Erabaru.net. Banyak hal yang ada di pulau kecil ini yang menjadikannya unik. Tapi apa yang menakjubkan tentang pulau ini adalah apa yang tidak bisa ditemukan di sana yakni wanita.

Gambar: Wikimedia Commons

Okinoshima, sebuah pulau yang sarat dengan tradisi agama Shinto, memandang serius akan tradisi kuno mereka, termasuk praktek kontroversial yang melarang wanita untuk menjejakkan kaki di atas pulau tersebut.

Bahkan, kaum pria pun harus berhati-hati ketika menginjakkan kaki di pulau itu. Mereka harus menanggalkan pakaian dan melalui ritual pembersihan sebelum tiba.

Mereka dilarang mengambil apa-apa pun dari pulau itu, bahkan sehelai rumput. Mereka juga harus melaporkan segala apa yang dilakukan di sana, laporan BBC.

Pulau suci Okinoshima, di Prefektur Fukuoka, Jepang.

Gambar: Wikimedia Commons

Seluruh pulau itu dianggap tanah suci. Penduduknya terdiri dari biarawan di kuil Okinoshima, yaitu bagian dari kuil besar Munakata.

Biarawan inilah yang memberlakukan larangan atas wanita, meskipun tidak banyak yang diketahui tentang sebabnya.

“Ada berbagai penjelasan berbeda tentang larangan tersebut. Ada yang mengatakan karena menstruasi sebagai penghinaan atas tanah suci ini,”tulis Ryo Hasimoto di Japan Times.

“Shinto melihat darah sebagai sesuatu yang kotor.”

Pulau ini terletak di antara daratan Jepang dengan Semenanjung Korea. Alasan yang lain adalah karena perjalanan melintasi laut ke pulau tersebut sangat berbahaya. Larangan atas wanita ini bertujuan untuk melindungi mereka.

Okinoshima letaknya di perdangan antara Jepang dan Semenanjung Korea di antara abad ke-4 sampai abad ke-9.

Pelaut yang meminta perlindungan kepada tuhan mereka akan berhenti di pulau tersebut untuk bersembahyang dan mempersembahkan barang mereka seperti pedang, cermin, dan manik.

Pengunjung Kuil

Sejak berabad yang lalu, sebanyak lebih kurang 80, 000 perhiasan senilai telah terkumpul di Okinoshima. Barang perhiasan ini dianggap sebagai harta nasional.

Barang berharga ini mungkin antara faktor mengapa Okinoshima mulai menarik perhatian organisasi UNESCO yang bakal menganugerahkan status World Heritage pada pulau ini pada bulan Juli.

Namun, penganugerahan status tersebut mungkin membawa masalah ke pulau ini. Ini akan menarik perhatian dunia kepadanya dan bakal menarik banyak pengunjung. Larangan terhadap wanita yang masih berlaku dapat menimbulkan masalah.

Saat ini, tidak menerima kunjungan ramai. Kaum pria diizinkan mengunjungi sekali setahun, pada 27 Mei, untuk menghadiri festival khusus untuk “menenangkan roh” tentara Rusia dan Jepang yang mati terbunuh sewaktu pertempuran pada tahun 1905 dahulu.

Ada protes disuarakan tentang larangan atas wanita termasuk dari sekelompok penganut Hindu tahun lalu yang mendesak UNESCO untuk mencabut status World Heritage sampai larangan tersebut dicabut.

Namun, meskipun pulau itu dianugerahi status itu, ada yang bersikeras bahwa larangan itu akan terus diberlakukan.

“Posisi kami tetap teguh meskipun pulau ini terdaftar dalam daftar World Heritage,” tegas seorang pejabat Munakata Taisha kepada Mainichi Daily. “Kami akan terus memantau kunjungan ke pulau ini,”

Takayuki Ashizu, kepala biarawan kuil Munakata Grand Shrine, memberitahu kepada Japan Times bahwa, “Kami tidak akan membuka Okinoshima ke publik meskipun jika ia terdaftar di UNESCO Cultural Heritage List karena publik tidak patut berkunjungan hanya di atas niat ingin tahu.”

Satu solusi yang sedang dipertimbangkan oleh pemerintah daerah Fukuoka adalah pembentukan fasilitas di mana pengunjung dapat mempelajari tentang pulau tersebut tanpa mengunjunginya, demikian laporan Japan Times. (Erabaru.com.my/asr)

Share

Video Popular