Dalam Tiga Aksara Klasik atau yang popular disebut San Zi Jing, adalah bacaan klasik Tiongkok yang paling terkenal untuk anak-anak. Ditulis oleh Wang Yinlan (1223-1296) selama Pemerintahan Dinasti Song, dan telah dihafal dari generasi ke generasi, baik tua maupun muda. Hingga tahun 1800-an, buku Tiga Aksara Klasik menjadi buku pengajaran pertama bagi setiap anak.

Literatur Tiga Aksara berirama, singkat, dan sederhana sehingga memungkinkan pembaca mudah membaca dan menghafalnya. Hal ini juga memudahkan anak-anak mempelajari aksara umum, struktur tata bahasa, pelajaran dari sejarah Tiongkok, dan terutama bagaimana berperilaku.

Namun setelah Revolusi Kebudayaan di Tiongkok, Tiga Aksara Klasik dilarang dan akhirnya tidak digunakan lagi. Dalam artikel ini, kami ingin menghidupkan kembali dan mengulas tentang literatur klasik Tiongkok yang hebat ini, dengan menarik hikmat pela¬jaran kuno dalam menjalani kehidupan modern kita.

Pelajaran Tiga Aksara Klasik pertama kali muncul dari keyakinan seorang filosofis Konfusius Mencius, yang juga digemakan oleh filsuf Barat lainnya seperti Jean-Jacques Rousseau (1712 – 1778) dan Immanuel Kant (1724 – 1804):

Orang-orang saat lahir
sifatnya baik
Sifat mereka kebanyakan sama
Tapi kebiasaan mereka menjadi sangat berbeda

Dengan kata lain, orang terlahir dengan bawaan baik. Sehingga kodrat mereka sangat mirip di awal kehidupan. Bayi dan balita dapat bervariasi dalam kepribadian mereka, namun pada umumnya mereka memiliki sifat-sifat yang sama yakni tidak berdosa dan murni, yang umumnya tidak dimiliki orang dewasa secara keseluruhan.

Namun, saat kita tumbuh dalam lingkungan tempat tinggal yang berbeda dan dipengaruhi oleh berbagai orang dan pengalaman, kita telah mengembangkan prioritas dan kebiasaan yang mendorong kita semakin jauh.

Beberapa dari kita belajar menghargai keluarga dan berbakti pada tempat utama; Yang lain belajar menghargai pekerjaan dan keuangan di atas semua hal lainnya. Beberapa menemukan kepuasan dalam hidup melalui pemenuhan kebutuhan materi; Yang lain menemukan makna dalam pencarian spiritual.

Sebuah kisah nyata berikut ini menggambarkan bagaimana dua sahabat lama tumbuh dan mengembangkan kepribadian dan nilai yang sangat berbeda dalam kehidupan:

Latar belakang sama, nilai berbeda

Seorang penulis Tiongkok menceritakan bagaimana ayahnya, Jing, adalah seorang yang terhormat, baik hati, dan jujur, yang bekerja sebagai tukang kayu di sebuah desa di Tiongkok. Sifat baik yang dimilikinya membuat ia disukai oleh semua orang.

Jing bersahabat dengan teman sekelasnya bernama Wang, yang sangat dikenalnya. Suatu hari, Wang mengundang Jing ke rumahnya untuk makan malam dan minum.

Saat mereka asyik minum dan mengobrol, Jing memperhatikan seorang pria tua, yang tampak seperti pelayan, membawakan mereka teh dan anggur serta memasakkan makanan untuk mereka.

Jadi dia bertanya kepada Wang, “Siapakah orang tua ini?” Wang menjawab, “Itu ayahku.”

Jing tertegun. Dia langsung melompat dan berkata kepada orang tua itu, “Paman, mohon duduklah.” Dia membantu pria itu duduk di tempat duduknya, lalu menuangkan segelas anggur kepadanya dan berkata, “Paman, mohon maafkan ketidak sopananku.”

Jing lalu berpaling ke Wang dan berkata, “Kini aku bukan lagi temanmu. Anda tidak tahu bagaimana menghormati tetua Anda.” Dia mengambil barangnya dan keluar. Wang mencoba mengatakan sesuatu, tapi Jing sudah pergi.

Jing telah belajar sejak usia muda bahwa seseorang harus selalu menghormati sesepuh dan gurunya. Di sisi lain, Wang mengambil prinsip ini ke dalam hidupnya. Meskipun berteman lama dan tumbuh di desa yang sama, Jing dan Wang telah mengembangkan karakter yang sangat berbeda, salah satunya lebih baik dari yang lain.

Kou Zhun menerima pelajaran dari luar kuburan sang ibu

Jadi apa yang membuat seseorang menjadi seperti Jing bukan Wang? Jawabannya terletak pada bait berikutnya dari Tiga Aksara Klasik:

Jika bodoh tidak ada pengajaran,
Sifatnya akan memburuk.
Cara mengajar yang benar
Adalah melampirkan penting¬nya ketelitian.

Sifat bawaan seseorang yang baik dipertahankan melalui pengajaran dan bimbingan sepanjang hidup seseorang. Tanpa bimbingan, bagaimanapun juga sifat baik ini bisa menjadi rusak.

Contoh yang bagus adalah kisah Kou Zhun, seorang perdana menteri yang hidup pada masa Dinasti Song Utara, Tiongkok kuno.

Kou lahir dalam keluarga intelektual. Namun, ayah Kou meninggal saat Kou masih muda, dan dia dibesarkan sendirian oleh ibunya, yang menyulam kain untuk membantu hidup mereka.

Terlepas dari kemiskinan dan kesulitan mereka, ibu Kou Zhun mengajarinya dan mendesaknya untuk bekerja keras, sehingga suatu hari dia bisa memberikan kontribusi besar bagi masyarakat.

Kou terbukti sangat cerdas, dan dia tidak mengecewakan ibunya. Pada usia 18 tahun, ia berhasil lulus dalam ujian negara dengan hasil yang luar biasa. Dengan demikian, di antara sedikit yang beruntung ia dipilih oleh kaisar untuk menjadi pejabat pemerintah.

Berita baik ini disampaikan kepada ibu Kou, yang sedang sakit parah pada saat itu. Saat terbaring sekarat, ibu Kou memberi seorang pelayan yang setia sebuah lukisan yang dia buat

“Kou Zhun suatu hari nanti akan menjadi pejabat pemerintah,” ucapnya dengan lirih. “Jika perilakunya mulai tersesat, berikan lukisan ini padanya.”

Mengubah perilaku boros

Karier Kou Zhun akhirnya menanjak hingga masuk dalam barisan calon perdana menteri, namun bagaimanapun juga, ketenaran dan kemewahan mulai masuk ke kepalanya. Karena ingin me-mamerkan kekayaan dan statusnya, ia memutuskan untuk menyelenggarakan perayaan ulang tahun yang boros, penuh dengan perjamuan dan pertunjukan opera.

Merasa sudah tiba waktunya, maka si pelayan setia itu menyerahkan lukisan sang ibu kepada Kou. Saat Kou membukanya, dia melihat sebuah lukisan dirinya sedang asyik membaca buku di bawah lampu minyak, dengan ibunya menenun kain di sisinya.

Ditulis di samping lukisan itu tertulis kata-kata:

Menyaksikan Anda menanggung kesulitan belajar di bawah cahaya redup,
Saya harap Anda menjadi orang yang lebih baik dan bermanfaat bagi orang banyak di masa depan.
Ibu Anda yang menyayangi telah mengajarkan kepada Anda kebajikan dari hidup berhemat;
Di masa masa depan menjadi kaya, jangan pernah melupakan orang-orang yang miskin, seperti dulu.

Kou Zhun membaca kata-kata ibunya berulang kali, lalu menangis. Jelas bahwa ia tidak memenuhi harapan ibunya. Dia meminta tamunya untuk pergi dan membatalkan perjamuan tersebut.

Berkat pengingat dari almarhum ibu Kou yang tepat waktu, Kou diselamatkan dari arus kemerosotan akhlak menuju keserakahan dan korupsi. Sejak saat itu, Kou hidup dengan hemat, memperlakukan orang lain dengan murah hati, dan menjalankan tugas resminya dengan moral dan integritas yang tinggi. Dia akhirnya menjadi salah satu perdana menteri paling terkenal dan tercinta dari Dinasti Song.

Kisah yang menghangatkan hati ini tidak hanya menggambarkan bahwa bimbingan dan pengajaran diperlukan dalam menempa karakter seseorang, namun kisah tersebut juga membawa pesan yang lebih mendalam, karena sifat asli manusia sebenarnya adalah baik, bahkan orang yang telah tersesat sekalipun dapat menemukan kembali sifat baik mereka, kembali kepada jati dirinya yang sesungguhnya.

Salah satu contoh yang terkenal adalah kisah Zhou Chu, seorang bajingan yang meneror desanya selama beberapa dekade. Setelah ia menyadari kesalahan selama perjalanan hidupnya, dia berubah dan membantu penduduk untuk membunuh dua ekor monster, yakni harimau dan naga, yang telah menjadi momok bagi warga desa tersebut selama bertahun-tahun.

Selama kita menyadari kesalahan kita dan bertekad untuk mengubahnya, maka tidak ada kata ter-lambat untuk menjadi orang yang lebih baik lagi. (Epochtimes/Ajg/Yat)

Share

Video Popular