Erabaru.net. Dewan Keamanan PBB melakukan voting pada hari Jumat ini perihal proposal yang diajukan oleh AS dan Tiongkok untuk melarang  pejabat maupun badan usaha milik Korea Utara, setelah negara tersebut berulang kali meluncurkan rudal untuk uji coba.

Rancangan resolusi ini, akan melarang empat badan, termasuk Koryo Bank dan Strategic Rocket Force of the Korean People’s Army, juga 14 orang, termasuk Cho Il U, yang diyakini sebagai mata-mata Korea Utara di luar negeri.

Jika benar diterapkan, semua badan itu akan menjadi beku asetnya secara global dan orang-orang tersebut akan tidak dapat keluar dari negara Korea Utara sama sekali, membuat lebih banyak lagi pejabat-pejabat Korea Utara yang tersisolasi di negaranya.

Ini adalah resolusi pertama mengenai Korea Utara yang disetujui oleh kedua pihak AS maupun Tiongkok, sejak Presiden Trump berkuasa bulan Januari lalu.

Keputusan yang diambil di belakang layar mungkin bisa membuat resolusi ini benar-benar diterapkan, namun jika voting dilakukan secara terbuka, itu akan menjadi jelas, siapa saja yang bisa membuat Korea Utara menjadi marah.

Amerika telah bernegosiasi dengan Tiongkok, satu-satunya sekutu diplomatik Korea Utara selama lima minggu untuk kemungkinan sanksi lain. Kedua negara ini mencapai kesepakatan dan telah menginformasikan rancangan resolusi ini ke – 3 anggota dewan yang lain.

Belum jelas jika Rusia yang memiliki hak veto akan mendukung resolusi ini setelah AS menjatuhkan sanksinya pada hari Kamis kemarin kepada dua firma Rusia yang mendukung program senjata Korea Utara.

Wakil Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Ryabkov mengatakan bahwa Rusia merasa bingung dan waspada terhadap keputusan yang diambil oleh Amerika dan bahwa Rusia sedang mempersiapkan semacam tindakan balasan, kata media Rusia melaporkan.

Sementara Rusia tidak memiliki niat untuk menentang sanksi PBB, hubungan negara ini dengan AS penuh dengan kecemasan, dan hal itu bisa saja membuat keputusan AS untuk ‘menekan’ Korea Utara menjadi rumit.

Tidak ada tanda-tanda peningkatan perdagangan antara Rusia dan Korea Utara, namun bisnis dan transportasi antara kedua negara tersebut semakin  ramai. (reuters.com/jul)

Share

Video Popular