Erabaru.net. Di bawah Pemerintahan Kaisar Wu (武) dari Dinasti Han (漢朝) (206 SM – 220 M), kekaisaran ini mengusung kebijakan perluasan wilayah yang luas serta pemerintahan yang kuat dan terpusat.

Meskipun suku nomaden Xiongnu adalah ancaman laten dari utara, namun dengan bantuan banyak jenderal yang cakap, Kaisar Wu meninggalkan sikap defensif yang dilakukan oleh kaisar Dinasti Han sebelumnya, dan meluncurkan banyak serangan militer yang suk¬ses dalam melawan Xiongnu.

Seorang jenderal muda yang ulung

Masa kanak-kanak Huo Qubing hidup sederhana, meskipun tergolong dari keluarga terpandang, dan ia selalu sangat bersemangat untuk belajar. Paman Huo, Wei Qing (衛青), adalah seorang jenderal yang terkenal, ia mengajari Huo semua jenis seni bela diri, terutama berkuda dan memanah. Pada saat itu, ketrampilan suku nomaden Xiongnu dalam dua bidang ini jauh lebih unggul dibanding suku Han (Tiongkok).

Status keluarga Huo Qubing secara bertahap meningkat, ketika saudara perempuan ibunya menjadi permaisuri Kaisar Wu. Pada usia 17 tahun, Huo Qubing sudah menunjukkan bakat yang luar biasa dan kecakapan dalam bidang militer, dan dengan demikian Huo ditunjuk sebagai pengawal kaisar.

Pada tahun 123 SM, kaisar memerintahkan Wei Qing dan pasukannya untuk melawan suku Xiongnu, hal ini yang menjadi salah satu kemenangan terbesar suku Han dalam melawan musuh mereka di utara.

Saat itu Huo Qubing masih berusia 18 tahun, ia memohon izin dari kaisar untuk bergabung dalam pertempuran tersebut. Begitu permintaan Huo dikabulkan, Kaisar Wei Qing memberikan 800 kavaleri untuk dipimpin Huo. Meskipun ini adalah ekspedisi pertama militernya, Huo tidak menunjukkan rasa takut. Manuver-manuver yang dibuat Huo berhasil menggerebek kamp musuh, menewaskan lebih dari 2.000 prajurit Xiongnu.

Dalam invasi militer ini, Huo Qubing diakui sebagai tentara paling berhasil dan Kaisar Wu menghadiahinya dengan gelar “Sang Juara Bangsawan”. Akibatnya, namanya makin dikenal dan kemudian Huo menerima jabatan sebagai jenderal.

Setelah keterlibatan dalam dua pertempuran besar dengan Huo Qubing, suku Xiongnu menderita kerugian parah baik dalam hal pasukan maupun wilayah, dan semangat juang mereka menurun drastis.

Pada saat itu, Huo Qubing sangat dihargai seperti pamannya, Jenderal Wei Qing, maka Kaisar Wu menugaskan pembangunan sebuah rumah mewah baginya di Ibukota Chang’an, sebagai hadiah.

Ketika rumah itu selesai, Kaisar Wu memanggil Huo Qubing dan menganugerahkan hadiah ini sebagai penghargaan. Namun, Huo menolak untuk menerima hadiah kaisar, dan mengatakan: “Bagaimana saya bisa tenang di rumah sementara Xiongnu masih menyerang negara kita.”

Perkataan sederhana ini, akhirnya menjadi pepatah terkenal yang diturunkan selama berabad-abad, sebagai contoh dari semangat patriotisme dan meringkas kisah pengabdian Huo Qubing yang tanpa pamrih bagi negaranya.

Karena serangkaian invasi Han sukses, kekuatan militer Xiongnu runtuh. Dinasti Han mendapatkan kontrol penuh atas wilayah barat Tiongkok,sehingga memungkinkan pengembangan “Jalur Sutera”, rute terkenal yang difasilitasi dengan pertukaran budaya dan komersial antara Timur dan Barat.

Berbagi kemenangan dengan pasukannya

Menurut legenda, setelah salah satu kemenangan besar Huo Qubing dalam pertempuran melawan Xiongnu, Kaisar Wu menghadiahinya dengan satu tempayan anggur yang berkualitas dan dikirim langsung dari ibukota ke kamp militer.

Alih-alih menyimpan hadiah itu untuk dirinya sendiri, Huo Qubing malah menuangkan anggur tersebut ke dalam ceruk sungai di dekatnya, sehingga semua prajuritnya akan dapat merasakan dan menikmati anggur tersebut. Lembah itu penuh dengan aroma harum anggur dan tempat itu kemudian berganti nama menjadi Jiǔ Quán (酒泉), yang berarti “Mata Air Anggur”.

Huo Qubing, seorang jenderal perang yang sedikit bicara, meski demikian cukup bijaksana dan sangat berani dalam pertempuran. Dia dianggap jenius dalam bidang militer, selama enam serangan besar yang ia pimpin dalam melawan Xiongnu, ratusan ribu tentara musuh tewas atau terluka.

Huo Qubing meninggal pada usia muda,  sekitar 24 tahun karena penyakit wabah dan dianugerahi sebagai Pahlawan Nasional. Hidupnya dapat disamakan dengan sebuah meteor pendek, tapi mulia.

Kaisar Wu mengadakan pemakaman besar untuk Huo Qubing, dan memerintahkan sebuah makam yang akan dibangun untuknya di samping makam kekaisaran.

Dengan dihiasi oleh 16 patung batu raksasa dalam rangka memperingati prestasi militer dibedakan sang jenderal, namun yang paling menonjol adalah patung utama seekor kuda dengan seorang prajurit pasukan Xiongnu yang tengah mempertahankan diri di bawah perut kuda, yang disebut “Kuda Me-napaki Xiongnu”. (Epochtimes/Ajg/Yant)

Share

Video Popular