Erabaru.net. Saya datang ke Amerika Serikat pada tahun 2012 dan memperoleh suaka pada tahun 2014. Pada awal 2017 berhasil lulus dari kamp pelatihan fundamental militer Angkatan Udara AS dan resmi menjadi seorang Airman First Class pada United States Air Force. (Artikel ini adalah sambungan dari artikel sebelumnya).

Pada hari ketiga masuk tentara, sekitar 800 calon prajurit dikum¬pulkan jadi satu, inspektur jenderal dan komandan kolonel bergantian berpidato. Inspektur jenderal bertanya mengapa kita bergabung dengan Angkatan Udara? Ada yang menjawab mengharapkan kehidupan yang lebih baik di masa depan, ada pula yang menjawab agar bebas biaya kuliah. Saya berdiri dan menguraikan dengan singkat pengalaman diri sendiri dari penganiayaan di Tiongkok, dan menyatakan bergabung dengan Angkatan Udara adalah untuk membalas budi ke¬pada masyarakat, dengan menjadi pengawal kebebasan dan keadilan. Inspektur Jenderal merestuinya dengan pujian.

Selama pelatihan fundamental, peserta pelatihan sepanjang hari hampir tidak ada waktu pribadi. Tapi sejak hari pertama, saya se¬lalu akan bermeditasi dengan ber¬sila di malam hari setelah lampu dipadamkan. Dengan segera, 50-an rekan seluruh kamar tidur sudah tahu bahwa saya berlatih meditasi, maka ada banyak orang yang me¬minta informasi lebih lanjut dari saya.

Seorang rekan yang tinggal di depan ranjang saya adalah seorang pemuda yang bersikap hangat dan ceria dari Las Vegas. Dia mengatakan bahwa setiap kali melihat saya, ada semacam rasa gembira. Sebelum pergi ke barak saya telah menulis sepucuk surat tentang fakta Falun Dafa, dan mencetak beberapa salinan untuk saya bawa serta. Tapi karena saya berkepriba¬dian introvert (tertutup), terkadang saya tidak tahu bagaimana mengungkapkan kepada orang-orang tentang fakta Falun Dafa. Rekan itu sangat tersentuh setelah membaca surat tersebut, ia acap kali secara langsung berkata kepada rekan-rekan lain: “Bacalah surat Zhang.” (Dalam militer hanya menyebutkan nama marga, tidak menyebutkan nama panggilan)

Karena inspektur jenderal dan sang komandan pada minggu per¬tama menyatakan bahwa mereka dan para instruktur tidak peduli tentang niat awal kami untuk ber¬gabung dengan tentara, dengan dalih “jika Anda tidak dapat lulus, semua mimpi adalah nol,” jadi saya pun tidak mengambil inisiatif untuk berbicara dengan instruktur tentang pengalaman dan perasaan diri sendiri, saya menunggu kesem-patan yang tepat.

Penanggung jawab kelas kami terdapat seorang instruktur wanita bernama Robertson. Dia terke¬nal keras di seluruh skuadron dan sangat teliti. Persyaratannya yang ketat, pernah menimbulkan emosi bagi beberapa tentara. Seorang rekan mengatakan kepada saya: “Saya tidak suka instruktur Robert-son, dia sangat kejam.” Saya men¬jawab: “Jika Anda tidak menyukai orang lain, kenyataannya adalah mungkin Anda tidak menyukai bagian lain diri Anda sendiri atau bagian lain dari kehidupan Anda.” Dia dan rekan di sampingnya ber¬pikir sejenak lalu mengiyakan: “Beralasan juga.” Hal yang mirip terjadi berkali-kali.

Ketika saya memasuki minggu ke-4 dalam pelatihan, suatu hari, saya sedang sarapan di kantin. Instruktur Robertson bergegas mun¬cul di depan saya dan berteriak: “Zhang! Mengapa Anda menuangkan air di atas telur?” Saya terkejut sesaat, dan dengan cepat menjelas¬kan: “Menurut pengetahuan dan pengalaman saya, menuangkan sedikit air dingin pada telur masak berkulit akan lebih mudah mengu¬pasnya.” Meskipun dia menerima penjelasan saya, tapi menolak un¬tuk melepaskan saya: “Anda menuangkan air ke telur berarti Anda akan minum kurang dari dua gelas air.” (Setiap makan harus minum setidaknya dua gelas air merupakan peraturan di sini) Dia memerintah¬kan saya untuk pergi mendapatkan segelas air lagi untuk diminum, dan mencatatnya sebagai satu kali “ke-salahan kecil”. Saya pikir masalah itu pun akan berlalu begitu saja.

Tanpa diduga, dua hari kemudi¬an dia memanggilku ke kantornya untuk menunjukkan bahan yang ditulisnya, dia mengatakan kepada saya bahwa karena masalah terse¬but dia akan memberi saya nilai “U” (tidak memuaskan) sebagai hukuman pada evaluasi minggu yang bersangkutan, dan memerin-tahkan saya untuk menulis artikel dan menjawab pertanyaan-per¬tanyaan berikut: Bagaimana jika saya mati karena minum air terlalu sedikit, bagaimana instruktur dan sang komandan menjelaskan pada orangtua saya?

Setelah mendengar ini rekan-rekan berpikir ini adalah meribut¬kan masalah yang tak berarti dan mengkhawatirkan tentang diri saya. Karena walaupun untuk ka¬sus “Penempaan ulang” tidak ada aturan tertulis yang jelas, tetapi jika menerima dua U sebagai hu¬kuman maka akan sangat mungkin dilakukan “Penempaan ulang”. Na¬mun, saya tidak merasa takut atau¬pun cemas sedikitpun. Di satu sisi, saya mencari ke dalam mengenai kekurangan diri sendiri, di sisi lain, saya menyadari kesempatan untuk berbicara tentang kebenaran Falun Dafa telah tiba.

Dalam artikel yang saya tulis un¬tuk instruktur, saya berterima kasih kepadanya yang telah membantu saya mengoreksi kesalahan, saya, dan terlampir hasil pertukaran pan¬dangan saya dengan rekan-rekan, serta menyatakan pandangan saya tentang instruktur bersama seluruh proyek pelatihan militer fundamen¬tal.

Saya menyatakan demikian: Menurut pendapat saya, pelatihan fundamental militer Angkatan Udara AS, terutama gaya instruktur Robertson, sangat mirip dengan cara mengajarkan Taoisme di za¬man Tiongkok kuno. Mereka me¬nyayangi murid bagaikan orang tua menyayangi anak-anak mereka sendiri, tetapi dalam bidang stan¬dar kultivasi (pertapaan) adalah sangat ketat, karena mereka tahu bahwa ini terkait dengan pewarisan budaya aliran kultivasi tersebut. Pada akhir teks, saya menyatakan bahwa saya melampirkan surat lain tentang latar belakang diri pribadi. Menjelaskan mengapa tidak sejak awal menunjukkan kepada mereka, juga mengatakan bahwa dengan tersedianya instruktur profesional yang memberi pelatihan dengan ketat, saya sangat percaya diri un¬tuk dapat lulus tepat waktu.

Setelah instruktur Robertson membaca artikel saya dan surat-surat tentang fakta Falun Dafa, lalu secara khusus mencari saya dan berkata: “Setelah membaca pengalaman Anda, saya sangat terkejut dan keyakinan Anda yang positif terhadap pekerjaan kami membuat saya merasa bangga. Anda memi-liki potensi kepemimpinan yang besar, tapi saya belum pernah me¬lihat Anda berbicara lantang di de-pan orang banyak, Anda memerlu¬kan pelatihan di bidang ini, maka mulai hari ini, Anda ditunjuk sebagai Acting Dorm Chief (pengganti kepala regu) kelas kita.”

Oh, ini benar-benar merupakan suatu perjalanan sulit nan berliku namun ada secercah harapan di de-pan sana. (Pur/Yant)

Share

Video Popular