Erabaru.net. Ketika John Perry yang berusia 20 tahun mulai berlatih Falun Gong pada akhir bulan Mei, dia merasa punya kewajiban untuk memberitahu orang-orang tentang bahaya yang dihadapi para praktisi Falun Gong di Tiongkok.

Dia membuat sebuah petisi online untuk dibagikan ke orang yang dia kenal.

“Saya akan berusaha membujuk orang-orang, minimal anggota keluarga saya untuk menandatangani (petisi),” kata Perry.

Perry dipilih menjadi seorang yang menjalankan misi ini oleh salah satu organisasi non-profit Doctors Against Forced Organ Harvesting (DAFOH), sebuah perkumpulan dokter-dokter yang menolak pengambilan paksa organ tubuh manusia.

Petisi ini dibuat sebagai seruan kepada Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia, agar mengambil tindakan segera untuk mengakhiri praktik pengambilan organ tubuh yang tidak etis di Tiongkok.

Petisi juga menyerukan agar PBB dapat mengakhiri penganiayaan terhadap kelompok spiritual di Tiongkok, termasuk Falun Gong, dimana organ dari para praktisi Falun Gong kerap diambil paksa. Petisi pada 2015 ditutup pada 30 November.

Tahun ini adalah tahun keempat mereka membuat petisi semacam ini. Juru bicara DAFOH, Dr. Damon Noto, menuliskan dalam sebuah email.

“Dalam tiga tahun terakhir, kami telah mengumpulkan sekitar 2 juta tanda tangan. Namun belum ada tanggapan resmi dari kantor Komisaris Tinggi PBB untuk HAM. Namun, banyak pejabat dan kantor pemerintah lainnya telah mencatat respons yang sangat besar ini. Inisiatif oleh mahasiswa perguruan tinggi juga sangat hebat. Ini menunjukkan bahwa orang-orang dari semua lapisan masyarakat terkejut dengan praktik pengambilan organ paksa oleh kelompok spiritual Tiongkok yang tidak etis dan ingin mengakhiri peristiwa mengerikan ini.”

Perry yang merupakan mahasiswa jurusan ilmu komputer di Universitas Teknologi Georgia, Memberitahu semua orang yang dekat dengannya tentang kejahatan terhadap kemanusiaan yang dikecam melalui petisi online.

“Saya mengajak anggota keluarga saya, lalu mengajak semua teman saya. Semua orang di rumah saya pun akhirnya bersedia menandatangani petisi tersebut,” ujar Perry.

Setelah membuat petisi online, Perry melebarkan upayanya. Dia berpidato di “free speech zone” di kampusnya. Dia juga mengirim email ke praktisi Falun Gong lain di Atlanta, dan respon mereka mengejutkannya.

“Saya mendapat lebih dari sekedar tanggapan yang saya minta. Mereka benar-benar mengajari saya tentang banyak hal,” ujar Perry.

Ketika kembali kuliah di musim gugur ini, dia pikir dia harus menyebarkan berita tentang pelanggaran hak asasi manusia yang dilakukan rezim komunis itu sendiri.

“Saya pikir, tidak ada orang lain yang melakukannya, jadi saya harus melakukannya,” kata Perry dengan penuh keyakinan.

Namun demikian, dia tidak menolak jika ada orang yang mau membantunya. Dia percaya bahwa dukungan selalu ada saat kita hendak meminta bantuan.

“Melihat ke belakang, saya menyadari betapa kuatnya jika misi ini dilakukan bersama-sama,” ujarnya.

(Mary Silver/Epoch Times )

Dua senior wanita di kampusnya, yang berasal dari Tiongkok termasuk di antara 14 pengikut aksi yang dilakukan Perry pada 16 dan 17 November lalu.

Walaupun mereka dapat berbicara dalam bahasa Inggris, namun Perry mengajak supaya mereka dapat berkomunikasi dengan beberapa mahasiswa Tiongkok di kampusnya dengan menggunakan bahasa Mandarin. Mereka pun akhirnya menyetujuinya dan melakukan dengan baik. .

Jika seseorang tidak berbicara bahasa Mandarin, mereka akan meminta bantuan kepada pembicara bahasa Inggris terdekat untuk bergabung dalam percakapan.

Mereka juga pernah bertemu dengan seorang siswa berwajah Asia, berkata, “Saya merasa sangat buruk, saya tidak dapat memahaminya.”

Dia lahir di Amerika, dan tidak pernah belajar bahasa Mandarin. Namun akhirnya dia menandatangani petisi tersebut setelah diberi penjelasan tentang apa yang sedang terjadi di negeri nenek moyangnya itu.

“Banyak orang yang berjalan dan melihat kami dengan pandangan seperti, ‘Saya mendukung Anda’. Bahkan seorang pria hampir saja berteriak. Rasanya seperti dia tahu betapa pentingnya hal itu,” terang Perry.

Perry pun menambahkan, dia bertemu dengan seorang wanita bernama Alicia dari kota kecil Statesboro, Georgia Tengah, yang pada saat itu sedang mengunjungi kampus Perry. Dia pun menunjukkan ketertarikannya untuk ikut andil dalam misi ini.

“Dia bersedia untuk membawa petisi bersamanya untuk mengumpulkan tanda tangan di rumahnya, kata Perry.

Begitu juga yang dilakukan oleh seorang pria tinggi asal Afrika. Begitu dia mendengar tentang isi petisi tersebut, dia berkata, “Tentu saja,” dan menandatanganinya tanpa ragu.

Sebagai bukti dan untuk membantu menjawab pertanyaan dari orang yang lewat, Perry mencetak beberapa materi berisi fakta tentang pengambilan organ manusia secara paksa di Tiongkok.

Dia bilang dia ingin memastikan mereka percaya akan hal yang benar-benar terjadi di negeri Tirai Bambu itu. Salah satu fakta utama adalah bahwa Tiongkok tidak memiliki sistem formal untuk sumbangan organ, namun transplantasi organ telah meningkat sangat pesat sejak tahun 1999. Itu adalah tahun dimana rezim komunis mulai menganiaya praktisi Falun Gong.

Walaupun banyak orang mendukung petisi tersebut, namun ada juga beberapa orang yang menentangnya. Pernah ada seorang pria Tionghoa yang mencoba berdebat dengan Perry.

Dia membantah fakta tentang pengambilan organ tubuh praktisi Falun Gong disponsori pemerintah Tiongkok. Dia berteriak dan mengutuk petisi itu.

Perry tetap berusaha bersikap tenang dan ramah.

“Sepertinya dia marah karena kami ada di sini,” jawab Perry.

Perry mengaku, sulit untuk mengetahui hal apa yang membuat pria Tionghoa itu marah. Dia sempat mendengar pria tersebut mengatakan bahwa dia telah menulis sebuah laporan yang membantah laporan tentang pengambilan organ di Tiongkok, dan mengecam aksi dengan menuding bahwa laporan itu palsu dan bohong.

Kemudian Perry mengatakan kepadanya, “Kami tidak mendapat keuntungan dari aksi ini. Kami juga tidak punya alasan untuk berbohong.”

“Saya ingat satu kelompok wanita Tiongkok. Saat saya menawari mereka selebaran. Mereka malah mengejek saya,” lanjut Perry.

“Saya benar-benar perlu melakukan sebanyak yang saya bisa,” katanya.

Perry akan terus melakukan apa yang dia bisa. Begitu juga orang lain.

“Baru-baru ini, banyak media besar termasuk New York Times dan Yahoo telah mengambil isu pengambilan organ paksa di Tiongkok. Ini membantu membuktikan bahwa pengambilan organ ini benar-benar terjadi dan benar-benar salah. Serta juga membantu dalam menyerukan penyelidikan independen dan akses transparan menyeluruh terhadap apa yang telah terjadi selama 10 tahun terakhir di Tiongkok, “tulis Dr. Noto. (Mary Silver/jul/rp)

 

Sumber: ntd.tv

 

Share

Video Popular