Oleh: Chen Pokong

Erabaru.net. April tahun ini, “empat ksatria” dari Chengdu (ibukota Provinsi Sichuan) didakwa oleh Pemerintah Partai Komunis Tiongkok/ PKT dengan tuduhan “kejahatan menghasut makar terhadap rezim pemerintahan”.

Seorang sastrawan wanita di Chengdu bernama Ma Qing yang memublikasikan foto botol arak ini juga dipenjara selama 1 bulan.

Penyebabnya, hanya gara-gara empat ksatria dari bumi Sichuan itu yakni Chen Bing, Fu Hailu, Luo Yufu dan Zhang Juanyong, tahun lalu memproduksi arak botol yang berlabelkan Mengenang delapan arak enam empat (Ming Ji Ba- Jiu Liu-Si /銘記八酒六四).

Kata “arak” (Jiu) dalam bahasa Mandarin lafalnya sama dengan kata “sembilan” (Jiu), sehingga bisa dikonotasikan “Mengenang (tahun) 89 (tanggal) 4 Juni” (tragedi pembantaian Tiananmen 4 Juni 1989, Red.).

Peristiwa botol arak ini, dari sisi tradisi termasuk budaya terselubung. Dari makna ilmu sosiologi termasuk seni perilaku. Sementara dari sisi peradaban merupakan kebebasan berpendapat.

Dari semua aspek itu tidak ada satu pun yang bisa dijadikan alasan untuk menangkap apalagi memenjarakan orang.

Bahkan dari pasal “undang-undang” PKT sendiri pun tidak ada dasarnya. Apalagi sampai dituduh “kejahatan menghasut makar terhadap rezim pemerintahan”.

Sebuah botol arak, bisakah sampai menggulingkan rezim suatu negara besar?

Ini hanya bisa diterjemahkan sebagai saraf penguasa yang terlalu sensitif dan rezim PKT ini terlalu rapuh, psikologi para penghuni Zhongnanhai (pusat pemerintahan PKT di Beijing) yang terlalu lemah, yang ternyata sama sekali tidak mencerminkan citranya yang berwibawa dan kokoh berdiri.

Siapa pun yang memiliki penglihatan yang jernih, bisa menerawang dengan jelas ”dari permukaannya untuk menilai isi di dalamnya”.

Baca selanjutnya…

Share

Video Popular