Erabaru.net – Badan Narkotika Nasional (BNN) bekerjasama dengan Polis Diraja Malaysia (PDRM) berhasil mengungkap jaringan sindikat narkotika internasional Malaysia-Aceh dan Medan, barang bukti sabu seberat 25 kg. Barang tersebut diseludupkan lewat kotak pendingin ikan yang disamarkan dengan bungkus plastik teh Tiongkok.

“Ini modus baru untuk mengelabui petugas di lapangan seolah-olah pengiriman ikan,” kata Kepala BNN, Komjen Budi Waseso dalam jumpa pers di Kantor BNN, Cawang, Jakarta Timur, Senin (22/5/2017).

Menurut Budi, upaya yang dilakukan sindikat ini merupakan pengungkapan jaringan narkotika internasional yang melibatkan pelaku dikendalikan dari dalam penjara. Modus operandinya, berusaha mengelabui petugas di lapangan sehingga seolah-olah pengiriman ikan dengan meletakkan bungkusan sabu dikemas teh biasa dan di atasnya ditaruh ikan serta es batu.

Komjen Budi Waseso saat jumpa pers didampingi oleh Deputi Pemberantasan Badan Narkotika Nasional (BNN) Irjen Arman Depari dan Kabag Humas BNN Kombes Sulistriandriatmoko di kantor BNN, Cawang, Jakarta Timur, Senin 22 Mei 2017 (Foto : M.Asari/Erabaru.net)

Apa yang dilakukan sindikat ini, kata Budi, aparat di lapangan akan melihat bahwa cara ini murni pengiriman ikan. Patut dicurigai tak menutup kemungkinan cara ini dilakukan terus menerus yang dianggap aman, Meski demikian, berkat kejelian petugas di lapangan maka sabu-sabu itu terdeteksi oleh petugas.

Setelah berhasil diungkap, petugas melakukan pengembangan di lapangan sehingga berhasil menangkap dua pelaku yangn terdiri sebagai kurir. Awalnya,  petugas mengamankan SU (38) dan WA (35) di Jalan Gatot Subroto, Sumatera Utara. Selain itu petugas juga mengamankan pelaku lainnya yaitu AM (30) di rumah kos  di Jalan Sei Bilah No.12 Babura Sunggal Medan, Sumatera Utara.

Sabu yang dikemas dengan bungkusan teh yang berhasil diamankan petugas sebagai barang bukti (Erabaru.net)

Selanjutnya berdasarkan keterangan SU dan WA, keduanya dikendalikan oleh dua napi LP Tanjung Gusta yaitu Togiman alias Toge dan Thomson Hutabarat. Petugas BNN selanjutnya menjemput kedua napi itu untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut.

Track recordnya Toge ini luar biasa, kasus bulan April lalu putusannya hukuman mati,” kata Buwas.

Rekam jejak Toge diawali pada tahun 2005, Toge terlibat dalam kasus sabu seberat 6 gram dan divonis 1 tahun 5 bulan. Pada tahun 2007, ia terlibat dalam kepemilikan pil ekstasi sebanyak 7 butir dan divonis empat tahun. Pada tahun 2010, ia kembali ditangkap atas kasus ekstasi sebanyak 2 ribu butir dan mendapat vonis 10 tahun penjara dan ia jalani di Lapas Tanjung Gusta.

Kotak pendingin ikan yang berhasil diamankan oleh petugas (Erabaru.net)

Pada 1 April 2016, Toge berurusan dengan BNN karena terlibat dalam kasus sabu seberat 21 Kg dan Pil ekstasi sebanyak 44.849 butir dan Pil Erimin 5 (h5) sebanyak 591 papan atau sejumlah 53.910 butir dan 5 KETALAR Ketamin HCL seberat @50 ml per botol. Atas perbuatannya ia mendapatkan Vonis Pidana Mati yang ia dijalani di lapas Tanjung Gusta Medan.

Selama di dalam Lapas Tanjung Gusta Medan Toge masih melakukan transaksi Narkotika dan mengendalikan peredarannya dari dalam lapas beberapa kali yaitu pada Maret, April dan Mei 2017. Pada 14 Mei 2017 BNN ia diamankan karena kembali mengendalikan peredaran sabu seberat 25 kg yang dikirim dari Malaysia lalu masuk Aceh dan berakhir di Medan.

Kasus narkotika yang menjerat  Toge terus dikembangkan ke ranah Tindak Pidana Pencucian Uang. Adapun Modus Operandinya adalah dengan menggunakan rekening atas nama JTI  dan berhasil disita sejumlah uang  Rp 8  Milyar dan Rp 2,3 Milyar yang disita dari IL.

Atas perbuatan kelima tersangka di ancam Pasal 114 ayat(2) Junto Pasal 132 ayat(1) Subsider Pasal 112 ayat (2) Junto Pasal 132 ayat(1) Undang Undang Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika. Pengungkapan sabu seberat 25 kg ini setidaknya menyelamatkan lebih dari 125 ribu anak bangsa dari penyalahgunaan narkotika. (asr)

Share

Video Popular