Erabaru.net. Sekitar 29 tahun yang lalu, Zou Hongyan yang berusia 25 tahun bercerai karena dia menolak untuk menyerah melahirkan anak laki-lakinya yang menderita cerebral palsy.

Bayi itu, Ding Ding, sekarang adalah seorang mahasiswa pascasarjana di Harvard Law School di Cambridge, Massachusetts.

Karena prosedur medis saat melahirkan, Ding Ding menderita gawat janin.

Dokter menyarankan kemungkinan disfungsi mental anak yang belum lahir dan menyarankan agar Zou melakukan aborsi.

Zou menolak dan melahirkan seorang anak dengan cerebral palsy.

Zou sendirian dalam merawat Ding Ding setelah dia bercerai. Bekerja di Sekolah Guru TK di Wuhan.

Dia diberi upah lebih dari seratus dolar sebulan sebagai guru, dimana uang tersebut digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya dan juga tagihan medis Ding Ding.

Pada saat itu, dia sering membawa anaknya ke berbagai dokter tanpa kenal lelah.

Menyadari bahwa degenerasi sebelum dapat menghambat pertumbuhan dan kesehatan anaknya, dia bekerja keras untuk mewujudkan segala upaya untuk menstabilkan kondisi anaknya.

Dia sering ke rumah saat istirahat kerja untuk bermain dan untuk merangsang otak Ding Ding melalui permainan dan melakukan aktivitas sehari-hari.

Pada tahun 2016, Ding Ding terdaftar sebagai salah satu murid diSekolah Hukum Harvard. (Gambar: Abi Skipp via flickr CC BY 2.0 )

Sang ibu bahkan belajar untuk menjadi terapis fisik pribadi untuk Ding Ding, dan juga membaca panduan menjadi seorang terapis fisik setiap hari.

Pada usia 2 tahun, Ding Ding bisa mengenali lebih dari 100 karakter Tionghoa.

Di bawah bimbingan ibunya yang penuh kasih, Ding Ding dapat menyelesaikan kuliahnya dengan gelar di bidang ilmu  teknik lingkungan di Universitas Beijing pada 2011, dan melanjutkan ke Sekolah Hukum Transnasional di universitas yang sama.

Ding Ding sekarang menjadi mahasiswa pascasarjana di Sekolah Hukum Harvard di Cambridge, Massachusetts, AS. (Gambar: pixabay / CC0 1.0 )

Pada 2016, ia diterima di Sekolah Hukum Harvard.

“Saya tidak akan pernah berani bermimpi tentang Harvard jika bukan karena ibu saya. Dialah yang terus mendorong saya untuk mencoba. Setiap kali saya ragu-ragu, dia memberi saya tangan yang kuat untuk mendukung dan membimbing saya. Ibuku adalah pembimbing spiritualku,” kata Ding Ding.

Bagi Zou Hongyan, dia memposisikan dirinya sebagai teman terdekat anaknya dan seorang ibu yang memiliki misi hidup untuk membantu anaknya tumbuh dan berkembang selayaknya anak-anak pada umumnya. (jul/rp)

Share

Video Popular