Erabaru.net. Ada banyak kisah dan legenda Tiongkok dari masa lalu yang secara langsung mencerminkan filosofi orang Tionghoa. Salah satunya adalah kisah berikut ini. Mari kita simak.

Suatu malam, Wei Zheng yang merupakan seorang politisi terkenal dari Dinasti Tang, mendengar kedua pelayannya berdebat di luar.

Pelayan pertama mengatakan kepada pelayan kedua, “Kita harus melayani pria tua di dalam sumur, karena dialah yang akan menentukan masa depan kita.”

Lalu pelayan kedua menjawab, “Bukan, dia bukan orang yang menentukan masa depan kita, yang menentukan masa depan kita  adalah Dewa.”

Cuping telinga yang berbentuk bulat dan besar bisa membawa keberuntungan dan nasib yang baik. Secara tradisional, Buddha telah digambarkan dengan deskripsi seperti itu. (Gambar: Pixabay / CC0 1.0 )

 

Karena keduanya tidak bisa meyakinkan satu sama lain dan terus berdebat, maka Wei Zheng mengutus pelayan pertama yang mengatakan bahwa nasibnya akan diputuskan oleh seseorang di dalam sumur. Lalu Wei pun masuk ke dalam sumur.

Dia meminta pelayan tersebut untuk mengirimkan surat ke gubernur setempat. Tak seorang pun kecuali Wei Zheng yang tahu bahwa dalam suratnya, dia menulis, “Tolong promosikan utusanku ini.”

Namun, pria yang diminta Wei Zheng untuk menyampaikan pesan tersebut tiba-tiba mengalami serangan jantung dan tidak bisa bangun. Jadi pelayan kedua menyampaikan pesannya ke gubernur.

Ilustrasi. Patung Budha. (wikiwisata.com)

Kisah ini membuktikan salah satu filosofi kehidupan yang banyak dipercaya oleh orang-orang Tionghoa di masa lalu, yaitu bahwa Dewalah yang menentukan nasib seseorang.

Oleh karena itu orang-orang Tionghoa sangat mementingkan sembahyang kepada para dewa, dan sangat takut jika sampai membuat dewa marah.

Orang-orang Tionghoa juga percaya bahwa segala sesuatu dalam lingkup luas, termasuk hujan, musim, bencana alam, diatur oleh para dewa.

Begitupun dalam hal-hal lingkup kecil, rejeki, jodoh, kelahiran, kematian manusia, semua adalah sudah diatur oleh dewa. (jul/rp)

Share

Video Popular