Erabaru.net. Untuk menghadapi ancaman rudal Korut, hari Selasa (30/05) lalu misil penghadang yang diluncurkan militer AS berhasil mengenai sebuah rudal balistik antar benua buatan, ini adalah pertama kalinya dalam sejarah manusia sebuah rudal antar benua berhasil dihadang. Tingkat kesulitan ini, mengutip pernyataan Pentagon, ibarat “menggunakan sebuah peluru menjatuhkan peluru lain dalam kecepatan tinggi”.

Dalam pernyataannya Pentagon menyatakan, misil penghadang yang diluncurkan dari pangkalan militer Vandenberg berhasil menjatuhkan rudal balistik antar benua buatan yang ditembakkan dari lahan uji coba di Pulau Marshall. Ini adalah keberhasilan pertama dari sistem pertahanan Ground Medium Defense (GMD). Karena Korut kerap melakukan uji coba rudal, perkembangan besar ini pun menjadi sorotan seluruh dunia.

Uji coba penghadangan kali ini memiliki makna sangat penting terhadap sistem pertahanan wilayah AS. Sebelumnya sistem pertahanan rudal AS hanya mampu menghadang rudal balistik jarak pendek, secara teknis masih belum mampu menghadang rudal balistik antar benua dengan jarak tempuh hampir 10.000 km.

Kepala Badan Pertahanan Anti-rudal James D. Syring menyatakan, “Uji coba kali ini membuktikan, terhadap suatu ancaman yang sangat nyata, kami telah memiliki kekuatan mumpuni yang bisa dilakukan dan bisa diandalkan.”

Anggota Komisi Militer Dewan Kongres AS dari Partai Demokrat Adam Smith berkata, “Ini adalah keberhasilan terbesar dalam hal rudal balistik antar benua yang telah dimulai AS sejak 13 tahun lalu dalam hal sistem anti-rudal pangkalan darat.” Data menunjukkan, sistem pertahanan jarak menengah pangkalan militer darat adalah pendeteksian dan pelacakan terhadap rudal balistik antar benua musuh dari anjungan peluncuran darat, lalu meluncurkan alat penghadang dari darat atau dari laut, pada saat rudal balistik musuh belum mencapai target, di tengah peluncuran balistiknya di atas udara rudal tersebut dihadang dan bagian tempurnya dihancurkan.

Situs militer AS memberitakan, teknologi GMD sangat rumit dengan tingkat kesulitan ekstrim tinggi, dibutuhkan alat pendeteksi yang ditempatkan AS di seluruh dunia untuk mengawasi dan melacak sebuah rudal balistik. Pentagon menyatakan, penghadangan ini ibarat “peluru menembak peluru” dalam kondisi kecepatan tinggi, misil penghadang diluncurkan ke angkasa lebih dulu, lalu menebar “vessel penghancur lapisan atmosfir (EKV)”, menggu¬nakan EKV tersebut untuk menghancurkan target.

Data menunjukkan, untuk menghadang rudal balistik, terbagi menjadi tiga tahap:

Penghadangan tahap awal: pada tahap peluncuran awal, rudal dalam proses percepatan untuk mengatasi gaya gravitasi, pada tahap ini ketinggian dan kecepatan sangat rendah, secara teori tingkat kesulitan untuk penghadangan pada tahap ini paling rendah, na¬mun hanya bisa dilakukan jika berjarak cukup dekat dari lokasi peluncuran.

Penghadangan tahap menengah: pada saat rudal balistik didorong hingga mencapai orbit dekat Bumi, periode terbang rudal pada saat itu cukup lama dan berkecepatan tinggi. Tapi karena jalur orbitnya bisa diperkirakan, dan masih jauh dari sasaran tembak, penghadangan pada tahap menengah ini merupakan kesempatan untuk menghadang yang paling baik. Namun tingkat kesulitannya ekstrim tinggi.

Penghadangan tahap akhir: dari lapisan atmosfir di angkasa rudal akan menukik kembali menuju sasaran, berjarak dekat dari sasaran, waktu tempuhnya pendek dengan kecepatan tinggi, sangat rentan mengakibatkan kerugian besar. Sistem rudal patriot Amerika saat ini, juga sistem S-400 milik Rusia dan sistem anti-rudal Red Flag-9 milik PKT, semuanya merupakan sistem penghadangan tahap akhir ini.

Sementara rudal antar benua umumnya berjarak tembak di atas 10.000 km, kecepatan menukiknya bisa mencapai 10 kali lipat kecepatan suara bahkan lebih, sedangkan kecepatan misil penghadang hanya tiga hingga empat kali lipat kecepatan suara, penghadangan tahap akhir ini hampir tidak mungkin berhasil.

Momentum penghadangan yang terbaik adalah penghadangan di tahap menengah, namun tingkat kesulitannya juga paling tinggi. Mengutip komentar pakar, kesulitan dalam penghadangan tahap menengah adalah “tidak mudah terlihat” dan “tidak mudah mengenai sasaran”. Tidak mudah terlihat karena sangat sedikit negara memiliki kemampuan untuk mengawasi peluncuran rudal dan langsung mendeteksi, menganalisa, dan memperkirakan arah balistiknya. Tidak mudah mengenai sasaran karena penghadangan di tahap menengah ini menggunakan metode ”tubrukan mekanik”, yakni semacam metode tubrukan fisika yang menyerupai “tabrakan mobil”, yang menuntut tingkat akurasi tinggi.

Dibandingkan dengan penghadangan tahap akhir dimana misil penghadang diluncurkan ke dekat rudal sasaran lalu diledakkan, tingkat kesulitannya adalah satu skala vector lebih tinggi. Penghadangan tahap menengah hanya bisa menggunakan “tubrukan mekanik” karena di tengah kondisi hampa udara, serpihan misil yang diledakkan tidak begitu efektif. Sedangkan pada penghadangan tahap menengah yang paling sulit ini adalah cara paling efektif untuk mengatasi rudal balistik, bahkan merupakan satu-satunya cara.

Karena tingkat kesulitan teknologi ini sangat tinggi, walaupun uji coba penghadangan kali ini berhasil, namun para pakar mengatakan teknik ini masih harus dibuktikan oleh waktu untuk bisa dikatakan mapan. Stasiun CNN mengutip pernyataan pakar mengatakan, sejak tahun 2010 lalu militer AS telah mulai melakukan 5 kali uji coba serupa, dan hanya berhasil 2 kali, tingkat keberhasilan hanya 40%. Berdasarkan rekam data uji coba ini, AS belum bisa mengandalkan teknologi penghadangan rudal ini untuk melindungi Amerika agar terhindar dari ancaman Korut. Adam Smith mengatakan, sistem misil penghadang ini akan terus dikembangkan agar bisa semakin bisa diandalkan dan akurat.

Sejak tahun 2002 Amerika telah mulai mengembangkan sistem anti-rudal dari pangkalan darat, dan di tahun 2004 untuk pertama kalinya ditempatkan di pangkalan militer darat Fort Greely di Alaska, menghabiskan dana sebesar 40 miliar dollar AS  (532 triliun rupiah) Sistem anti rudal balistik milik AS lainnya termasuk sistem penghadang rudal balistik jarak pendek “Patriot”, dan sistem peng¬hadangan di lapisan atmosfir yaitu ”pertahanan angkasa tahap akhir” (THAAD).

Selama belasan tahun terakhir militer AS telah melakukan 17 kali uji coba penghadangan rudal, dan berhasil sebanyak 9 kali. Menurut informasi pemerintah Trump tahun ini mengajukan laporan anggaran tahunan pada Dewan Kongres, dengan menganggarkan sebesar7,9 miliar dollar AS  (105 triliun rupiah) untuk sistem pertahanan misil ini, dan sebanyak 1,5 miliar dollar AS (19, 95 triliun rupiah) di antaranya adalah untuk sistem GMD. (Epochtimes/Sud/Yant)

 

Share

Video Popular