Erabaru.net. Para peneliti di Brasil sedang bereksperimen dengan pengobatan baru untuk luka  bakar parah dengan menggunakan kulit ikan nila, sebuah prosedur tidak lazim yang menurut mereka dapat mengurangi rasa sakit korban dan mengurangi biaya pengobatan.

Kulit babi beku dan bahkan jaringan kulit ari manusia telah lama ditempatkan pada luka bakar agar tetap lembab dan memungkinkan pengalihan kolagen, protein yang mendorong penyembuhan.

Seekor ikan nila bersama potongan kulitnya ditampilkan di Jaguaribara, Brasil pada 26 April 2017. (PAULO WHITAKER / REUTERS)

Namun di Brasil, rumah sakit umumnya kekurangan persediaan kulit manusia dan babi, serta berbagai alternatif buatan lainnya yang mudah didapat di negara-negara Barat. Sebaliknya, pembalut kasa, yang membutuhkan penggantian secara intens, seringkali justru terasa sangat menyakitkan bagi pasien.

Ikan nila memang berlimpah di sungai- sungai dan peternakan ikan di Brasil, yang berkembang pesat seiring permintaan yang terus meningkat untuk ikan air tawar yang memiliki rasa yang ringan.

Para ilmuwan di Universitas Federal Ceara di Brasil utara telah menemukan bahwa kulit nila memiliki kelembaban, kolagen, dan ketahanan penyakit pada tingkat yang sebanding dengan kulit manusia, serta yang terpenting dapat membantu penyembuhan luka.

Di Tiongkok, para periset telah menguji kulit nila pada hewan pengerat untuk mempelajari khasiat penyembuhannya, namun ilmuwan di Brazil mengatakan bahwa percobaan yang mereka lakukan ini adalah yang pertama diterapkan pada manusia.

“Penggunaan kulit nila pada luka bakar belum pernah terjadi sebelumnya,” kata Odorico de Morais, seorang profesor di Universitas Ceara. “Kulit ikan biasanya dibuang, jadi kami menggunakan produk ini untuk mengubahnya menjadi sesuatu yang bermanfaat secara sosial.”

Perawatan dengan kulit nila dapat mempercepat penyembuhan beberapa hari dan mengurangi kebutuhan akan obat penghilang rasa sakit, menurut para periset Brasil tersebut.

Teknisi laboratorium universitas merawat kulit ikan dengan berbagai sterilisasi, dan mengirimkannya ke São Paulo untuk iradiasi guna membunuh virus sebelum dilakukan pengemasan dan pendinginan. Setelah dibersihkan dan dilakukan perawatan, maka kulit ikan nila bisa bertahan hingga dua tahun. Perawatan bertujuan untuk menghilangkan bau ikan.

Dalam uji coba medis, terapi alternatif ini telah digunakan pada setidaknya 56 pasien untuk mengobati luka bakar tingkat dua dan tiga. Para penderita tampak ditutupi kulit ikan, menyerupai makhluk dalam film fiksi ilmiah.

Seorang mekanik mobil, Antonio Janio mengalami luka bakar parah di lengannya saat silinder gas solder bocor. Menurutnya, perawatan kulit nila lebih efektif daripada perban yang perlu diganti setiap dua hari.

Kulit ikan memiliki kadar kolagen tipe 1 yang tinggi, tetap lembab lebih lama daripada kain kasa, dan tidak perlu sering diganti.

Kulit nila diterapkan langsung ke daerah yang terbakar dan ditutup dengan perban, tanpa perlu krim apa pun. Setelah sekitar 10 hari, dokter melepas perbannya. Kulit nila yang mengering dan mengendur dari luka bakar bisa dikelupas.

“Gunakanlah kulit nila. Ini bagus sekali,” kata Janio. “Yang terpenting, Anda tidak perlu minum obat dan tidak perlu mengalami rasa sakit ketika mengganti perban. Dalam kasus saya, saya tidak membutuhkannya, syukurlah.”

Morais mengatakan bahwa perawatan kulit nila harganya 75 persen lebih rendah daripada krim sulfadiazin yang biasanya digunakan pada pasien luka bakar di Brasil, karena ini adalah produk limbah peternakan ikan yang murah.

Para peneliti berharap perawatan ini akan terbukti layak secara komersial dan mendorong bisnis untuk memproses kulit nila bagi penggunaan medis. (Reuters/Osc/Yanto)

Share

Video Popular