Oleh: Kai Xin

Erabaru.net. Lagi-lagi Korea Utara menembakkan rudal Scud pada Senin, (26/5/20107) waktu setempat. Sehubungan dengan itu, Jepang dan Korea Selatan menyatakan akan mengambil langkah-langkah yang lebih keras untuk mengekang Korea Utara.

Kementerian Luar Negeri Korea Selatan bahkan mengatakan bahwa provokasi Korea Utara dengan tes rudalnya itu mungkin dapat menghancurkan harapan perdamaian di Semenanjung.

Sementara itu, Beijing mendesak Korea Utara agar menciptakan suasana kondusif untuk pembicaraan damai. Pakar Tiongkok mengatakan, pada isu krisis nuklir Korea Utara, hanya dua kondisi yang kemungkinan akan membuat Beijing intervensi secara militer.

Korea Utara kembali menembakkan rudal pada Senin pagi (29/5/2017) waktu setempat. Militer Korea Selatan mengatakan rudal yang ditembakkan Korut itu adalah rudal Scud. Itu adalah penembakan keempat kalinya oleh Korea Utara sejak Moon Jae-in menjabat sebagai presiden baru Korea Selatan tiga pekan lalu. Pemerintahan baru Korea Selatan bereaksi keras atas uji coba rudal Korut tersebut.

Juru Bicara Militer Korsel Roh Jaecheon telah mengeluarkan pernyataan, memperingatkan otoritas Korut, bahwa tindakan Korut yang terus memprovokasi dengan penembakan rudalnya itu hanya akan membuat Korea Utara semakin terisolasi, dan otoritas Korea Utara pasti akan mendapat perlawanan keras dari militer Korea Selatan dan aliansi Korea Selata – AS serta masyarakat internasional.

Kementerian Luar Negeri Korea Selatan menyatakan, bahwa tindakan Korut yang “sembrono dan tidak bertanggung jawab, membuat harapan perdamaian pemerintahan baru Korea Selatan dan masyarakat internasional seperti menuangkan air dingin (sia-sia),” prilaku pemerintah Korea Utara ini akan menghancurkan harapan pemerintah baru Korea Selatan untuk bisa hidup berdampingan secara damai dengan Korea Utara.

Sementara itu, Jepang juga mengutuk keras uji coba rudal Korea Utara tersebut.

Juru bicara pemerintah Jepang Yoshihide Suga mengatakan, peluncuran misil terbaru Korut itu jatuh di perairan eksklusif Jepang, dan berdampak serius pada kapal yang berlayar di perairan tersebut serta keselamatan penerbangan udara, hal itu jelas melanggar resolusi Dewan Keamanan PBB. Jepang benar-benar tidak bisa mentolerir provokasi Korea Utara.

Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe juga mengecam peluncuran rudal terkini Korea Utara dan berikrar akan bertindak bersama negara lain untuk menghalangi provokasi berulang Pyongyang.

“Seperti yang kami sepakati dalam pertemuan G7 terkini, masalah Korea Utara adalah prioritas tertinggi bagi masyarakat internasional. Kami akan mengambil tindakan konkret untuk mengekang Korea Utara,” kata Abe dalam pernyataan pembukanya dalam pertemua G-7 di Italia.

Sementara itu, pasca peluncuran rudal Scud Korut pada Senin, (29/5/2017) lalu, Kementerian Luar Negeri Tiongkok hanya menyatakan bahwa Beijing menentang uji coba rudal Korut, dan mendesak Korea Utara agar menciptakan suasana kondusif untuk pembicaraan damai.

Profesor dari School of International Studies, Peking University, Tiongkok, Liang Yunxiang mengatakan, bahwa secara perbandingan, Korea Utara sekarang mungkin jauh lebih “benci” pada Tiongkok daripada “memusuhi AS”, karena ditilik dari posisi otoritas Korea Utara, mereka menilai Tiongkok “mengikuti langkah-langkah asing”, menuntut Korea Utara menghentikan program nuklirnya, dimana hal ini dianggap oleh Korut sebagai “pengkhianatan”.

Namun otoritas Korea Utara sangat paham, Partai Komunis Tiongkok/PKT tidak ingin melihat konsekuensi dari runtuhnya rezim Korea Utara, jadi Korea Utara tidak butuh juga tidak akan tunduk pada keinginan Tiongkok.

Analisis liang Yunxiang menyebutkan, bahwa meskipun Korea Utara terus menguji coba rudalnya, peluang Tiongkok untuk mengubah posisi Korea Utara tidak signifikan, kecuali terjadi dua hal ini. Pertama, Amerika Serikat mengabaikan Tiongkok dan melancarkan perang dengan Korea Utara. Kedua, runtuhnya rezim internal Korea Utara, jadi dalam dua kondisi ini Tiongkok baru berkemungkinan campur tangan secara militer.” (Jhony/rp)

Sumber: NTD.TV

Share

Video Popular