Erabaru.net. Sosok seorang ksatria dan orang picik, awalnya mengacu pada kaum bangsawan dan rakyat biasa, tidak ada kandungan makna moralitas.

“Ksatria dan orang picik” dalam Analek Konfusius, di mana meskipun tetap pada perbedaan antara secara status sosial, tetapi pada batas tertentu melampaui standar status sosial. Menempatkan “moralitas” sebagai perbedaan terbesar antara sosok seorang “ksatria dan orang picik”.

Meskipun ada beberapa sosok “orang ksatria” sering diejek sebagai “munafik”, tapi ini tidak mempengaruhi konotasi sebagai pria ksatria.

Kalau begitu, bagaimana membedakan antara sosok seorang ksatria dan orang picik dalam kehidupan sehari-hari? Berikut 5 kriteria dari Konfusius.

1. Pandangan/pemikiran (kelapangan dada seseorang)

Seorang ksatria itu jujur, terbuka dan terus terang, sementara orang picik hatinya sempit, pesimis dan selalu gelisah.

Interpretasi: Sosok orang ksatria berjiwa lapang, terbuka, berpembawaan tenang. Sedangkan orang picik selalu perhitungan, memikirkan untun rugi, selalu cemberut, bermuram durja.

Kesimpulan: Jiwa seorang ksatria selalu ceria, baik ketika dilanda kesulitan atau sukacita, selalu bisa menghadapinya dengan suasana ceria, tenang, optimis dan tidak membabi buta, toleran terhadap orang lain, tidak ada kebencian, jadi seorang ksatria yang jujur terbuka melakukan sesuatu yang tidak akan menyalahi prnsip kebenaran sejati.

Sebaliknya orang yang picik selalu ada saja yang mengganjal dalam pikirannya, kalau bukan merasa orang lain yang bersalah padanya, pasti ia merasa ada sesuatu yang tidak beres dengan masyarakat, atau ada sesuatu yang akan merugikannya.

2. Pertemanan

Seorang ksatria bersikap tulus terhadap orang-orang, sedangkan orang picik memikirkan untung rugi, lebih condong pada orang yang bisa mendatangkan manfaat untuk kepentingannya sendiri.

Interpretasi: Seorang ksatria berteman akrab secara harmonis tanpa bersekongkol, sebaliknya orang picik biasanya bersekongkol dan tidak akrab dengan orang-orang sekitar.

Kesimpulan: Tidak peduli berteman dengan siapapun, sosok seorang ksatria selalu memperlakukan orang-orang dengan tulus dan adil, melihat teman sebagai sesama rekan, tidak berkomplot untuk kepentingan tertentu.

Sebaliknya orang picik selalu suka bergerombol dengan orang-orang yang seperti dirinya, mengucilkan diri sendiri, berkomplot untuk mencari kepentingan dan manfaat sendiri.

Ilustrasi. Sumber foto: https://thumbs.dreamstime.com

3. Standar penilaian

Seorang ksatria lebih menitikberatkan pada moralitas dan keadilan, sementara orang picik lebih mengutamakan kepentingan atau manfaat yang bisa dipetiknya.

Kesimpulan: Ketika menemui masalah, atau dihadapkan pada pilihan, seorang ksatria akan lebih dulu mengukur/menilainya dengan standar moralitas, kemudian membuat pilihan.

Sebaliknya orang picik akan lebih dulu mempertimbangkan bagaimana mendapatkan keuntungan dari masalah itu.

Inilah letak perbedaan terbesar antara sosok orang ksatria dan orang picik saat memikirkan sesuatu atau membuat pilihan.

4. Melihat benar dan salah

Sesok seorang ksatria membantu seseorang mewujudkan keinginannya (sesuatu yang positif), tidak membantu sesuatu yang buruk apalagi mencelakakan orang lain.

Sementara orang picik justeru sebaliknya.

Kesimpulan: Sosok seorang ksatria yang luhur memiliki kepedulian dan empati, ia bukan saja akan membantu orang lain terhadap masalah apapun yang sejalan dengan moral, tapi bersedia semaksimal mungkin membantu orang itu mewujudkan harapan, dan mendorong kemajuan serta keberhasilannya.

Tetapi sebaliknya hal-hal yang bertentangan dengan moral, melanggar etika dan hukum, maka sosok ksatria ini pasti tidak akan membantu kejahatan itu.

Ilustrasi. Sumber foto: https://thumbs.dreamstime.com

5. Kata-kata dan perbuatan

Sosok seorang ksatria bisa menjaga keharmonisan meski berbeda pandangan, sebaliknya orang picik cenderung lebih kepada kepentingan diri meski memiliki pandangan yang sama.

Interpretasi: Sosok seorang ksatria dapat mentolerir pandangan yang tidak sama, menciptakan suasana harmonis.

Orang picik terbiasa menyesuaikan dan menuruti pandangan orang lain atas segala hal ihwal, sementara dalam hatinya tidak seperti itu (Beda kata dan perbuatan).

Kesimpulan: Seorang ksatria dapat mentolerir pandangan, pendapat yang tidak sama, dan tidak akan menyembunyikan poinnya yang berbeda pandangan dengan orang lain, tulus dan terbuka.

Sebaliknya tidak demikian halnya dengan orang picik, mereka mungkin menyembunyikan pikiran/maksud mereka, atau sama sekali tidak punya pandangannya sendiri, bersikap munafik.

Secara permukaan mengiyakan, mengikuti pandangan orang lain, tapi punya maksud tersembunyi dalam benaknya, bahkan merencanakan sesuatu yang negatif terhadap orang lain. (Jhon/asr/rp)

Share

Video Popular