Erabaru.net – Sejumlah kelompok massa melakukan aksi persekusi yakni mengejar orang-orang yang sebelumnya dijadikan sebagai target untuk main hakim sendiri. Langkah yang dilakukan berupa pemantauan melalui digital selanjutnya sosok menjadi target dijadikan sasaran intimidasi.

Kondisi ini bagi YLBHI, dinilai lebih parah daripada praktek-praktek sebelumnya seperti kasus dukun santet. Beberapa tahun lalu, sekelompok orang berama-ramai memburu orang-orang yang dicurigai dukun santet hingga terjadi pembunuhan.

“Saya sebenarnya jadi ingat bahwa tahun 1998, ada kita masih ingat soal dukun santet di Banyuwangi, ketika itu ada persekusi juga kepada para kiyai yang dianggap difitnah dukun santet,” kata Ketua YLBHI, Asfinawati di Gedung YLBHI, Jakarta Pusat, Kamis (2/6/2017).

“Ini tidak penting, apakah dia dukun santet atau kebetulan, sama seperti ini apakah orangnya itu menghina ulama betulan atau agama, yang penting ada persepsi publik yang ditanamkan bahwa telah terjadi itu,” lanjutnya.

Asfinawati mengurai pada kejadian terkait persekusi dukun santet sebagaimana saat-saat terjadi pembunuhan terhadap orang-orang yang dianggap dukun santet. Namun demikian, pada kenyataan bukan sebagaimana yang dimaksud dijadikan target.

Berbeda kasus dukun santet, YLBHI menilai kasus seperti saat ini terjadi pada era pesatnya dunia digital. Oleh karena  itu diserukan kepada negara harus segera melakukan investigasi serius.  Tak hanya pihak  kepolisian tapi juga Komnas HAM harus melihat secara serius di balik praktek persekusi.

Oleh karena itu, YLBHI menyerukan kepada negara terutama kepolisan untuk meminta kepada semua orang mengehetikan aksi persekusi. YLBHI juga meminta kepada kepolisian untuk menyelidiki seluruh akun-akun yang melakukan pembajakan terhadap akun orang dan membuatnya menjadi tendesius atau membuat akun palsu untuk  memprovokasi situasi.

Lebih jauh, diserukan kepada pihak keamanan tak hanya mengejar para pelaku seperti pembajak akun dan memviralkan status orang, memframing berbeda dari postingan orang yang bersangkutan. Kepolisian juga diminta untuk mencari pelaku utama di balik praktek persekusi yang marak terjadi.

“Siapa yang menjadi tokoh penggerak mesin ini, tidak mungkin kalau kita lihat mereka bisa melakukan tindakan yang sangat cepat, luas dalam waktu yang sangat singkat,” jelasnya. (asr)

Share

Video Popular