Erabaru.net. Dahulu kala, ada seorang tabib (dokter) praktik bernama Zhao Ji. Malam itu, Zhao Ji keluar desa untuk memeriksa pasiennya, ketika melewati jalan di hutan tiba-tiba ia mendengar erangan nyeri suara perempuan.

Meskipun agak takut, karena dorongan insting seorang tabib, ia pun mencari sumber suara. Ia melihat seorang wanita muda tergeletak di atas tanah sambil mengerang kesakitan. Zhao Ji bergegas menghampiri wanita itu dan memeriksanya.

Ternyata wanita itu akan segera melahirkan. Meski seorang tabib, tapi ia menjadi serba salah, pasalnya ia tak pernah membantu proses persalinan. Tapi, demi menyelamatkannya, mau tidak mau ia harus membantu persalinan itu.

Setelah lebih dari empat jam, akhirnya selesai juga ia membantu persalinan wanita yang melahirkan seorang anak laki-laki itu. Wanita itu mencengkram tangan Zao Ji erat-erat sambil berkata, “Terima kasih pak, terima kasih atas pertolongannya, saya tidak akan pernah melupakan kebaikan bapak.”

“Jangan terima kasih dulu, saya sendiri tidak sanggup membawamu keluar dari hutan ini, saya pergi mencari bantuan dulu untuk membawamu keluar,” jawab Zhao Ji sambil buru-buru keluar hutan mencari beberapa orang. Tapi sekembalinya ke hutan, wanita itu sudah tidak ada disana.

Tak terasa satu tahun pun berlalu. Suatu hari, ketika Zhao Ji pulang ke rumah seusai memeriksa pasiennya. Di tengah jalan, cuaca tiba-tiba berubah, dan tak lama kemudian turun hujan lebat. Meskipun rumahnya sangat dekat, tapi karena sudah larut malam, dan jalanan juga becek berlumpur, maka ia pun menginap di kedai pinggir jalan.

Setelah  Zhao Ji merapikan barang-barangnya, kemudian memesan makanan dan arak. Ia menikmatinya sendirian. Ketika sedang menikmati minumannya, masuklah seorang kakek berjenggot putih.

Orang tua itu menatap sejenak tabib Zhao Ji, lalu tiba-tiba tertawa, kemudian berkata, “Anda tabib Zhao Ji bukan?”

“Ya benar, saya Zhao Ji,” balas Zhao Ji.

Mendengar itu, pak tua berjenggot putih itu seketika memberi hormat, sambil berkata, “Oh, akhirnya kamu datang juga.”

Pak tua itu lalu segera menyuruh pelayan menghidangkan makanan enak, dan dengan ramah mengundang Zhao Ji masuk ke dalam sebuah rumah yang indah. Zhao Ji mengerutkan dahi dan tampak bingung melihat jamuan yang serba mewah.

“Saya tidak bermaksud apa-apa, hanya ingin mengucapkan terima kasih secara khusus padamu,” kata pak tua melihat Zhao Ji yang tampak bingung.

“Karena siang hari saya tidak bisa keluar, jadi terpaksa mengundang anda pada malam hari,” kata pak tua menjelaskan.

Melihat pak tua itu begitu ramah, Zhao Ji lalu mencoba bertanya, “Saya tidak tahu, untuk apa anda berterimakasih pada saya?”

“Terima kasih karena telah menyelamatkan Xiao Qie saya. Kalau bukan anda, Xiao Qie sudah mati,” kata pak tua merasa sangat bersyukur. Sambil melanjutkan obrolannya, ia menuangkan arak pada gelas Zhao Ji, “Saya selalu ingin membalas budi Anda, tapi belum ada kesempatan.”

Tabib Zhao Ji telah menyelamatkan banyak orang, Zhao Ji tersenyum mendengar kata-kata orang tua itu dan mengatakan, “Saya memeriksa pasien yang sakit, dan menyembuhkan penyakit pasien itu adalah tanggung jawab saya.”

Meskipun Zhao Ji tergolong kuat dari pengaruh minuman keras, tapi tetap saja tak sanggup bersulang terus dengan sekeluarga pak tua, akhirnya Zhao Ji pun mulai tak kuat dengan pengaruh alkohol, mabuk. Saat itu, tiba-tiba muncul seorang wanita muda yang cantik dari belakang pak tua dan menghampiri Zhao Ji.

“Ini Mudan,” kata orang tua itu dengan sukacita. Raut wajah Mudan tampak merona merah tersipu malu, lalu mengambil segelas arak sambil berkata pada Zhao Ji, “Apa Anda sudah lupa, tahun lalu anda pernah membantu persalinan seorang wanita di hutan, menyelamatkan nyawa saya dan anak saya, karena itu, saya ingin secara khusus mengucapkan terima kasih padamu.”

Sambil menatap wanita di depannya, perlahan-lahan Zhao Ji ingat kejadian saat itu, lalu dengan gembira ia pun mengambil gelas minuman dari tangan Mudan dan langsung meminumnya. Zhao Ji tak menyangka bisa bertemu dengan wanita yang diselamatkannya itu di penginapan, dalam hati Zhao Ji sangat gembira. Melihat Zhao Ji sudah mulai mabuk, sekeluarga pak tua justru menuang arak lagi untuknya.

“Kelak kalau ada masalah beritahu saya saja, saya akan berusaha membantu semampunya,” kata pak tua sambil kembali menuangkan arak pada Zhao Ji. Ia  lalu menyuruh pelayan mengambil sebuah kotak yang berkilauan, “Tuan yang budiman, kamu harus terima kotak ini,” kata pak tua sambil membuka tutup kotak, ternyata itu adalah kotak harta karun.

Zhao Ji diri merenung sejenak, harta ini tak ternilai, lebih baik terima saja, nanti bisa dibagikan kepada keluarga miskin, lagipula ini adalah perbuatan baik. Akhirnya dengan gembira Zhao Ji menerima kotak itu dari pak tua.

Saat itu, hampir subuh, samar-samar tampak kemilau cahaya mentari dari luar jendela. Dengan gembira sekeluarga pak tua kembali bersulang beberapa gelas arak dengan Zhao Ji. Bersamaan dengan itu, sayup-sayup terdengar ayam berkokok dari kejauhan. Mudan berkata pada Zhao Ji, “Simpan baik-baik kotak ini ya tuan yang budiman, kalau ada apa-apa cukup sebut 3 kali nama Mudan.”

Di saat Zhao Ji masih bingung, tiba-tiba ia merasa ada seseorang yang mendorongnya, dan ditengah kebingungannya, ia berjalan keluar dari dalam rumah pak tua. Dia merasa semilir angin segar meniup di ubun-ubunya, dan merasa nyaman di seluruh tubuhnya. Ia melihat tangannya masih memegang sebuah kotak yang dipenuhi dengan harta karun, dan ketika melihat-lihat sekelilingnya, pengaruh alkohol di kepalanya perlahan-lahan hilang.

Ia pun mulai sadar sepenuhnya, ternyata itu bukan penginapan, tapi sebuah makam. Saat itu, baru ia sadari, ternyata sekeluarga yang ditemuinya itu adalah arwah hantu sekeluarga. Tapi kemudian ia merenung sejenak, keluarga itu tahu membalas budi, dan memberikan begitu banyak harta, jadi tidak perlu ditakutkan.

Sampai disitu, Zhao Ji mengangkat kotak harta karun yang berat itu, dan bergegas kembali ke desanya, kemudian ia membagikan harta-harta itu kepada warga desa.

Sejak itu, selain memeriksa dan mengobati penyakit warga desa, dimana jika ada keluhan dari warga desa yang mengalami kesulitan apapun, Zhao Ji selalu bisa mengabulkannya, karena saat tidak bisa mengatasinya, Zhao Ji akan berseru tiga kali menyebut nama Mudan sambil memandang kotak pemberian pak tua sekeluarga.

Tak lama kemudian, Zhao Ji pun menjadi tabib sakti yang budiman di mata masyarakat desa setempat.  (Jhony/rp)

Sumber: Coco01.Mal

 

Share

Video Popular