Erabaru.net – Sudah banyak bukti yang menunjukkan, bahwasannya perkawinan yang tidak bahagia tidak baik bagi kesehatan.  Laporan Reuters dari Chicago, mengungkapkan sebuah laporan hasil penelitian dari universitas Ohio AS yang menyebutkan, bahwa tekanan yang disebabkan ketidakharmonisan dalam hubungan antara suami dan isteri akan mengakibatkan kecepatan proses pembuatan suatu protein untuk penyembuhan luka dalam darah menjadi lamban.

Hasil tes ditemukan, bahwa kecepatan pemulihan luka suami isteri dalam pertengkaran (tidak akur)  lebih lambat dibanding ketika hubungan mereka dalam keadaan baik (harmonis). Percobaan ini menggunakan suatu pengisapan vakum, yaitu dengan mengambil sebuah gelembung dari lengan penguji, meneliti tingkat pemulihan gelembung.

Sebuah artikel riset dalam Archives of General Psychiatry yang diterbitkan beberapa tahun lalu lalu sudah menyebutkan bahwa kecepatan pemulihan luka pasangan suami istri yang selalu bertengkar dengan sengit adalah 60%-nya dari suami isteri yang lain.

Penulis mengatakan sudah banyak sekali bukti yang menunjukkan, bahwa perkawinan yang tidak bahagia akan menyebabkan tekanan darah naik lalu timbul penyakit dan turunnya daya tahan tubuh terhadap penyakit pada pembuluh darah jantung.

“Meskipun kehilangan pasangan dapat mengakibatkan perubahan pada kondisi kesehatan dan jiwa, namun, dari perkawinan yang tidak bahagia itu sendiri adalah sumber suatu tekanan (stress),” demikian hasil penelitian itu.

Peneliti dari universitas Ohio telah mengadakan survei terhadap 42 pasutri  dari usia 22-77 tahun. Mereka dites 2 kali, tes pertama dalam pergaulan sosial, dan tes kedua dalam suasana ribut (bertengkar).

Penulis menuturkan, bahwa tekanan (stress) mungkin memperlambat terjadinya proinflammatory cytokines (hormon sel perintis peradangan pada bagian luka)protein ini adalah hasil dari leukosit (sel darah putih), yang memainkan peranan penting dalam proses penyembuhan awal.

Dan dari hasil penelitian juga ditemukan, bahwa suami isteri yang habis bertengkar dengan sengit sehari sebelumnya, hormon sel perintis peradangan dalam darah di pagi hari meningkat dibandingkan dengan pasangan suami isteri yang berada dalam kondisi damai (tidak bertengkar).

Para penulis menyebutkan, pada masa awal pemulihan luka, hormon sel perintis peradangan telah memberikan bantuan, namun, indeks yang terlalu tinggi akan merusak tubuh. Menurut penelitian, bahwa naiknya hormon sel perintis peradangan berhubungan dengan serangkaian penyakit berusia lanjut, termasuk penyakit pada pembuluh darah jantung, osteoporosis (tulang keropos), radang sendi dan lain-lain serangkain penyakit kanker, dimana fungis tubuh merosot.
(Sumber :  Dajiyuan/asr)

Share

Video Popular