Erabaru.net. Pejabat Tiongkok telah memberitahu AS bahwa mereka telah memperketat inspeksi dan penjagaan kepolisian di sepanjang perbatasan dengan Korea Utara, sebagai bagian dari sanksi PBB yang bertujuan untuk menghentikan aktivitas nuklir dan rudal Pyongyang. Hal itu disampaikan diplomat utama AS untuk Asia Timur pada Jumat lalu.

“Tindakan Beijing mencerminkan kesadaran bagi pemerintah Tiongkok untuk menekan dan mendesak Korea Utara agar menghentikan pengujian rudal dan bom nuklirnya,” kata Asisten Sekretaris Menteri Luar Negeri AS Susan Thornton di Beijing.

Pemerintahan Presiden Donald Trump telah membuat dorongan baru untuk meminta bantuan Beijing dalam upaya tersebut menyusul sebuah pertemuan antara Trump dan Presiden Tiongkok Xi Jinping bulan lalu.

Thornton menambahkan bahwa pemerintahan Tiongkok tidak mengubah komitmennya dalam melibatkan diri dengan negara-negara di kawasan Asia Pasifik atau pendekatannya terhadap operasi angkatan laut di Laut Tiongkok Selatan yang disengketakan.

“Untuk Korea Utara, AS telah melihat pergeseran penekanan dalam pendekatan Tiongkok terhadap sesama tetangga komunisnya,” ujar Thornton.

“Tiongkok mengatakan bahwa mereka telah meningkatkan pemeriksaan perbatasan, meningkatkan fungsi kepolisian di perbatasan, meningkatkan pemeriksaan pabean,” imbuhya.

Menurutnya Beijing juga telah melakukan “sejumlah hal lain pada perusahaan-perusahaan” yang memiliki hubungan dengan Korea Utara, tanpa memberikan rincian.

AS telah berbicara dengan Beijing tentang tindakan untuk melawan perusahaan tertentu yang melanggar peraturan tersebut, dan AS akan menunggu untuk melihat tindakan macam apa yang akan diambil Tiongkok dalam menanggapinya.

Tiongkok telah menandatangani kontrak untuk mendukung sanksi PBB terhadap Korea Utara dan menangguhkan impor batubara dari Korea Utara sepanjang sisa tahun ini. Namun pemerintah Tiongkok masih enggan mengambil langkah-langkah lain untuk merusak hubungan mitra perdagangan dan diplomasi Pyongyang yang paling penting.

Ketika ditanya tentang komentar Thornton, juru bicara kementerian luar negeri Tiongkok Lu Kang mengatakan bahwa Tiongkok tetap berkomitmen untuk “menerapkan secara ketat” sanksi PBB namun tidak memberikan rincian atau tindakan lain yang mungkin akan dilakukan.

Lu juga menekankan seruan Tiongkok untuk memperbarui perundingan denuklirisasi enam negara yang telah berlaku sejak tahun 2009, dengan mengatakan bahwa semua pihak harus bersikap fleksibel, saling bertemu, dan merundingkan kembali sesegera mungkin.

Thornton mengatakan bahwa AS, Tiongkok dan negara-negara lain juga sedang membicarakan resolusi PBB mengenai masa depan Korea Utara dan untuk mengambil tindakan yang tepat, menyusul uji coba nuklir atau rudal lainnya yang mungkin akan dilakukan Korea Utara dalam waktu dekat.

“Jadi kita mencoba untuk mengambil langkah-langkah besar berikutnya yang akan dilakukan setelah provokasi lain dari Korea Utara,” kata Thornton.

Langkah-langkah tersebut dapat mencakup sanksi tekanan ekonomi Korea Utara dengan menargetkan penekanan perdagangan bahan makanan dan tekstil.

Menanggapi komentar Lu, Thornton mengatakan bahwa pejabat Beijing sekarang telah menyadari bahwa ada tekanan yang diperlukan sebelum dialog dapat dipulihkan.

“Jadi mereka tahu sekarang bahwa mereka tidak memiliki lebih banyak waktu untuk membawa orang-orang Korea Utara, untuk merundingkan masalah ini,” ujarnya.

Thornton menambahkan, Beijing juga tampaknya telah menyadari bahwa tindakan Korea Utara dapat “mengancam keamanan Tiongkok sendiri dengan ancaman cukup besar.

“Mereka menyadari bahwa akan sangat sulit untuk melakukan dialog, sementara Korea Utara terus menembakkan rudal,” ujarnya.

Korea Utara meledakkan dua perangkat nuklir tahun lalu, yang salah satunya diklaim sebagai bom hidrogen. Gambar yang diambil dari satelit menunjukkan bahwa Korea Utara sedang bersiap untuk melakukan tes berikutnya, yang keenam, kapan saja.

Pada hari Senin, Pyongyang mengatakan bahwa pihaknya siap untuk mulai memproduksi massal rudal jarak menengah baru setelah peluncuran uji coba nuklir akhir pekan untuk memastikan kesiapan tempurnya. Tujuan rezim tersebut adalah untuk menyempurnakan sebuah bom nuklir yang bisa dipasang pada sebuah rudal yang mampu menyerang Washington atau kota-kota AS lainnya.

Beberapa pihak di luar pemerintahan kurang optimis tentang kesediaan Tiongkok untuk bekerja sama dengan AS terkait masalah Korea Utara, sementara pejabat Beijing mengatakan bahwa pengaruhnya terhadap Pyongyang telah dibesar-besarkan. Tiongkok mempertahankan bahwa meski ingin menetralkan Korea Utara sebagai ancaman, mereka tetap menentang sanksi keras atau tindakan lain yang dapat menjatuhkan rezim pemimpin muda Kim Jong Un, yang menyebabkan meningkatnya jumlah pengungsi Korea Utara serta pasukan militer Korea Selatan dan pasukan Amerika di perbatasan Tiongkok.

“Tiongkok terus berupaya bernegoisiasi dengan Korea Utara, namun hanya ada sedikit bukti tentang tekanan sebenarnya,” kata Dean Cheng dari Lembaga  Heritage Foundation di Washington.

Cheng juga mengkritik Tiongkok karena menekan Korea Selatan untuk tidak menggunakan sistem anti-rudal AS yang canggih, yang ditujukan untuk melawan Korea Utara. Beijing mengatakan bahwa sistem tersebut akan mengancam keamanannya sendiri.

“Singkatnya, Tiongkok telah memperjelas posisinya kepada Seoul, bahkan dalam menghadapi tes rudal Korea Utara, tentang kekhawatiran Tiongkok di atas keamanan rakyat mereka sendiri,” kata Cheng.

Meskipun ada laporan bahwa administrasi Trump mempertimbangkan kembali “poros” Barack Obama ke Asia, Thornton mengatakan bahwa Washington belum akan melakukan perubahan substansial.

Hal ini dikarenakan tindakan Angkatan Laut AS yang sedang berlayar dengan kapal perusak di dekat sebuah pulau buatan Tiongkok di Laut Tiongkok Selatan pada Kamis lalu dalam operasi “kebebasan navigasi” yang bertujuan untuk menantang anggapan AS tentang  pengklaiman wilayah yang berlebihan di jalur strategis yang diklaim Beijing.

“Pendekatan yang kemungkinan akan dilakukan Washington adalah melibatkan diri dengan Asia untuk menunjukkan bahwa ‘kita’ masih hadir di kawasan ini, bahwa “kita” akan mempertahankan komitmen keamanan ‘kita’ di wilayah ini, tentu mendukung sekutu kita dan memfokuskan Korea Utara dalam prioritas keamanan kawasan,” ungkap Thornton. (jul/rp)

Share

Video Popular