Erabaru.net. Sebagian besar festival Tiongkok didasarkan pada warisan legenda dari generasi masa lalu. Festival ini dirayakan, tidak hanya untuk kesenangan, tapi lebih untuk pelestarian tradisi dan warisan. Festival Duan Wu (Festival Perahu Naga) jatuh pada hari kelima bulan lunar kelima.

Selain Festival Perahu Naga, Festival Tahun Baru Imlek dan Festival Pertengahan Musim Gugur merupakan festival terpenting bagi orang Tionghoa. Nama lain untuk Duan Wu adalah “Tien Zhong“. Orang-orang kuno menyebut bulan kelima sebagai “bulan yang kejam” atau “bulan racun”, karena cuaca menjadi sangat panas, dan akan muncul banyak berbagai jenis serangga yang mengandung penyakit menular yang mudah menular dengan cepat.

Untuk mengatasi kondisi seperti itu, mereka menggunakan “tien zhong wu rui,” lima tanaman yang dikenal sebagai Jeringau (jenis rush atau sedge), rumput gajah, bunga delima, bawang putih, dan bunga lily (Lilium concolor) untuk detoksifikasi. Festival Perahu Naga mempromosikan semacam menjaga kebersihan di zaman kuno.

Untuk memperingati penyair kuno Qu Yuan, beberapa menamakan festival ini sebagai “Festival Penyair”. Selain itu juga dikenal sebagai “Festival Jeringau,” karena setiap rumah akan menggantung tanaman Jeringau untuk menangkal kejahatan. Nama lain yang lebih terkenal adalah “Festival Perahu Naga,” dinamai untuk ritual lomba perahu yang digelar pada hari itu juga.

Festival itu berasal dari periode Perang di Tiongkok lebih dari 2.000 tahun yang lalu. Ada beberapa versi cerita asal muasal dari festival ini.

Untuk memperingati penyair patriotik Qu Yuan

wikipedia

Qu Yuan adalah penduduk negara bagian Chu selama masa perang. Menurut riwayat Shi Ji, dia adalah salah satu menteri saat pemerintahan Kaisar Huai berkuasa. Dia melayani negara dengan sepenuh hati dan sangat lurus, dai juga berkebijakan tinggi, sehingga membuat banyak orang iri padanya, kemudian beberapa pejabat lain menipu Kaisar sehingga mengasingkan dirinya.

Dia diasingkan ke wilayah Yuan dan Xiang. Selama pengasingannya, Qu Yuan menyusun puisi-puisi yang mengungkapkan perasaan hatinya dan berpengaruh pada stabilitas bangsa dan penghidupan masyarakat. Qin kemudian mampu menaklukkan negara bagian Chu. Qu Yuan pun patah hati dan putus asa.

Dengan syair terakhirnya yang ditulis pada tanggal lima Mei, dia menenggelamkan diri dengan memegang batu besar di Sungai Yu Luo, untuk menunjukkan hatinya yang patriotik dengan merelakan hidupnya sendiri untuk tetap mengikuti negara Chu bahkan ketika negara itu hancur. Orang-orang Chu merasa sedih dan semua berlari ke sungai untuk memberi hormat kepada Qu Yuan.

Nelayan mencoba menemukan tubuhnya, namun tidak bisa. Agar jasadnya tidak dimakan ikan, salah satu nelayan melemparkan nasi dan telur ke sungai untuk memberi semangat kepada Qu Yuan, yang kemudian juga diikuti oleh lainnya. Seorang dokter menuangkan anggur ke sungai untuk meracuni semua monster dan penghuni sungai.

Karena takut monster bisa memakan jasad Qu, orang-orang melempar nasi yang dibungkus daun berry Tiongkok. Sehingga dari situ, masyarakat kemudian menggantinya dengan pangsit nasi untuk dilemparkan ke sungai saat festival Perahu Naga berlangsung..

Untuk Memperingati Kebaikan Putri Cao E, dari Dinasti Han Timur

Cao E adalah penduduk Shang Yu dari Dinasti Han Timur. Ayahnya tenggelam di sungai, tapi mayatnya tidak bisa ditemukan. Cao E baru berusia 14. Dia menangis sepanjang siang dan malam di sepanjang sungai. Tujuh belas hari telah berlalu, bertepatan dengan seperlima bulan Mei, Cao E memutuskan untuk bunuh diri, dengan melompat ke sungai. Lima hari kemudian, dia mendatangi tubuh ayahnya. Cerita ini kemudian menjadi legenda.

Pejabat daerah memerintahkan untuk membuat sebuah prasasti yang digunakan untuk mengabadikan kisahnya. Orang membangun sebuah kuil Cao E di tempat dia melompat ke sungai untuk mengingat sikap bakti kepada ayahnya. Mereka mengganti nama desa menjadi desa Desa Cao E dan sungai dimana dirinya dan ayahnya mati tenggelam, menjadi Sungai Cao E.

Legenda Upacara Totem dari Suku Bai Yue Kuno

Penemuan arkeologi baru-baru ini menemukan gerabah di dasar Sungai Chang Jiang (juga dikenal sebagai Sungai Yangtze). Potongan tembikar ini dihiasi dengan pola geometris, menunjukkan adanya warisan budaya yang berasal dari Zaman Batu Baru.

Disimpulkan bahwa sungai Chang Jiang sendiri dipercaya sebagai wilayah yang pernah diduduki oleh suku yang menyembah totem naga, yaitu suku Bai Yue. Suku Bai Yue tinggal di sepanjang sungai dan mereka mengakui jati diri mereka sebagai keturunan naga.

Mereka menggunakan banyak alat yang terbuat dari batu dan tembaga, bagian yang paling tidak biasa adalah alat masak yang memiliki 3 kaki geometris unik, yang diduga pernah digunakan oleh suku Bai Yue. Suku tersebut masih bertahan sampai dinasti Qin dan Han. Duan Wu adalah festival yang mereka tetapkan untuk menghormati nenek moyang mereka yang merupakan seekor naga.

Kini, sebagian besar keturunan Bai Yue berasimilasi dengan suku Han. Sisanya menjadi kelompok minoritas di wilayah Tingkok Selatan. Sejak saat itulah, Duan Wu telah menjadi festival rutin bagi seluruh masyarakat Tionghoa. (visiontimes/intan)

 

Share

Video Popular