Erabaru.net. Direktur Badan Intelijen Pertahanan Amerika Serikat Letnan Jenderal Vincent Stewart memperingatkan, jika tidak dikendalikan, Korut pada akhirnya akan mempunyai rudal balistik antar benua berhulu ledak nuklir yang mampu menyerang AS, kata Stewart di hadapan Dewan Senat AS.

“Jika didiamkan, Korea Utara pada akhirnya akan mempunyai rudal antar benua berhulu ledak nuklir yang mengancam daratan AS,” kata Stewat seperti dilansir FoxNews, Rabu (24/5/2017).

Pernyataan Stewart jadi indikasi terbaru yang menunjukkan kekhawatiran AS soal kemajuan pesat program rudal dan senjata nuklir Pyongyang. Dalam pertemuan dengar pendapat itu juga dihadiri Direktur Intelijen Nasional, Dan Coats.

Coats mengatakan bahwa uji coba peluncuran rudal Korea Utara tahun lalu itu menunjukkan bahwasannya Kim Jong-un bermaksud membuktikan kemampuan rezim yang diisolasi ini. Korea Utara pernah mengancam kemungkinan akan uji coba meluncurkan rudal balistik antar benua pertamanya tahun ini.

Tahun lalu, Korea Utara telah meningkatkan uji coba peluncuran rudalnya, dan ancamannya terhadap Korea Selatan maupun Jepang semakin meningkat.

Korea Utara berulang kali mengancam bahwa tujuannya adalah berhasil mengembangkan rudal antar benua yang dapat menyerang daratan Amerika Serikat.

Meskipun dikecam dunia internasional, tetapi Korea Utara tetap saja menguji rudalnya, media pemerintahnya juga telah berulang kali mengatakan bahwa Korea Utara akan meluncurkan lebih banyak rudal.

Terkait rovokasi Korea Utara baru-baru ini, Amerika Serikat kembali menyerukan sanksi terhadap Korea Utara, tetapi mengapa sampai sekarang belum juga menerapkan tindakan proaktif?

Sumber mengatakan, bahwa terkait Kim Jong-un yang terus menguji coba rudalnya, Presiden AS Donald Trump telah meminta Xi Jinping meningkatkan sanksi ekonominya terhadap Pyongyang, dan mengatakan jika Beijing tidak mau bekerjasama, maka AS akan menjatuhkan sanksi terhadap perusahaan Tiongkok termasuk lembaga keuangan yang memiliki hubungan dagang dengan Korut, demikian laporan harian “Asahi Shimbun” Jepang, Selasa, (23/5/2017).

Perdagangan Tiongkok-Korea Utara menduduki sekitar 90% perdagangan Korea Utara dengan luar negeri.

Menurut sumber terkait, Xi Jinping meminta tenggang waktu (Grace Period) 100 hari pada Presiden Trump, agar tidak berdampak pada hubungan bisnis antar perusahaan Tiongkok dengan perusahaan dan lembaga keuangan Amerika Serikat. (Lin Yan/ Jhony/rp)

Sumber: Epochtimes

Share

Video Popular