Erabaru.net. Beberapa waktu lalu, departemen bedah kedua di rumah sakit anak-anak, provinsi Anhui, Tiongkok menerima seorang pasien perempuan lima usia bulan bernama Thao-thao (samaran) yang ditumbuhi “ekor” di salah satu anggota tubuhnya.

Di belakang pantat bayi perempuan bernama Thao-thao ini ditumbuhi ekor ketika lahir. Oleh ahli terkait si bayi didiagnosis mengalami “deformitas” atau meningocele-sejenis kelainan kongenital perkembangan yang meninggalkan celah di tulang belakang,” demikian laporan reporter dari ahcaijing.com yang berafiliasi dengan market star di Tiongkok, Kamis (18/5/2017).

“Deformitas-ekor” tersebut mungkin menyebabkan inkontinensia (kehilangan kontrol kandung kemih),  hidrosefalus (penumpukan cairan pada rongga otak) dan sebagainya.

“Deformitas-ekor” Thao-thao kurang lebih sama panjangnya dengan cotton bud (stik kecil yang terdapat kapas di ujungnya untuk mengorek telinga).

Ekornya terlihat seperti sepotong daging merah, lunak dan tak bertulang, bisa ditekuk dan tak terasa nyeri. Sekilas terlihat seperti ekor binatang pada umumnya.

Menurut keterangan dokter Meng Lixiang, spesialis bedah di Rumah Sakit Anak-anak, provinsi Anhui, malformasi-perkembangan abnormal ini tidak sama dengan avatisme–ekor pada manusia. Di dalam ekor pada bagian tulang ekor avatisme terdapat satu atau lebih dari satu tulang ekor, itu dianggap sebagai suatu fenomena avatisme, sementara “deformitas ekor” tidak tergolong dalam fenomena avatisme.

Sebelumnya ada seorang bocah dari Sichuan ditumbuhi ekor sepanjang 15 cm di pantatnya, itu adalah cacat tabung saraf, dan ekor dipotong. (Foto arsip)

Meng Lixiang mengatakan, bahwa malformasi (perkembangan abnormal suatu organ atau jaringan) yang paling umum pada anak-anak ada yang berupa kelainan pada saluran cerna, kelainan sistem saraf pusat dan kelainan pada saluran kemih.

Adapun mengenai “ekor” yang tumbuh pada salah satu anggota badan anak-anak itu disebabkan oleh kelainan pada sistem saraf pusat. Menurut survei, kelainan pada sistem saraf menduduiki 51% dari semua cacat bawaan, dan 64% anak-anak akan ditumbuhi “ekor mungil” setelah terjadi kelainan pada sistem saraf pusat.

Pemeriksaan dengan magnetic resonance imaging-MRI menunjukkan, bahwa karena “deformitas ekor, “posisi sumsum tulang Thao-thao lebih rendah.

Sementara ujung tulang belakang terikat, sehingga sulit tumbuh bersama mengikuti pertumbuhan tubuh. Jika tidak segera dioperasi, akan menyebabkan hilangnya fungsi saraf, dan terjadi inkontinensia (kehilangan kontrol kandung kemih), kaki melengkung, anggota badan bagian bawah akan menjadi bengkok, bahkan akan terjadi hidrosefalus (penumpukan cairan pada rongga otak) pada individu, syringomyelia (tumbuhnya kista berisi cairan (syrinx) di dalam sumsum tulang belakang), dan asimetri saraf serta masalah lain yang lebih serius karena sumsum tulang belakang akan tertarik dalam proses pertumbuhannya.

Anak–anak yang ditumbuhi ekor tidak hanya ada di Tiongkok. Pada tahun 2014 lalu, media luar negeri pernah memberitakan tentang seorang bocah 13 tahun asal India bernama Ali Arshid Khan yang ditumbuhi ekor sepanjang 17 cm di punggungnya. Oleh warga setempat, bocah berekor ini dianggap sebagai titisan dewa kera Hanoman.

Para ahli menyarankan ibu-ibu jangan mengabaikan pemeriksaan kandungan.

Untungnya, Thao-thao berhasil menjalani operasi pemotongan ekor pada 17 April lalu.  Hal yang paling sulit dalam operasi itu adalah membedakan antara serat dan saraf, agar tidak salah potong.

Faktor-faktor konkret yang menyebabkan deformitas saat ini masih dalam kajian, untuk mencegah tragedi tumbuhnya “ekor” pada anggota badan. Dokter Qi Shiqin menghimbau bahwa pemeriksaan masa kehamilan itu mutlak dilakukan, jika menemukan adanya ekor pada anak yang dilahirkan harus sesegera mungkin diperiksa dan ditangani, jangan sampai melewati waktu penanganan terbaik, dan menyebabkan penyesalan seumur hidup. (Jhony/rp)

Sumber: letu.soundofhope.com

Share

Video Popular