Erabaru.net. Suatu hari, saat saya sedang bertamu ke rumah seorang teman, kebetulan rumahnya juga kedatangan sahabatnya untuk membahas suatu masalah. Teman saya berbisik mengatakan pada saya bahwa sahabatnya itu sedang risau menghadapi anak SMA mereka yang tidak mau sekolah. Saya katakan, “Tidak mau sekolah ya sudah, apa masalahnya?”

“Aduh! Mana boleh tidak sekolah SMA, kalau tidak lulus, kelak bagaimana? Di kemudian hari jika tidak bisa mendapatkan pekerjaan, bagaimana bisa menghidupi keluarga!”, ujar teman saya.

Nampaknya tidak hanya satu keluarga yang risau, teman saya dan suaminya juga ikutan cemas, sungguh bingung tujuh keliling.

Saya katakan, “Dulu putra saya juga tidak mau sekolah! Sekarang dia malah bersikeras untuk sekolah.”

Saat mengetahui anak saya punya sejarah yang sama, teman saya lalu meminta saya untuk menceritakan pada sahabatnya itu.

Cara saya berkomunikasi adalah demikian. Mula-mula saya memanggil dan mengajak anak saya untuk berdiskusi, “Andy, coba pikirkan, kelak kamu ingin kerja apa?”

Dia tenggelam dalam pikirannya dan tidak bisa menjawab pertanyaan saya.

Saya katakan, “Begini saja, kita pakai pabrik sebagai perumpamaan. Dalam pabrik ada kepala pabrik, manajer, kepala bagian, juga ada kepala seksi, kepala regu, supervisor dan para buruh. Saat sudah besar dan bekerja di pabrik, posisi mana yang kamu inginkan?”

Setelah berpikir sejenak, dia katakan, “Saya ingin menjadi manajer, lalu nanti jadi bos!”

Lalu saya katakan, ”Boleh juga pilihanmu, tetapi kamu tidak punya ambisi yang kuat. Cobalah engkau pikirkan, bila dirimu seorang atasan dan hendak mengundang seorang manajer, standar latar belakang pendidikan apa yang kamu inginkan?”

Ia terdiam, tidak menjawab pertanyaan saya, lalu saya perhatikan wajahnya mulai memerah hingga ke telinga karena merasa sangat malu. Kakak perempuannya yang berada di sampingnya membantu dia menjawab, ”Kalau mau jadi manajer, setidaknya harus lulus universitas.”

Ia tidak menjawab sepatah kata pun.

Saya katakan, ”Jika kamu tidak suka bersekolah, kelak kamu ingin jadi apa, pasti sulit diwujudkan. Seorang lulusan SMA mungkin hanya bisa menjadi staf yang gajinya tak seberapa! Kalau tidak selesai SMA, malah hanya bisa jadi buruh. Tetapi tidak mengapa, kalau pendapatan kita hanya sedikit, kita boleh berhemat, sedikit miskin tidak masalah, mama tidak takut menderita.”

“Tetapi kamu nantinya jangan iri dengan kepala pabrik, direktur atau manajer yang duduk dan bekerja dengan santai di ruang ber-AC dengan gaji tinggi, sedang pekerjaanmu berat, bekerja dengan bercucuran keringat dengan gaji yang kecil! Kamu putuskan sendiri hendak sekolah atau tidak, jangan sampai kelak menyalahkan orang lain.”

Pada akhirnya ia putuskan tidak meneruskan sekolah, kemudian pergi ke sebuah perusahaan komputer sebagai sales yang tidak menerima gaji, asal ada yang laku terjual, bos akan memberinya komisi. Di sana dia belajar memasang komputer, install program dan perbaikan komputer. Baru bekerja setahun, selanjutnya dia harus mengikuti wajib militer.

Saat ada perekrutan tentara yang bisa komputer untuk ditempatkan di bagian komputerisasi, dia mengacungkan jari ingin bergabung. Tetapi setelah mengetahui latar belakang pendidikannya yang tidak lulus SMA, ia lalu tidak diterima. Hal ini merupakan pukulan berat baginya. Tapi dia pun sadar, mungkin karena pengetahuannya kurang dan sulit belajar sendiri, maka ia perlu meneruskan pendidikan.

Saat saya pertama kali menengoknya di kamp tentara, ia memberitahu saya bahwa setelah menyelesaikan wajib militer, ia akan kembali untuk menyelesaikan SMA terlebih dulu, kemudian akan kuliah jurusan komputer. Baru dia sadar, pengetahuan sangat penting agar tidak diremehkan orang.

Saya tidak berkomentar, karena jalan itu adalah pilihannya sendiri, dia ingin bagaimana berjalan, terserah padanya. Saya hanya memintanya untuk bertanggung jawab pada pilihannya sendiri, bagaimanapun hasilnya tidak boleh menyalahkan siapa pun.

Putra saya bukan termasuk anak yang super,  tetapi dia memiliki  keistimewaan yang tidak dimiliki kebanyakan anak muda jaman sekarang, yaitu bertanggung jawab pada tindakannya. Selain itu juga bisa menahan derita untuk mengerjakan pekerjaan yang membutuhkan tenaga.

Hal ini ada kaitannya dengan cara saya mendidiknya. Sejak kecil saya telah menanamkan padanya untuk tidak menjadi orang yang selalu menengadahkan telapak tangan. Perkataan ini telah tertanam dalam hatinya, sehingga saya yakin benar dia tidak akan menjadi seorang pengemis, berandal atau seorang pejabat koruptor. (chris/rp)

Share

Video Popular