Erabaru.net. Konfusius pernah bertanya kepada seorang filsuf bijak bernama Lao Zi, penulis Tao Te Ching, tentang etika dalam masa pemerintahan dinasti di masa lalu.

Pertemuan mereka ini begitu terkenal di zaman kuno, dan orang-orang dapat menemukan banyak catatan tentangnya.

Tidak hanya dalam buku sejarah resmi seperti  Shiji, tetapi juga dalam lukisan tentang Lao Zi, yang berjudul Konfucius Bertanya Kepada Lao Zi Tentang Etika, yang menceritakan bagaimana Lao Zi duduk dengan kaki bersilang di atas batu saat Konfusius berdiri sambil memegang topinya sebagai rasa hormat dan kesopanan yang tinggi, dengan kedua tangan terlipat di depan dan membungkuk ke arah Lao Zi.

Ada juga sebuah peninggalan zaman kuno berupa batu berbentuk bulat di sisi utara Jalan Dongguan di Kota Luoyang, Provinsi Henan, dan diyakini bahwa inilah tempat Konfusius bertemu dengan Lao Zi dan bertanya tentang etika.

Mereka adalah standar moral bagi orang-orang Tionghoa, yang mengatur interaksi mereka dengan dunia luar dan cara menangani masalah secara internal. (Gambar: Guadalupe Cervilla via flicker / CC BY 2.0 )

Selama lebih dari 2000 tahun, ajaran Konfusius tentang pengambilan jalan tengah dan penekanannya pada “kebaikan, keadilan, sopan santun, kebijaksanaan, dan kepercayaan,” serta filosofi Lao Zi dalam mempertahankan pikiran yang tenang dan membiarkan semua hal mengikuti jalan alami mereka, telah membuat kedua ajaran ini ditetapkan sebagai pedoman bagi orang Tionghoa.

Ajaran kedua filsuf ini adalah standar moral bagi orang-orang Tionghoa, yang mengatur interaksi mereka dengan dunia luar dan yang lainnya, serta cara mereka menangani masalah secara internal.

Keduanya memainkan peran penting dalam menjaga kestabilan masyarakat dan harmonisasi dalam keluarga. Selain itu, ajaran mereka memungkinkan beberapa orang terpilih yang memiliki landasan moral baik dan kemampuan tinggi, untuk berhasil dalam kultivasi spiritual dan mencapai tingkat yang lebih tinggi.

Sejak zaman kuno, orang Tionghoa telah menerapkan diktum ‘Kong Hu Cu di luar dan Taosime di dalam’ sebagai prinsip hidup mereka (Gambar: ai3310X via Compfight cc)

Konfusianisme, bersama dengan ajaran Lao Zi, tidak hanya menguntungkan orang-orang Tionghoa, tapi juga diperkenalkan ke negara-negara di luar Tiongkok seperti Jepang, Korea, dan Asia Tenggara, hingga negara lain di seluruh dunia.

Dari zaman kuno, orang-orang Tionghoa telah mengikuti diktum “Konfusianisme di luar dan Taoisme di dalam” sebagai prinsip hidup. Dengan kata lain, orang yang benar-benar berpengetahuan akan menjalankan ajaran Konfusianisme di luar sambil berpegang pada prinsip Tao di dalam diri. Maksudnya, dia berbicara tentang Konfusius di masyarakat, tapi menerapkan Taoisme dalam budidaya moral individu. (jul/rp)

Share

Video Popular