Erabaru.net. Bentuk epigrafi karakter Tionghoa untuk “petani” (農-nóng) terdiri dari piktograf untuk “kayu,” “sawah”, dan “bajak.”

Kemudian, para cendekiawan menggabungkan bagian atas karakter農-nóng, yang terdiri atas tangan dan sawah, disingkat menjadi karakter yang tidak terkait dengan bentuk sebelumnya (曲 – qū), yang berarti “benda induk kapal.”

Sampai saat ini, sebagian besar orang Tionghoa tinggal di luar negeri, dan jutaan lainnya terus melakukannya hari ini.

Bentuk epigrafi karakter Tionghoa untuk ‘petani’ (農 – nóng) terdiri dari piktograf ‘kayu’, ‘sawah’, dan ‘bajak’. (Gambar: Brad Toh / Vision Times)

Sebelum 1949 dan awal revolusi kebudayaan, masyarakat pedesaan Tiongkok mencakup banyak sekali jenis orang, mulai dari tuan tanah kaya hingga petani dan buruh miskin tanpa tanah.

Sebagian besar orang di antaranya adalah nóng, berarti Tuan tanah petani atau petani penyewa, yang tinggal di desa-desa dan berjalan atau mengendarai keledai dan kerbau ke ladang tempat mereka bekerja.

Ada juga nelayan, tukang perahu, tukang kayu, tukang batu, pemintal, penenun, pengangkut barang, dan peramal.

Menurut legenda, seni pertanian dibawa ke Tiongkok oleh Shen Nong (神農), seorang petani hebat yang merupakan salah satu dari Tiga Kaisar Legendaris Tiongkok pada masa itu.

Shen Nong diyakini adalah penemu bajak dan cangkul, dan dia menciptakan pasar pertama di dunia.

Menurut legenda, seni pertanian dibawa ke Tiongkok oleh Shen Nong (神農), seorang petani hebat yang merupakan salah satu dari Tiga Kaisar Legendaris di Tiongkok. (Gambar: Wikipedia/CCO 1.0)

Selain itu, menurut berbagai sumber di abad ke-2 SM, dia mengajarkan orang bagaimana menumbuhkan lima butiran pokok makanan tradisional Tiongkok seperti jawawut, kacang kedelai, gandum, dan beras.

Catatan selanjutnya menggambarkan bagaimana sembilan sumur magis tiba-tiba muncul dan dia menggunakan air sumur tersebut untuk memelihara biji-bijian yang telah jatuh dari Surga.

Shen Nong juga dikatakan telah mengklasifikasikan semua tanaman ke dalam makanan yang sesuai untuk dikonsumsi dan tanaman yang cocok sebagai obat. Nong tanpa pamrih mencicipi masing-masing tanaman untuk menentukan apakah tanaman itu beracun atau tidak.

Tradisi pengujian empiris inilah yang menyebabkan namanya diabadikan dalam buku karya klasik pengobatan Tionghoa berjudul The Divine Farmer Canon of Materia Medica , yang ditulis oleh Tao Hongjing (452-536 M). (jul/rp)

Share

Video Popular