Erabaru.net. Fotografer Polandia dan seniman visual Wiktoria Wojciechowska ambil bagian dalam proyek sebuah pemukiman seniman di Beijing pada tahun 2013. Dia membuat ajang penghargaan pemenang Short Flashes , yang terinspirasi dari kutipan tulisan Shelling Beans karya penulis Polandia Wiesław Myśliwski.

Dekorasi Tahun Baru yang runtuh tak terurus di lantai. Dari rangkaian dokumentasi foto ‘Here Live Only Sparrows’ (Gambar: Wiktoria Wojciechowska)

Tulisan itu mempengaruhinya untuk membuat proyek rangkaian dokumentasi foto yang ditampilkan dalam artikel ini, Here Live Only Sparrows, yang menunjukkan pemukiman  di sebuah desa dekat Beijing yang dihancurkan agar pemerintah dapat memberi lebih banyak ruang untuk membangun pabrik. Penduduk desa terpaksa dipindahkan dari desa tersebut


Warga terpaksa merelokasi sehingga pabrik bisa dibangun. Dari rangkaian dokumentasi foto ‘Here Live Only Sparrows’ (Gambar: Wiktoria Wojciechowska)

Wiktoria menggunggah rangkaian foto-foto desa tersebut dan berbagi kisah sejarah keras yang mengilhami judul tersebut di situs webnya, bersamaan dengan kisah menyentuh saat dia bertemu dengan seorang penduduk setempat dari desa tersebut.

Rumah yang terbongkar, dengan latar belakang gunung dan beberapa pohon yang dibiarkan berdiri. Dari rangkaian dokumentasi foto ‘Here Live Only Sparrows’ (Gambar: Wiktoria Wojciechowska)

Seperti yang tertulis dalam website Wiktoria Wojciechowska :

“Pada pertengahan tahun 1958, Mao Zedong memulai “Perang Burung Gereja”. Dia menyalahkan burung gereja karena dianggap merekalah yang menghancurkan hasil panen dan menyebabkan kelaparan. Semua orang Tionghoa berkewajiban untuk memusnahkan burung gereja dengan menggunakan ketapel, tongkat, pengetuk, drum, pot, atau segala sesuatu yang dapat menghantui, membuat suara, dan tidak membiarkan burung hinggap disana. Butuh waktu 15 menit agar burung gereja mati karena kelelahan.”

Dari rangkaian dokumentasi foto ‘Here Live Only Sparrows’ (Gambar: Wiktoria Wojciechowska)

Ratusan juta burung gereja terbunuh, dan mereka nyaris punah. Akibatnya, jumlah serangga, seperti belalang meningkat, karena belalang tidak lagi memiliki pemangsa utama mereka, yaitu burung gereja.

Pada tahun berikutnya, populasi belalang terus meningkat drastis, mereka memakan semua tanaman yang terlihat. Hal ini menyebabkan produksi gandum di sebagian besar wilayah pedesaan menurun, diikuti oleh kelaparan besar-besaran.

Reruntuhan bangunan. Dari rangkaian dokumentasi foto ‘Here Live Only Sparrows’ (Gambar: Wiktoria Wojciechowska)

Segala tulisan yang mengangkat topik kelaparan itu menjad hal yang tabu dan dilarang di Tiongkok. Masa itu adalah bagian gelap dari sejarah mereka di mana banyak orang dibunuh karena makanan, bahkan orang mulai memakan satu sama lain, diantaranya kasus orang tua yang memakan anak mereka sendiri untuk bertahan hidup.

Diperkirakan 45 juta orang meninggal dalam kelaparan akibat kesalahan manajemen ekonomi, bencana lingkungan, dan teror negara di bawah pemerintahan Mao.

Hampir 50 tahun berlalu, Wiktoria Wojciechowska merenungkan peristiwa  ini, dan membayangkan hubungan orang-orang Tiongkok dengan burung gereja.

Merasa hampa saat di dalam desa, namun masih ada sedikit harapan dalam simbol burung gereja dan orang tua, ketahanannya yang lembut, adalah perasaan yang Wiktoria rasakan saat dia mengunjungi sebuah desa yang hampir hancur total untuk memberi ruang bagi pertumbuhan ekonomi nasional Tiongkok.

Bangunan kosong. Dari rangkaian dokumentasi foto ‘Here Live Only Sparrows’ (Gambar: Wiktoria Wojciechowska)

Inilah pengalamannya selama dia mengunjungi desa tersebut yang ditulis dalam website nya :

“Saat saya melewati bangunan pertama, saya merasakan kehampaan, kekosongan total dan hanya mendengar suara burung yang melintas. Saat saya mengunjungi desa waktu itu adalah awal Februari, namun hari-hari terasa sangat panas. Suhunya mencapai 30 derajat celcius. Saya dikelilingi oleh bangunan terbengkalai tanpa jendela, pintu, dan atap. Rasa takut, hampa, sepanjang jalan hanya memandang rumah kosong, berbanding terbalik dengan kondisi sebelumnya dimana penuh dengan semarak dan kehidupan beberapa bulan yang lalu. Bayangan ini terlukis jelas dalam penglihatan saya.”


Barang bawaan warga yang ditinggal karena harus mengosongi rumah mereka. Dari rangkaian dokumentasi foto ‘Here Live Only Sparrows’ (Gambar: Wiktoria Wojciechowska)

“Saya menyeberangi lorong-lorong berikutnya, dan melihat bangunan seperti gambar Chirico. Lingkungan tersebut penuh dengan kehancuran dan kekacauan barang-barang yang berserakan: buku catatan anak-anak, ransel, topi, dan pot. Di sebuah meja di antara reruntuhan jendela yang hancur, ada kartu yang ditinggalkan oleh beberapa pemain poker. Saya memasuki rumah; ada Dekorasi Tahun Baru yang kehilangan warna; Matahari bersinar menembus pecahan ubin, burung gereja menyanyi dengan riang di atas pentungan. ”

Bangunan tak berpenghuni. Dari rangkaian dokumentasi foto ‘Here Live Only Sparrows’ (Gambar: Wiktoria Wojciechowska)

“Saya naik ke lantai yang lebih tinggi, melewati kamar-kamar di tengah labirin Kafkaesque: jalan-jalan sempit, celah antara rumah, dapur terbuka, batu bata, kaca, kolom, sampai bagian atas bangunan. Saya melompati rintangan tanpa tujuan. Sangat pengap sampai kepala saya berputar … ”

Reruntuhan yang tertinggal dari puing-puing rumah. Dari rangkaian dokumentasi foto ‘Here Live Only Sparrows’ (Gambar: Wiktoria Wojciechowska)

Tiba-tiba seseorang menyentuh lengan saya. Saya berbalik dan melihat seorang pria pendek tua dengan senyum jujur.

‘Apa yang kamu lakukan di sini?’ Dia bertanya.

‘Memotret,’ jawabku.

Lalu kami duduk di bangku kecil, yang dia ambil dari dalam sebuah rumah .

‘Tao Zhuang akan dibongkar dan dihancurkan seperti desa lainnya, karena pemerintah membutuhkan tempat baru untuk membangun pabrik dan kawasan perekonomian. Semua orang ditampung di desa lain.

Dia menuangkan air panas (kāishuî) ke dalam cangkir dan memberikannya kepada saya. Beberapa daun teh hijau mengambang di dalamnya. Dengan basah kuyup akibat keringat, saya mendengarkan bapak ini berbicara.

“Saya terus mengawasi desa ini sampai pembongkaran, saya satu-satunya orang di sini. Tolong ambil foto saya dan rumah saya. Keduanya adalah milik saya: yang baru dan yang lama.’

Seorang pria dari desa itu meminta difoto sebelum rumahnya dibongkar. Dari rangkaian dokumentasi foto ‘Here Live Only Sparrows’ (Gambar: Wiktoria Wojciechowska)

“Dia menuangkan air lagi ke cangkir saya. Kami sedang duduk di bangku kayu di tengah sebuah tempat yang akan dilenyapkan dari muka bumi sebentar lagi, dan kami melihat burung gereja yang ceria membuat sarang mereka di celah bangunan. ” (jul/rp)

Gunungan reruntuhan bangunan. Dari rangkaian dokumentasi foto ‘Here Live Only Sparrows’ (Gambar: Wiktoria Wojciechowska)

 

Share

Video Popular