Erabaru.net. Kecintaan Tiongkok terhadap software bajakan baru saja dihancurkan oleh program ransomware terbaru yang dikenal dengan nama “WannaCry.”

Tiongkok adalah salah satu negara yang terkena dampak paling parah oleh program ransomware yang mulai menyebar pada 12 Mei 2017 lalu. Serangan cyber pemerasan global terbaru ini menimpa 230.000 komputer di 99 negara hanya dalam satu hari.

Zhu Huanjie, yang sedang mempelajari teknik jaringan di kota Hangzhou, percaya bahwa ada beberapa alasan mengapa Tiongkok sangat terpengaruh oleh program virus komputer tersebut, seperti kurangnya keamanan jaringan internet. Namun, dia juga mengatakan adanya faktor penggunaan software bajakan.

Banyak pengguna software versi bajakan tidak mengupdate software mereka untuk mendapatkan fitur keselamatan terbaru. Hal ini disebabkan kekhawatiran terkait data-data mereka yang tersimpan di komputer akan rusak atau terkunci, bahkan dapat hilang jika mereka melakukan update.

Huanjie mengatakan dalam sebuah pernyataan: “Sebagian besar sekolah menggunakan perangkat lunak bajakan, termasuk sistem operasi dan perangkat lunak profesional. Di Tiongkok, Sistem Operasi Windows yang digunakan kebanyakan orang juga masih bajakan. Begitulah kenyataannya.”

Pusat Tanggap Darurat Jaringan Komputer Nasional Tiongkok mengkonfirmasi bahwa hingga 14 Mei 2017, setengah dari IP yang terinfeksi berada di Tiongkok. Tiga puluh ribu institusi telah terpengaruh oleh serangan tersebut, mencakup universitas, pos pemeriksaan imigrasi, dan pom bensin.

Virus ini sepertinya hendak mengeksploitasi celah “Eternal Blue“, yang dikembangkan oleh Badan Keamanan Nasional AS (NSA). Virus ini menyerang komputer yang menjalankan sistem operasi Microsoft Windows, yang terhubung ke Internet melalui port 445 (port untuk protokol sharing dokumen).

Ransomware “WannaCry” mengunci pengguna dari komputer mereka sendiri dengan mengenkripsi data dokumen mereka yang tersimpan dalam komputer tersebut. Kemudian meminta pengguna untuk membayar uang di Bitcoin sebagai ganti untuk mengembalikan data mereka. Hanya sistem operasi yang belum memperbaharui keamanan komputer yang rentan terhadap serangan tersebut.

Meski mayoritas penyedia layanan internet di Tiongkok sudah memblokir port 445 (untuk menghindari potensi serangan virus secara masif), ternyata masih banyak institusi layanan publik yang belum memblokir port 445.

Universitas di seluruh negeri, termasuk Universitas Shandong, Qinghua, Beida, dan Shanghai Jiaotong, termasuk institusi yang paling parah terkena dampaknya, yaitu terenkripsinya sejumlah besar tesis dan proyek penelitian disana oleh virus ransome “WannaCry,” di mana mereka kemudian harus melakukan pembayaran uang tebusan agar data mereka dapat kembali.

Media setempat melaporkan bahwa: Sejak 13 Mei pukul 20:00, ada 29.372 organisasi dengan ratusan ribu komputer terinfeksi; termasuk 4341 lembaga pendidikan dan penelitian … “

Beijing telah mengizinkan penggunaan ekstensif perangkat lunak ilegal meskipun berulang kali berjanji untuk menindak. Tiongkok terus mengabaikan peringatan oleh kelompok industri sehingga membiarkan dirinya terbuka terhadap serangan cyber berbahaya. Hampir seluruh institusi dan perusahaan Tiongkok memiliki 70 persen komputer yang menjalankan perangkat lunak ilegal, menduduki peringkat tertinggi di antara negara-negara besar.

Ilmuwan dari Symantec dan Kaspersky Lab telah menemukan kesamaan antara “WannaCry” dan serangan sebelumnya yang kemungkinan pernah dilakukan di Korea Utara. Namun, belum ada bukti yang meyakinkan.

Yang harus Anda ketahui secara luas, bahwa Korea Utara kerap melatih penjahat cyber  di sekolah-sekolah. Jika demikian, haruskah kita berhenti meremehkan Korea Utara dan bekerja sama untuk menanggapi ancaman cyber dari Korea Utara?

Langkah awal yang baik yang dapat dilakukan Tiongkok adalah dengan menutup akses internet dari dan ke Korea Utara.

Isu pembajakan perangkat lunak kurang menjadi fokus pemerintah Tiongkok sejak peristiwa bocornya rencana pembajakan oleh mantan kontraktor intelijen Edward J. Snowden. Bocoran rencana upaya hacking Amerika tersebut ditujukan untuk memantau upaya peningkatan militer Tiongkok. Hal ini justru menyebabkan Beijing lebih fokus untuk mempercepat pengembangan perangkat lunak dan perangkat keras bermerek Tiongkok yang lebih sulit dibajak oleh orang luar Tiongkok.

Satu hal yang pasti, jika mereka yang berada di balik serangan ransomware berhasil mendapatkan keuntungan dari hacking, mereka berhasil melakukan sesuatu yang tidak dapat dilakukan Microsoft! Dan pastinya, hasil uang yang didapat mayoritas berasal dari Windows bajakan di Tiongkok. (jul/rp)

Sumber: visiontimes.com

Share

Video Popular