Eeabaru.net.  Presiden Donald Trump pada Kamis (1/6/2017) mengumumkan penarikan diri Amerika  terikat dari Perjanjian Iklim Global pada 2015 lalu di Paris untuk melawan perubahan iklim. Secara tegas Trump menolak bujukan dari para sekutu AS dan para pemimpin perusahaan besar dalam rangka untuk memenuhi janji kampanyenya dulu.

Trump menegaskan: “Kami akan mengundurkan diri!” Pada acara yang berlangsung di Kebun Mawar Gedung Putih itu, Trump mengecam imbas anjloknya sektor keuangan dan ekonomi AS akibat Perjanjian Iklim Paris yang dinilainya “kejam”. Menurutnya, penarikan diri Amerika Serikat ini mewakili penegasan kembali kedaulatan Amerika.

“Amerika Serikat akan memulai negosiasi, baik untuk kembali memasuki Perjanjian Paris atau memiliki perjanjian baru mengenai persyaratan yang adil bagi Amerika Serikat, dari sektor bisnis, pekerja, rakyat, hingga pembayar pajaknya,” cetus Trump.

Trump mencanangkan pesan “America First” yang dia gunakan saat dia terpilih sebagai presiden tahun lalu dengan mengatakan, “Saya terpilih untuk mewakili warga Pittsburgh, bukannya Paris.”

“Kami tidak ingin para pemimpin dan negara lain menertawakan kami lagi. Dan mereka tidak akan mampu lagi melakukannya,” ujarnya berapi-api.

“Untuk memenuhi kewajiban serius saya dalam melindungi Amerika dan warganya, Amerika Serikat akan menarik diri dari Perjanjian Iklim Paris,” kata Trump.

Amerika Serikat adalah satu dari 195 negara yang menyetujui Perjanjian Iklim Paris pada Desember 2015 lalu, yang merupakan perjanjian yang didukung oleh mantan presiden Barack Obama.

Pendukung perjanjian tersebut mengutuk langkah mundur Trump ini sebagai kegagalan dalam memimpin Amerika Serikat dan merupakan sebuah aib internasional.

“Pada saat ini, ketika perubahan iklim telah menyebabkan kerusakan yang menghancurkan di seluruh dunia, kita tidak memiliki hak moral untuk berpaling dari upaya melestarikan planet ini untuk generasi mendatang,” kata Senator AS, Bernie Sanders, yang menjadi nominasi presiden Partai Demokrat AS tahun lalu.

“Mengabaikan kenyataan dan meninggalkan Perjanjian Iklim Paris bisa menjadi salah satu kesalahan kebijakan luar negeri terburuk dalam sejarah bangsa kita, hal ini mengisolasi AS lebih jauh setelah perjalanan ke Eropa yang buruk dari Trump,” senator Partai Demokrat AS, Sheldon Whitehouse menambahkan.

Di bawah perjanjian iklim tersebut, baik negara kaya maupun miskin berkomitmen untuk mengurangi emisi gas rumah kaca yang disebut-sebut merupakan hasil pembakaran bahan bakar fosil dan disalahkan oleh para ilmuwan sebagai biang keladi pemanasan planet ini.

Amerika Serikat telah berkomitmen untuk mengurangi emisinya sebesar 26 persen menjadi 28 persen dari tingkat emisi tahun 2005 pada 2025 mendatang. Amerika Serikat, yang hanya dilampaui oleh Republik Rakyat Tiongkok (RRT) dalam emisi gas rumah kaca, menyumbang lebih dari 15 persen dari jumlah keseluruhan di seluruh dunia.

Trump, yang berkampanye presiden tahun lalu dengan slogan “America First”, menjanjikan pemilih untuk menarik mundur Amerika dari perjanjian iklim itu.

Selama berkampanye, Trump mengatakan bahwa perjanjian tersebut akan menghabiskan biaya triliunan dollar AS tanpa keuntungan nyata. Trump telah menyatakan keraguannya tentang perubahan iklim, yang ia sebut sebagai tipuan untuk melemahkan industri AS.

Janji Kampanye

Capres dari Partai Republik AS itu bersumpah selama kampanye untuk “membatalkan” Perjanjian Iklim Paris dalam kurun 100 hari setelah menjadi presiden pada 20 Januari 2017, sebagai bagian dari upaya untuk memperkuat industri minyak dan batubara AS.

Republik Rakyat Tiongkok (RRT) yang menggantikan Amerika Serikat sebagai penghasil emisi gas rumah kaca terbesar di dunia pada 2007, bersama Uni Eropa pada Jumat (2/6/2017) akan berusaha untuk mendukung Perjanjian Iklim Paris, dimana pejabat tinggi RRT akan bertemu pejabat tinggi Uni Eropa di Brussels, Belgia. Dalam sebuah pernyataan yang didukung oleh seluruh 28 negara Uni Eropa, Uni Eropa dan RRT siap untuk berkomitmen sepenuhnya terhadap kesepakatan tersebut.

Trump telah membongkar peraturan perubahan iklim era Obama, termasuk Rencana Daya Bersih (Clean Power Plan) AS yang bertujuan untuk mengurangi emisi dari pembangkit listrik utama bertenaga batu bara.

Beberapa negara bagian AS, termasuk Kalifornia, Washington, dan New York, telah bersumpah untuk terus mengurangi emisi gas rumah kaca dan terus terlibat dalam proses Perjanjian Iklim Internasional.

Perusahaan minyak utama, Shell dan ExxonMobil Corp., mendukung Perjanjian Iklim Paris. Beberapa perusahaan batubara besar, termasuk Cloud Peak Energy, secara terbuka telah mendesak Trump untuk tetap dalam perjanjian tersebut sebagai cara untuk membantu melindungi kepentingan pertambangan industri di luar negeri, meskipun beberapa pihak meminta Trump untuk keluar dari perjanjian tersebut untuk membantu meredakan tekanan peraturan pada penambang domestik. (Reuters/Et/Yant)

Share

Video Popular