Erabaru.net. Berdasarkan laporan Kew edisi tahun kedua yang dimuat dalam State of the World’s Plants, ada 28.187 spesies tanaman di seluruh dunia yang telah tercatat sebagai tanaman obat. Namun, dokumentasi tanaman obat yang buruk menyebabkan banyak masyarakat tidak memanfaatkan dengan baik manfaat yang terkandung dalam tanaman obat bagi kesehatan mereka, menurut laporan tersebut.

Prof Kathy Willis, direktur sains, RBG Kew, mengatakan bahwa 28.187 spesies tanaman yang saat ini tercatat sebagai obat obatan “mungkin adalah jumlah yang sangat konservatif.” Laporan ini juga penting mengidentifikasi alasan mengapa hanya 16%, bahkan kurang dari itu, atau sekitar 4.478 dari 28.187 spesies yang digunakan sebagai obat-obatan oleh khalayak umum, seperti yang dikutip dalam publikasi peraturan obat.

Menurut Wills, terdaoat 15 nama pengganti untuk masing-masing spesies tanaman obat; hal ini menyebabkan kebingungan pada masyarakat untuk mengenal keseluruhan dari tanaman obat di dunia. Laporan tersebut juga menyarankan bagaimana hal ini dapat disederhanakan dan diperbaiki dalam database seperti Service Name Service Medicinal Plant (MNPS) untuk membantu masyarakat mengidentifikasi dan lebih jauh mengenal tanaman-tanaman obat.

Dr. Gurib-Fakim, Presiden Republik Mauritius, menyampaikan sebuah pernyataan:

“Laporan penting ini menarik perhatian pada isu-isu seperti konservasi, dan juga seberapa efektif regulasi yang dapat dicapai melalui penggunaan nama-nama tanaman ilmiah yang lebih tepat, dan kesadaran yang lebih besar terhadap penggunaan sinonim alternatif yang sama dengan nama ilmiah atau nama umum tanaman obat.

“Banyak dari 28.000 spesies berpotensi sebagai obat, dan telah berkontribusi dalam memberi beberapa petunjuk yang sangat penting bagi pengembangan perobat-obatan modern, namun hanya sedikit yang benar-benar terdaftar secara resmi karena labelnya ambigu.”

Tanaman baru yang telah ditemukan sepanjang tahun lalu mencakup sembilan spesies tanaman merambat (genus Mucuna) yang digunakan dalam pengobatan penyakit Parkinson. Ada empat kerabat baru dari spesies lidah buaya yang ditemukan, yang banyak digunakan di industri kosmetik dan farmasi.

Dua tanaman, artemisinin dan kina, juga ditemukan dan merupakan “senjata terpenting” melawan malaria, yang menewaskan 400.000 orang pada tahun 2015.

Monique Simmonds, wakil direktur sains di kelompok botani terkenal di dunia, mengatakan dalam sebuah pernyataan :

“Laporan tersebut menyoroti potensi besar yang terkandung dalam tanaman, seperti pengobatan  untuk penderita diabetes dan malaria.”

Prof. Willis menjelaskan bagaimana tanaman merupakan fondasi ekosistem dunia, dan memegang peranan penting untuk mengatasi beberapa masalah paling mendesak bagi manusia. Namun, kita perlu membuat keseimbangan antara kebutuhan manusia dengan kebutuhan dunia alami.

“Kami telah mencoba untuk memastikan bahwa laporan tahun ini membahas tentang manfaat Tanaman Dunia yang sangat bermanfaat dan berharga bagi seluruh aspek kehidupan.

“Kemajuan teknologi memungkinkan kita untuk mengungkap misteri tanaman ke studi terperinci tentang karakteristik mereka, seperti molekuler untuk morfologi dan sebagainya . Kita bisa mendapatkan gambaran yang lebih baik dari sebelumnya tentang tanaman yang berharga maupun tanaman yang berbahaya bagi kita.”

Untuk menyusun laporan, penulis akan melibatkan 128 ilmuwan dari 12 negara.  Laporan ini juga akan mengungkapkan mengapa beberapa tanaman lebih rentan daripada ancaman global lainnya seperti perubahan iklim, penyakit, atau hama. Laporan ini juga akan berisi data yang belum pernah ada sebelumnya mengenai pola hidup dan lingkungan yang mempengaruhi kehidupan tanaman dari berbagai daerah.

Data terakhir menunjukkan bagaimana tanaman relevan dan berharga bagi semua aspek kehidupan kita. Willis mengatakan bahwa survei yang akan dilakukan saat ini harus berkontribusi juga untuk keberadaan spesies tumbuhan di seluruh dunia:

“Saya berharap ini akan memungkinkan kita untuk mengadakan percakapan global tentang apa yang kita butuhkan untuk melindungi dan melestarikan seluruh spesies tumbuhan, di dunia.” (visiontimes/intan/jul)

 

 

Share

Video Popular