Oleh: Dr. Frank Tian, Xie

Erabaru.net. 100 hari masa pemeritahan Trump dicanangkan reformasi pajak yang “belum pernah ada dalam sejarah”, yakni menurunkan pajak perusahaan dari 35% hingga menjadi hanya sekitar 15% saja. Surat kabar People’s Daily langsung menerbitkan artikel yang mengkritisi, “Dari sudut pandang negara lain, pengurangan pajak AS sebenarnya adalah provokasi perang pajak”.  Atase Pajak Internasional dari Biro Pajak Nasional RRT, Liao Tizhong bahkan mengatakan, reformasi sistem perpajakan AS di era globalisasi ekonomi sekarang ini, akan menimbulkan “efek meluber”. Reformasi pajak AS menurutnya “kurang akan tanggung jawab sebuah negara besar”.

Kegusaran Pemerintah PKT ini murni adalah pandangan egois sepihak yang tidak rasional, juga tidak berdasar dan hanya menunjukkan buruk rupa suatu rezim otoritarian yang semena-mena yang tidak tahu aturan. Karena menerapkan pengurangan pajak, beban wajib pajak warga AS berkurang, yang justru akan semakin menonjolkan beratnya beban pajak warga RRT.

Pemerintah PKT yang terlalu memeras rakyat selama ini telah mengungkap rezim yang keji ini, sehingga membuat pemerintah Beijing betul-betul merasa tidak nyaman. Ini adalah penyebab kemarahan Pemerintah PKT yang berusaha menjaga citranya.

Warganet di RRT sudah sangat memahami pernyataan PKT yang bertolak belakang dan semakin menonjolkan keburukannya sendiri seperti ini. Mereka menyindir, “Ternyata 49 tahun lalu kita menentang pajak sumbangan ala Kuo Min Tang (Partai Nasionalis) adalah salah.” Mereka juga telah mengenali komentar negatif PKT terhadap pengurangan pajak AS, “Di mata orang jahat, selalu tidak bisa menerima adanya orang baik di dunia ini. Berdasarkan logika ini, suatu negara harus menaikkan pajak sampai menjadi yang tertinggi di seluruh dunia baru bisa dianggap negara besar yang bertanggung jawab! Rakyat negara mana yang hidup di tengah siksaan, bisa dilihat dengan mudah. Ibarat seorang pelacur menuduh wanita baik-baik melacurkan diri. Sangat tidak tahu malu, bukannya benar-benar bercermin dan memperbaiki keadaan, mengurangi beban usaha rakyat dan kaum pendapatan rendah, setiap hari bisanya hanya meneriakkan slogan, memuat artikelartikel yang lucu seperti ini di surat kabar, sungguh konyol.”

Dari sudut pandang lain, pengurangan pajak Pemerintah AS ini sebenarnya sudah merupakan prinsip Partai Republik sejak dulu, juga merupakan tindakan paling alami dari kabinet Trump sebagai realisasi aspirasi rakyat setelah pilpres kali ini. Di mata kaum ekonom yang liberal dan pembuat kebijakan konservatif, pengurangan pajak akan membuat pengeluaran rakyat dan perusahaan berkurang, sehingga pendapatan rakyat maupun perusahaan meningkat, lalu akan mendorong investasi swasta semakin meningkat, yang kemudian akan meningkatkan lapangan kerja dan pendapatan pemerintah, ini adalah prinsip pemerintahan kaum paham konservatif.

Yang diterapkan oleh pemerintahan Trump hanya kebijakan keuangan dan perpajakan yang telah diusungnya sejak masa kampanye, sebagai bagian dari kebijakan Trump. Jika efektif setelah diterapkan, maka kekuatan ekonomi pemerintah AS akan meningkat pesat, ketergantungan pada modal asing akan berkurang, Tekanan di Departemen Keuangan menjual surat hutang negara pun berkurang, sehingga RRT tidak bisa lagi menekan pemerintah AS dengan membeli surat hutang AS dalam jumlah besar. Kartu as di tangan PKT yang bisa digunakan semakin berkurang, inilah mengapa PKT sangat tidak senang jika pemerintah AS semakin sehat dalam hal keuangan dan semakin menjauhi kebijakan ekonomi yang berpaham sosialis. Ini juga alasan Beijing sangat tidak senang kekuatan pundi uangnya dilemahkan.

Dengan kata lain, dari segi pamor PKT tidak menghargai kebijakan ini, di sisi lain dari segi pundi uang menjadi sulit dilakukan, sehingga gusar dan marah, dan mulai mengecam AS “tidak bertanggung jawab”. Sebenarnya ini sangat tak beralasan dan hanya mengungkap kelemahan Beijing sendiri. Tapi karena telah diutarakan oleh PKT argumen ”tanggung jawab negara besar” ini, masyarakat bisa menilai apa yang dimaksud negara besar, inilah tanggung jawab yang seharusnya diemban negara besar, bagaimana seharusnya negara yang normal, bagaimana tanggung jawab negara kecil dan negara besar? Bagaimana negara besar yang bertanggung jawab akan mengemban tanggung jawab dunia?

Beberapa tahun terakhir ini media massa Beijing kerap melontarkan ungkapan negara besar, tanggung jawab besar, negara kuat dan lain sebagainya, penulis dalam serial artikel berjudul ”AS Ingin Menjadi Besar, RRT Ingin Menjadi Kuat” telah menjelaskan, yang dikejar oleh PKT adalah ”kuat” dari segi kekuatan militer dan kebrutalan, bukan sesuatu yang diimpikan oleh masyarakat AS arti dengan makna ”besar” yang sebenarnya dari segi moral dan kebenaran, serta kestabilan ekonomi dan militer.

Jika dikatakan masyarakat manusia adalah suatu keluarga besar, maka kampung dunia ini adalah keluarga global, jadi negara besar di tengah masyarakat internasional ini bisa dikatakan anggota keluarga utama atau kekuatan inti, yang paling besar dan kuat, dan paling disegani, yang seharusnya menjadi kepala suku, atau kepala keluarga. Sebagai negara yang menjadi kepala keluarga, tanggung jawab apa yang harus diembannya? Kepala keluarga harus menegakkan keadilan, menghukum yang bersalah, menjaga kedamaian, mensejahterakan seluruh manusia. Dari setiap hal ini, Amerika bisa mengemban tanggung jawab ini, sedangkan Beijing tidak hanya tidak mampu, sebaliknya justru menimbulkan dampak negatif.

Sebagai contoh poin “menyejahterakan umat manusia”, bisa dikatakan Amerika mampu. AS menelusuri luar angkasa dan mendarat di Bulan, mengambil spesimen bebatuan di bulan, institusi riset di seluruh dunia diberikan secara gratis untuk tujuan penelitian ilmiah demi kesejahteraan manusia. Dulu ketika mengambil gelar magister di Beijing University saya pernah melihat spesimen bebatuan dari bulan itu. Jaringan internet sekarang ini adalah hadiah dari AS bagi seluruh umat manusia; hal lain seperti tenaga listrik, telepon, pesawat terbang, transportasi udara, GPS, sinyal ponsel, juga mendunia berkat Amerika.

Dalam hal “mensejahterakan umat manusia”, apa yang telah dilakukan PKT? PKT telah memasukkan paham Marxisme dan mencelakakan seluruh rakyat Tiongkok; PKT mengirimkan paham komunisme ala RRT untuk juga mencelakakan masyarakat di negara lain, PKT mengakibatkan wabah kelaparan selama 3 tahun, dan kabut asap yang sampai berimbas ke negara lain, sebagai Negara atheis PKT menghancurkan ajaran agama kepercayaan, juga membahayakan rakyatnya sendiri dengan produk palsu dan tiruan, juga mencelakakan negara lain, Beijing bahkan juga menyebabkan pengangguran, pencemaran dan budaya partai-sesatnya ke negara lain…

Bangsa Tionghoa memang selayaknya memiliki tanggung jawab tertentu di dunia ini, Tiongkok memiliki penduduk terbanyak di dunia, juga memiliki luas wilayah yang besar, sejarah dan peradaban Tiongkok ribuan tahun membuat Tiongkok semakin harus memikul tanggung jawab ini. Tapi bagaimana caranya? Setidaknya ada beberapa aspek: ke dalam negeri harus bijaksana mensejahterakan rakyat kecil; ke luar negeri harus bermoral dan disegani oleh dunia; dalam hal budaya masih memiliki budaya tradisional dan tata krama serta adat, dan dalam hal militer harus mampu menggentarkan segala kejahatan dan menjaga perdamaian dunia; menjaga moralitas diri dan kehormatan dan lain sebagainya, inilah tanggung jawab sebuah negara besar, inilah yang dimaksud oleh Lao Zi (Lao Tzu / Laotse, 604SM – 531SM, merupakan ahli filsafat yang terpopuler dan juga merupakan pendiri Taoisme kini. Riwayat hidupnya tidak banyak terdapat dalam catatan historis, tetapi kewujudannya terbukti dalam catatan historis Tiongkok, Shiji. Wikipedia) dengan petuahnya “memerintah negara ibarat meracik kuliner (formula bumbunya harus pas, tidak boleh kelebihan juga tidak boleh kekurangan)”.

Sejak dulu hingga sekarang, semua pemerintahan yang terbuka, bersih dan bermoral, selalu menerapkan pajak rendah agar rakyat sejahtera. Dengan cara seperti ini, maka ekonomi akan makmur dan ketentraman akan terwujud. Semua rezim yang kejam, korup, dan tidak bermoral, selalu bertindak semena-mena, penerapan pajak yang berlebihan, pada akhirnya akan lengser dari pentas sejarah karena kesenjangan sosial, ekonomi yang melemah, serta berbagai sektor berguguran. Beijing saat ini, justru sedang menapaki jalan seperti  ini dan menuju ke masa depan yang tiada jalan kembalinya. (Sud/Yant)

Share

Video Popular