kalau yang kecil-kecil ini paling 10 hari,” ungkap Taryana saat bazar di Waduk Pluit bersamaan pencanangan HUT ke-490 Pemprov DKI Jakarta.  (asr)

Share

Video Popular