Erabaru.net.  Beberapa jam setelah Kementerian Unifikasi Korea Selatan mengumumkan kesediaannya untuk mengaktifkan kembali dialog Utara-Selatan, presiden Korea Selatan yang baru dilantik menjadi presiden pada pekan lalu memperingatkan, bahwa konflik antar Korea sangat tinggi, dan menegaskan tidak akan mentoleransi provokasi dan ancaman nuklir Korea Utara.

Melansir laman Reuters, Moon Jae-in mencoba mengambil kebijakan dua jalur terhadap Korea Utara berupa sanksi sekaligus dialog. Juru bicara Kementerian Unifikasi Korea Selatan Lee Duk-haeng mengatakan kepada awak media, sikap pemerintah yang paling mendasar adalah jalur komunikasi antara Korea Selatan dan Korea Utara harus dibuka kembali.

Korea Utara mengabaikan peringatan dan sanksi internasional, Korea Utara juga tidak merahasiakan fakta bahwa pihaknya sedang berupaya mengembangkan rudal bertipe nuklir yang mampu menyerang daratan Amerika Serikat. Seperti diketahui, Korut kembali menembakkan misil balistiknya pada Minggu pagi (14/5/2017) waktu setempat.

“Saya tidak akan mentoleransi provokasi dan ancaman nuklir Korut. Kami hidup di tengah keadaan dengan potensi tinggi bentrokan militer,” ucap Moon saat mengunjungi Kementerian Pertahanan, Rabu (17/5).

Dalam lawatannya itu, Moon juga memerintahkan kemenhan mengadopsi pertahanan ketat yang dia sebut “postur pertahanan kedap air,” mempersiapkan diri jika bentrokan militer sewaktu-waktu terjadi.

“Kenyataannya adalah tingginya konflik militer di Garis Batas Garis Batas Utara (NLL) dan garis demarkasi militer (MDL),” kata Moon Jao-in.

Dia juga mengatakan bahwa nuklir dan rudal Korea Utara baru-baru ini tampaknya mengalami kemajuan pesat, tetapi Korea Selatan telah siap memukul balik jika Korea Utara menyerang.

Moon Jae-in menekankan pendekatan yang lebih bersifat mendamaikan dengan mengutamakan dialog dan rekonsiliasi dengan Korut.  Ia menegaskan, bahwa dialog antara Seoul dan Pyongyang akan terjadi hanya jika rezim Kim Jong-un mengubah “perilaku nakalnya” terkait program nuklir Korut.

Sementara itu, presiden Trump juga memperingatkan, bahwa ada kemungkinan terjadi konflik berskala besar dengan Korea Utara. Armada kapal perang dan kapal induk Carl Vinson saat ini sedang latihan militer gabungan bersama Korea Selatan dan Jepang di perairan dekat Semenanjung Korea. Dan kapal induk Ronald Reagan yang baru diperbaiki beberapa waktu lalu juga telah diberangkatkan ke Semenanjung Korea untuk misi yang sama. (Lin Shi Yuan/Jhony/rp)

Sumber: Epochtimes

Share

Video Popular