Erabaru.net. Pengacara hak asasi manusia Wang Quanzhang ditahan oleh pemerintah Tiongkok pada Juli 2015. Dia adalah satu dari sekitar 300 aktivis HAM dan profesional hukum yang ditargetkan oleh pemerintah negara karena dianggap sebagai “pembelot hukum” Partai Komunis Tiongkok/ PKT.

Hampir dua tahun kemudian, pihak berwenang tidak merilis informasi tentang situasi ataupun keadaan Wang kepada keluarganya. Satu-satunya informasi yang diterima istrinya Li Wenzu adalah pemberitahuan penangkapannya.

“Saya tidak tahu bagaimana keadaannya saat ini, apakah dia masih hidup atau sudah mati. Saya sama sekali tidak memiliki informasi. Dia telah lenyap begitu saja dari muka bumi. Ini sangat menakutkan, sangat brutal,” kata Li.

Li digambarkan di sebelah kanan di tweet di bawah ini. Di sebelah kirinya adalah Wang Qiaoling, istri pengacara HAM Li Heping, yang dibebaskan pada 9 Mei.

Sejak ditahan secara rahasia, keluarga Wang telah berkali-kali dilecehkan oleh pihak berwenang, sebuah pengalaman yang umum terjadi pada orang-orang pembela HAM di Tiongkok, seperti Li Heping dan Gao Zhisheng.

Contoh pelecehan yang diterima keluarga para aktivis HAM tersebut seperti anak mereka dilarang bersekolah dan Li dipaksa keluar dari apartemen sewaannya tahun lalu menyusul ancaman yang diterima pemilik apartemennya dari polisi keamanan negara, lapor situs HAM Frontline Defenders.

Baru-baru ini, keamanan negara mencoba melecehkan keluarga pengacara HAM Beijing pada 26 Mei saat mereka mencoba menuntut pemerintah Tiongkok karena menghilangkan aktivis maupun pengacara HAM secara paksa.

Lihat tweet ini untuk beberapa gambar yang berhubungan dengan hal tersebut.

Banyak pengacara HAM  yang telah dibebaskan setelah penahanan mereka pada 2015. Mereka juga banyak berbicara tentang bagaimana mereka disiksa dan dianiaya saat ditahan oleh pemerintah.

Beberapa dari mereka yang telah dibebaskan, memberikan pengakuan yang disiarkan di TV pemerintah, dimana terkesan bahwa mereka dipaksa untuk mengakui hal tersebut. Yang lainnya dijatuhi hukuman penjara karena tuduhan “berusaha menumbangkan kekuasaan negara.”

Misi diplomatik 11 negara, yaitu Australia, Kanada, Jepang, Swiss, Belgia, Republik Cheska, Estonia, Prancis, Jerman, Swedia, dan Inggris sepakat untuk membuat joint letter pada Februari, yang menyatakan “kekhawatiran yang meningkat atas klaim baru-baru ini, atas penyiksaan dan perlakuan atau hukuman yang kejam, tidak manusiawi, atau merendahkan martabat manusia dalam kasus-kasus yang melibatkan pengacara HAM.

Mereka sendiri banyak yang ditahan dan beberapa diantaranya tidak diketahui kondisi keadaannya hingga kini”.

Li percaya bahwa suaminya tidak mau membungkuk dan mengakui kesalahannya di bawah tekanan pemerintah, karena itulah suaminya tetap ditahan hingga kini.

“Saya pikir itu mungkin karena suami saya sama sekali tidak mau berkompromi. Karena itulah kasusnya masih belum dapat terpecahkan,” kata Li.

Sebagai pengacara, Wang memiliki banyak risiko dengan pemerintah komunis karena membela orang-orang yang dianiaya oleh negara, seperti para praktisi Falun Gong, wartawan investigasi, dan pendukung demokrasi.

Insiden terburuk terjadi di Kota Liaocheng, Provinsi Shandong pada 18 Juni 2015, tidak lama sebelum dia ditahan secara diam-diam. Di sebuah ruangan gedung pengadilan, dia dipukuli dengan keras karena membela praktisi Falun Gong. Wang menulis tentang pengalaman tersebut secara terperinci yang diposting dalam situs Tiongkokchange.org, yang isinya seperti berikut:

“Jadi seorang petugas hukum menarikku berkeliling dan mulai menyeretku keluar dari ruang sidang. Saya berteriak: ‘Saya dipukuli, mengapa Anda malah memukul saya!’ Seorang perwira polisi yang muncul setelahnya mulai meninju kepala dan wajah saya keras-keras, hingga kacamata saya terlempar.

“Saya diseret ke sebuah ruangan di lantai pertama gedung pengadilan, dan diperintahkan oleh salah satu polisi untuk berlutut. Saya menolak. Mereka mulai memukuli saya lagi. Ketika saya bertanya mengapa, mereka mulai memukuli hingga berdarah sekali lagi. Saya kembali menanyakan hal yang sama, dan sekali lagi saya ditinju dengan kejam. Hal ini pun terus berlanjut sampai saya tidak berani mengajukan pertanyaan.

“Ini berlangsung sekitar 10 menit. Begitu mereka menjinakkan saya, mereka menghentikan pemukulan tersebut dan menyuruh saya duduk di kursi, dan membawa minuman sesuai permintaan saya. Saya menemukan bahwa baju saya telah dirobek sampai compang-camping, wajah saya terasa seperti terbakar, kepala saya terasa bengkak, dan seluruh tubuh saya dipenuhi rasa sakit.”

Ini adalah laporan  NTD Tiongkok mengenai insiden sebelumnya 2013 ketika Wang ditahan karena membela praktisi Falun Gong di sebuah pengadilan di Provinsi Jiangsu, Tiongkok. (jul/rp)

Share

Video Popular