Erabaru.net – Dahulu kala, di bawah sebuah kolam yang sangat dalam, tinggallah seekor ikan kecil bernama Lili. Dia sangat pemalu, namun suka bermain bersama dengan teman-teman.

Suatu hari, Lili menjadi tidak gembira, sebab ia mendengar bahwa di atas kolam yang ditempatinya itu, ada sebuah dunia yang menakjubkan. Konon katanya, bahwa di dunia itu ada cahaya terang yang berkilauan, angkasa nan biru selalu membentang hingga ke kaki langit di ujung sana.

Ingin sekali rasanya Lili pergi melihat-lihat cahaya yang indah itu. Namun, bagaimana caranya agar ia bisa sampai ke atas permukaan kolam yang dalam dan gelap gulita itu? Temannya mulai mengejeknya: “Ha, Lili datang lagi, atau sedang bermimpi.”

Mereka semua membujuknya agar jangan memimpikan dunia yang lain lagi, “Lili, di sini barulah rumahmu. Mengapa mesti mencari di tempat lain? “Mereka memang tidak bisa memahami dirinya. Seekor ikan yang paling… paling nakal bernama Lei-lei dengan suara keras menertawakannya, bahkan memberitahu kepada sejumlah besar ikan lain untuk mengejek dan mencacinya.

Meskipun Lei-lei tidak begitu baik terhadap Lili, namun Lili tidak marah atau benci pada Lei-lei, sebab beberapa bulan yang lalu ia baru saja kehilangan ayah tercintanya, dipancing oleh nelayan. Ia juga tahu, bahwa tidak semua makhluk selalu memimpikan hal yang sama. Namun, jauh di dalam lubuk hatinya tetap dipenuhi dengan impian.

Suatu hari, ketika Lili sedang bermimpi di siang bolong, paman Luwei datang. Dia berkata, “Apa kabar Lili.” Tiba-tiba mata Lili dipenuhi dengan air mata.

“Sayang, kenapa kamu menangis? Maukah memberitahu pada saya apa yang telah terjadi?”

Lili mengangkat wajahnya dan memandangi paman Luwei. Dia adalah yang paling tua dan paling pintar dalam kolam itu. Sambil meneteskan air mata, Lili memberitahu pada Paman Luwei kesedihan hatinya.

Paman Luwei mengatakan, “Lili sayang, kamu mempunyai sebuah hati yang telah tumbuh dewasa, ia ingin membawamu pergi melihat sesuatu yang lebih hebat. Meskipun matamu tidak bisa melihat, namun hatimu sedang mencari pemandangan yang tidak ada di dalam kolammu ini. Sekarang, saya mau pergi. Saya akan menjengukmu lagi saat saya kembali.”

Tidak lama kemudian, Lei-lei berkelabat dari samping Lili. Lili tahu persis ia sangat marah. Sengaja ia mencampur aduk pasir di dalam kolam, air menjadi semakin keruh.

Tepat di saat Lei-lei sedang sibuk-sibuknya mengaduk dengan lumpur, tiba-tiba ekornya terjepit batu besar. Ia menggeliat dan meloncat, namun biar bagaimanapun ia meronta tetap tidak berhasil melepaskkan diri, Lei-lei berteriak nyaring, ”Tolong! Tolong!”

Lili mendengar suara teriakannya, ”Cepat tolong aku!” Rasa-rasanya tidak ada orang lain lagi di sekelilingnya.

Lili berpaling, melihat temannya yaitu sang kura-kura bernama Duo-duo berada di tempat yang tidak jauh. Lili lalu berteriak dengan sekuat tenaga, ”Duo-duo!”

Duo-duo berenang menghampiri. Lili berkata, ”Gembira melihatmu, Duo-duo. Lei-lei terjepit batu besar. Saya tidak tahu, apakah ada orang lain yang bisa mendengar suara teriakan saya.”

Duo-duo adalah seorang teman yang jujur dan seeekor kura-kura yang pendiam. Ia segera menuju ke tempat Lei-lei berada dan melihat apakah bisa dibantu atau tidak.

Ia berenang di belakang Lei-lei, dan dengan sekuat tenaga berusaha mendorong batu itu. Ia menahan batu dengan punggung kerasnya, terus menahan, menahan dan menahan, ketika jepitan batunya agak longgar, Lei-lei bergegas menarik dan mengeluarkan ekornya.

Lei-lei berkata, ”Duo-duo, terima kasih banyak. Jika bukan karena kamu dan Lili, saya pasti akan terjepit di sana semalaman.”

Duo-duo mengatakan, ”Tidak apa-apa. Saya sangat senang bisa sedikit membantu. Tetapi, saya rasa kamu sepantasnya minta maaf pada Lili. Dulu kamu benar-benar sangat tidak baik terhadapnya.”

Duo-duo memang benar. Lei-lei berenang ke samping Lili, dan minta maaf atas sikapnya di masa lalu. “Lili, saya benar-benar minta maaf! Saya mengejekmu, mencacimu, tetapi kamu tidak pernah membalasnya, bahkan hari ini telah menyelamatkan nyawa saya. Bagaimana saya baru bisa membalas budimu?”

Lili menatapi mata Lei-lei, dan mengetahui yang diucapkannya adalah kata-katanya yang tulus. “Lei-lei, saya selalu percaya kamu mempunyai sebuah hati yang baik, dan kini, kamu sendiri telah membuktikannya. Kita menjadi sahabat baik, oke?”

Lei-lei tersenyum mengatakan, “Lili, jika kamu benar-benar bisa memaafkan aku, aku ingin sekali menjadi sahabatmu.”

Lumpur dan tanah becek dalam kolam mengendap, dan juga banyak lumpur yang jatuh dari sisik Lei-lei. Tiba-tiba Lili sepertinya menemukan sesuatu.

“Lei-lei, dulu tidak pernah saya perhatikan, ternyata kamu adalah seekor ikan! Lumpur di badanmu telah jatuh, dan wajahmu yang sesungguhnya telah menampakkan diri!”

Lili benar-benar tidak bisa percaya dengan penglihatan matanya. Dengan malu-malu Lei-lei berdiri, dan bergegas mengatakan, ”Terima kasih! Sampai jumpa!” Lantas berenang kembali meninggalkan tempat itu. Ia tahu, adalah Lili yang telah menyadarkan maksud baik di dalam hatinya itu.

Beberapa waktu kemudian, Paman Luwei telah kembali. Lili memberitahu padanya tentang semua peristiwa itu.  Paman Luwei sangat gembira.

“Lili, karena kamu sungguh-sungguh membantu orang lain berubah menjadi baik dan telah menyaksikan fakta yang sebenarnya, kamu juga akan memiliki kesempatan yang sama.”

Dengan lembut Paman Luwei bertanya, “Lili, apakah kamu ingin mengetahui sebuah rahasia?”

“O, tentu saja, tolong beritahu aku!”

“Meskipun, mungkin saya yang paling tua usianya di sini, namun bukan yang paling cerdas. Luwei memang bisa melihat dunia di atas permukaan air. Dan itu memang benar-benar sebuah dunia yang indah memesona! Begitu banyak sesuatu yang menarik yang bisa disaksikan. Sosok saya mungkin termasuk tinggi, saya sudah hidup begitu lama, terus terang, bunga teratai barulah bunga yang paling cerdas.”

Dengan terperanjat Lili memandangi wajah Paman Luwei yang lembut. Ia berkata, ”Paman Luwei, saya tidak mengerti!”

“Lili, kamu masih kecil. Namun saya percaya sekarang kamu sudah bisa tumbuh tinggi, membentang, dan tumbuh sebagaimana yang kamu kehendaki seperti itu.”

Dan secara perlahan-lahan Lili tumbuh, tumbuh dan tumbuh, suatu ketika, akhirnya sepasang matanya mengambang dari air dalam yang hitam pekat dan keruh, melihat cahaya terang di dalam dunia baru yang menyilaukan di atas permukaan air.

Dengan hati gembira Lili bersorak. “O, akhirnya saya bisa menyaksikan warna di atas cakrawala! Dan akhirnya saya telah menyaksikan segalanya yang semula hanya bisa disaksikan di dalam mimpi! O, Paman Luwei, di sini ada cahaya terang yang selalu saya impikan!”

Paman Luwei juga gembira seperti Lili. Ia membungkukkan badan, dan berkata pada Lili, “Matamu tidak akan lagi ditutupi oleh air kolam. Sebab pembawaanmu yang polos, kamu telah dikaruniai sebuah jiwa yang baru.”

Paman Luwei menghampiri lebih dekat lagi, dan dengan lembut berkata, ”Lili, kini kamu bisa melihat Bumi di atas kolam itu, dunia yang terang benderang, namun kamu masih belum menyaksikan pemandangan yang paling utama.”

Lili mendengarkan kata-katanya yang lembut, dan dengan pandangan tidak mengerti bertanya, “Paman Luwei, sekarang saya bisa menyaksikan begitu banyak pemandangan yang menarik dan menakjubkan, apalagi yang masih bisa disaksikan?”

Dengan tersenyum lembut Paman Luwei berkata, ”Pemandangan ini adalah dirimu sendiri. Kamu telah tumbuh menjadi sekuntum bunga yang paling menarik dan paling indah di tengah kolam ini.”

Lili berpaling dan memandangi dirinya. Ia telah tumbuh subur menjadi sekuntum bunga teratai yang indah menarik dan cemerlang yang menyinari orang-orang. Ia melepas pandang jauh ke depan, dan kembali melihat segenap bunga teratai yang mekar subur di dalam kolam.

Impian indahnya telah menjadi nyata! Akhirnya ia bisa melihat sebuah dunia lain!

Paman Luwei berkata, ”Keindahan ini pertama-tama tumbuh di dalam lubuk hatimu, kemudian baru melimpah ke bagian luar dirimu, bahkan di kaki langit ujung sana kamu bisa melihatnya.”

Kali ini, akhirnya Lili mengerti. Ia menundukkan kepalanya, untuk pertama kalinya melihat rupa asli sang air. Kolam merupakan sebuah tempat yang bisa membuat jiwa dan pemahamannya meningkat, dan segala yang ada, tidak lebih merupakan cerminan dari dalam lubuk hatinya. Kini, akhirnya ia memiliki mata, bukan sanubari, untuk melihat angkasa indah yang tak berujung dan tak terbatas itu, yakni sebuah cakrawala baru yang bangun di tengah-tengah fajar pertama yang sedang menyingsing.

Lili ingin sekali membagi keceriaannya bersama dengan setiap makhluk di dalam kolam. Ia ingin memberitahu pada mereka, setiap orang mempunyai kesempatan untuk mencari dunia baru yang indah yang dimulai dari dalam lubuk hati diri sendiri itu.

Sebuah awal yang baru….

(Artikel: Gerard-Australia, Minghui School)

Share

Video Popular