Erabaru.net. Menurut para ahli, diam-diam Partai Komunis Tiongkok/PKT telah membantai para narapidana untuk mengambil paksa organ tubuh mereka selama lebih dari satu dekade.

Terungkapnya kejahatan yang terjadi negara ini tidak mudah.

Pada 2006, mantan Menteri Luar Negeri Kanada untuk Asia Pasifik David Kilgour dan pengacara hak asasi manusia internasional David Matas menerbitkan sebuah laporan independen berisi 140 halaman, yang menemukan bahwa para tahanan praktisi Falun Gong dibunuh untuk diambil organ tubuhnya dalam skala besar.

Laporan terbaru yang mereka laporkan dengan jurnalis investigasi Ethan Gutmann pada pertengahan tahun lalu menemukan bahwa jumlah tersebut jauh lebih tinggi daripada perkiraan sebelumnya.

Laporan itu berjudul Bloody Harvest / The Slaughter : An Update yang  memperkirakan bahwa terdapat 60.000 sampai 100.000 transplantasi organ tubuh yang dilakukan setiap tahun di Tiongkok.

Menurut laporan tersebut, sasaran utama dalam pengambilan organ adalah para praktisi atau orang Tionghoa yang berlatih Falun Gong.  Sedikitnya, orang Uyghur, orang Tibet, dan orang Kristen juga telah dibunuh untuk mendapatkan organ tubuh dengan mudah untuk tujuan transplantasi.

Ketiga pria dalam video tersebut adalah pendiri Koalisi Internasional untuk Mengakhiri Tindakan Pengambilan Organ Tubuh di Tiongkok, yang telah membuat empat video diskusi meja bundar, yang menjelaskan apa yang sebenarnya telah berlangsung sejak temuan yang ditulis dalam laporan mereka.

Bersama Kilgour, Matas, dan Gutmann dalam diskusi meja bundar, sesosok aktris dan advokat hak asasi manusia Anastasia Lin, pembuat program berita China Uncensored Chris Chappell, dan wartawan Matt Robertson, yang memenangkan pers penghargaan untuk laporannya tentang  pengambilan organ pada 2013.

Video pertama mencakup penyelidikan dan laporan tentang industri pengambilan organ  di Tiongkok namun juga melihat mengapa masih ada orang skeptis yang tidak percaya hal itu terjadi.

Mereka juga membahas bagaimana masalah ini diketahui sejak lama, namun belakangan ini media mainstream telah menutup dan jarang meliput masalah ini.

Dalam video tersebut, Kilgour mengatakan bahwa mereka telah berusaha menemui badan Human Rights Watch, Amnesti Internasional, dan Badan Hak Asasi Manusia di Tiongkok selama tahun 2006 untuk membicarakan laporan awal mereka.

Selama bertahun-tahun, Amnesty Internasional dan badan lain tidak setuju hal ini terjadi. Namun, belum ada tindakan yang dilakukan Human Rights Watch dan Badan HAM Tiongkok untuk mengusut tuntas kasus ini. “Salah satu dari mereka mengatakan kepada saya secara pribadi dan mereka merasa bahwa jika mereka mengangkat masalah ini, mereka akan kehilangan semua kemampuan untuk melobi agar pemerintah mau menghapus hukuman mati di Tiongkok,” kata Kilgour.

Tapi kini, Kilgour mengungkapkan bahwa itu sudah berubah.

“Kami sekarang memiliki Amnesti Internasional sepenuhnya di depan kami sejak setahun yang lalu,” ungkap Kilgour.

Saksikan bagian kedua dari diskusi meja bundar di sini.

Jumlah Korban

Video di atas menjelaskan mengapa pemerintah komunis telah menganiaya Falun Gong, sebuah kelompok spiritual yang didasarkan pada meditasi dan latihan gerakan lambat, dengan tiga prinsip utama: Sejati-Baik-Sabar.

Diskusi meja bundar juga membahas apa yang terjadi sebelum pemerintah melakukan penganiayaan kepada para praktisi dan orang yang ikut berlatih Falun Gong selama bertahun-tahun.

Popularitas Falun Gong sendiri semakin meningkat, menjelang akhir 1990an, terdapat 70 sampai 100 juta orang yang mempraktikkannya. Sehingga Falun Gong dianggap sebagai ancaman bagi Partai Komunis yang berkuasa saat itu.

Pada 1999, penganiayaan dimulai, dan sebuah kampanye propaganda besar yang membuat para praktisi ditahan dan disiksa secara kejam. Bahkan pemerintah berani melakukan kejahatan brutal  seperti pengambilan organ tubuh mereka secara paksa.

Penindasan oleh PKT

Di bagian selanjutnya dari diskusi meja bundar tersebut, adalah membahas organ apa yang diambil oleh pemerintah komunis Tiongkok secara permanen.

Tapi gambar seperti itu adalah bukti bagaimana negara Tiongkok diperintah oleh rezim genosida,  dan itu adalah salah satu hal yang menurut Robertson tidak disambut dengan baik oleh masyarakat dan pengusaha asing.

“Perusahaan internasional yang berurusan dengan Tiongkok ‘tidak ingin tahu tentang pembunuhan massal tersebut’,” kata Robertson. Beberapa negara berusaha membuat Tiongkok membantu mereka dalam beberapa hal, seperti bekerja sama dalam perubahan iklim ekonomi misalnya,” imbuhya.

Matas mengatakan bahwa ada banyak kebutaan yang disengaja, dan lebih mudah bagi mereka yang memiliki kepentingan tertentu untuk mengabaikan apa yang sedang terjadi.

Tonton bagian tiga di sini.

Legislasi dan advokasi

Namun Kilgour menunjukkan bahwa ada pemerintahan yang mau menangani masalah ini, merujuk dari upaya yang dilakukan pemerintah Israel, Spanyol, dan Taiwan, yang melarang warganya pergi ke negara Tiongkok untuk melakukan transplantasi organ. Dia menganjurkan agar lebih banyak negara yang perlu mengikuti jejak mereka.

Untuk mempengaruhi supaya ada lebih banyak tindakan perubahan, Robertson mengatakan bahwa masalah pengambilan organ harus diangkat ke level tertinggi dan dilakukan secara terbuka sehingga setiap orang menjadi sadar akan masalah ini.

“Saya pikir itu dapat berpengaruh besar pada kepemimpinan Tiongkok,” katanya.

Matas menyarankan tiga target praktis langsung.

“Hentikan pariwisata transplantasi. Kedua, hindari semua kontak dengan profesi transplantasi Tiongkok, dan ketiga, lakukan penyelidikan terhadap lembaga independen, pemerintah ataupun swasta. Hal-hal itu bisa dilakukan dan akan berdampak pada apa yang terjadi di masa depan,” katanya.

Menurut Robertson sekarang, masalah [pengambilan organ] yang diambil dengan paksa harus ditangani dengan serius. Dia juga menambahkan tidak lagi menganggap bahwa tindakan ini sebagai ‘cerita aneh sci-fi,’ dan dia percaya bahwa harus ada sebuah perubahan besar.

“Saya harap, kedepannya semakin banyak orang sadar akan masalah ini. Ada banyak orang profesional terlibat, mereka membentuk jaringan, mereka akan bergerak untuk mengaktifkan intervensi tingkat tinggi dengan pemerintah Tiongkok, “katanya.

Robertson menyatakan bahwa pada akhirnya akan ada pengalaman belajar masalah global tentang pengambilan organ tubuh yang terjadi di Tiongkok.

“Karena ini adalah kejahatan unik yang telah terjadi, dari banyak aspek yang berbeda, dan itu akan dianalisis lebih lanjut,” tambahnya.

Tonton video keempat.  (jul/rp)

Sumber: visiontimes

Share

Video Popular