Oleh: Tian Yu

Erabaru.net. Tiba-tiba ketika ia berada dalam kepungan petir menggelegar, telah menemukan sebuah tempat tinggal yang nampak mirip dengan hunian pejabat provinsi……

Dunia Burung di mata kita adalah sekawanan burung, tapi di ruang/dimensi lain keadaan mereka ternyata mirip dengan dunia manusia, dan bahkan lebih menakjubkan, benar-benar susah dinalar. Di jagat raya yang seolah tanpa batas ini sarat dengan kegaiban.

Pada zaman Tiongkok kuno, ada seorang yang bernama Xu Zhongshan. Ia bertekad ‘melakoni’ ilmu taoisme agar dapat menjadi dewa yang hidup abadi, maka ia pun menjalani kehidupannya dengan sederhana, fokus dan saleh, semakin lama semakin teguh keyakinannya.

Ketika di jalanan bersimpangan dengan orang lain, dengan kesadaran mematuhi tatakrama, apakah tua atau muda semuanya akan dipersilahkan jalan duluan. Ketika baru panen padi, buah dan biji-bijian, dalam acara ritualnya, maka dia akan terlebih dahulu memberikan persembahan kepada sang Pencipta, baru sesudah itu diberikan kepada senior yang berkhlak mulia.

Pada suatu ketika Xu Zhongshan berjalan di jalan setapak gunung, kebetulan kepergok hujan badai dan lantaran  tidak mampu menahan terpaan angin kencang bercampur gelegar petir, sehingga tersesat. Tiba-tiba diantara kilatan petir, ia menemukan sebuah tempat tinggal, dari tampak luarnya agak mirip dengan rumah pejabat provinsi, maka mendekatlah dia hendak berteduh dari hujan.

Ketika berada di depan pintu, seorang pria yang mengenakan pakaian mewah melihat kedatangannya. Ia pun memperkenalkan dirinya sebagai seorang pendeta Tao bernama Xu Zhongshan, sedangkan orang yang mengenakan pakaian mewah itu , membalas salamnya dan memperkenalkan dirinya sebagai petugas penjaga gerbang bernama Xiao Heng. Orang itu membahas tentang hujan badai, dan dengan tulus mengundangnya masuk ke dalam rumah.

Xu Zhongshan bertanya: “Sejak ada perkampungan di gunung ini, saya belum pernah melihat hunian seperti ini.”

Xiao si penjaga pintu berkata: “Inilah tempat tinggal para dewa, jangan lupa saya adalah petugas penjaga gerbang.”

Tidak lama kemudian ada seorang gadis, dengan dandanan sepasang sanggul berbentuk ring (donut), mengenakan baju bordir bunga berwarna  ungu kemerahan dengan baju atasan hijau berpola kembang, tangan kirinya memegang semacam sulak dari bulu ekor sapi bergagang keemasan.

Ia  berseru, “Anda yang di luar sedang berbicara dengan siapa, kenapa tidak melapor?”

“Dengan seseorang bernama Xu Zhongshan,” jawab Xiao Heng.

Berdiam sejenak wanita itu menyapa lagi, “Petugas dewa mohon persilahkan Xu Zhongshan masuk ke dalam.”

Lalu gadis itu membawa Xu Zhongshan masuk melalui koridor, sesampainya di halaman kecil dari sisi selatan ruang utama, terlihat seorang pria, berusia sekitar 50 tahun lebih. Kulit tubuh, jenggot dan rambutnya semua putih. Ia mengenakan topi yang terbuat dari bahan satin, mengenakan jubah sutra putih dengan selendang bersulam dan berpola perak.

Pria ini berkata kepada Xu Zhongshan, “Saya tahu Anda dengan tulus telah berkultivasi (menjalankan pertapaan) selama bertahun-tahun, telah jauh melampaui manusia biasa. Saya memiliki seorang putri kecil yang terbiasa dengan dunia kultivasi, sesuai dengan keinginan dan tujuan hidupnya, seharusnya menikah dengan Anda, justru hari ini adalah hari baik.”

Xu Zhongshan menuruni tangga mengucapkan terima kasih, kemudian meminta bertemu dengan istri pria tersebut.

Pria itu berkilah, “Saya telah menduda selama 7 tahun. Saya memiliki 9 anak, tiga anak lelaki dan 6 anak perempuan. Yang akan menjadi istri Anda adalah putri bungsu saya.”

Kemudian ia memerintahkan persiapan upacara pernikahan di aula belakang, mengeluarkan hidangan dan anggur, menyantapnya bersama Xu Zhongshan.

Malam semakin larut, Xu Zhongshan mendengar suara rangkaian perhiasan yang dikenakan pada tubuh kaum wanita, tercium aroma harum unik yang sangat kuat, lilin dan lampion bersinar dengan cemerlang, seorang petugas membawa Xu Zhongshan ke kamar lain.

Hari ketiga setelah acara pernikahan, Xu Zhongshan dengan bersuka-cita melihat-lihat seluruh sudut rumah, seluruh kamar dan ruangan, ketika sampai di sebuah gazebo yang menghadap ke barat dan melihat diatas tiang bambu tergantung 14 jubah kulit berhias bulu burung, hanya sebuah jubah adalah dengan bulu burung sikatan hitam, yang lainnya adalah bulu burung gagak.

Diantara jubah dengan bulu burung gagak itu, terdapat sebuah dengan bulu gagak putih. Dia kemudian berjalan sampai ke area barat daya, terdapat sebuah gazebo lagi dan diatas tiang bambu tergantung 49 jubah kulit dengan bulu-bulu serta semuanya merupakan bulu sejenis burung hantu.

Xu Zhongshan diam-diam merasa ada yang aneh dan tidak beres, setelah ia kembali ke kamarnya, istrinya bertanya, “Tadi engkau pergi berjalan-jalan, apa yang telah Anda lihat? Kenapa setelah balik Anda terlihat sangat tertekan?”

Xu Zhongshan tidak menjawab. Sang Istri berkata, “Para dewa dapat terbang melayang ke langit, pada mengandalkan sayap. Jika tidak, bagaimana bisa dalam tempo singkat telah berada di lokasi berjarak ribuan kilometer?”

Lalu Xu Zhongshan bertanya, “Jubah kulit bulu burung gagak itu milik siapa ya?”

Istrinya menjawab: “Itu adalah jubah bulu milik ayahku.”

Ia bertanya lagi, “Jubah bulu burung sikatan itu milik siapa?”

Dia menjawab “Itu adalah milik  pembantu wanita yang sering diutus mengirim kabar atau memandu jalan.”

Dan bertanya lagi jubah bulu burung gagak lainnya milik siapa. Dijawab, “Itu adalah milik saudara-saudara saya.”

Dan bertanya lagi jubah bulu burung hantu milik siapa, dijawab, “Petugas yang bertanggung jawab patroli malam, jubah orang seperti Xiao Heng yang bertanggung jawab sebagai petugas penjaga gerbang.”

Belum lagi selesai berbicara, tiba-tiba seluruh penghuni rumah menjadi panik. Xu Zhongshan cepat-cepat bertanya ada masalah apa, sang istri berkata kepadanya, “Orang-orang desa bersiap-siap untuk berburu dan membakar gunung.”

Sesaat kemudian semua orang pada mengatakan, “Tak dinyana belum sempat membuatkan jubah bulu untuk tuan Xu, setelah perpisahan hari ini, anggaplah pertemuan kali ini sebagai kebetulan saja.”

Lalu mereka semua pada bergegas mengambil jubah bulu masing-masing dan berterbangan ke berbagai arah. Kompleks rumah yang semula terlihat, telah lenyap dalam sekejap.

Tinggallah Xu Zhongshan duduk tercenung seorang diri di tengah hutan gunung seolah tak percaya dengan kejadian gaib yang telah dialaminya selama 3 hari terakhir. Banyak hal di dunia ini tergantung pada takdir pertemuan, semoga setiap orang dapat menjalin takdir pertemuan yang baik, dan bukannya takdir pertemuan yang buruk.  (hui/whs/rp)

Share

Video Popular