Erabaru.net. Tidak tahu apakah sudah terlalu lama berhubungan, atau sudah bosan dengan pola hubungan yang hambar, aku tidak menolak dengan hadirnya orang lain, bahkan ingin lebih merasakan manis dan senangnya dikejar orang.

Perlahan-lahan, aku mulai bohong, merangkai kata-kata dusta, hingga dia berniat pergi waktu itu. Saat itu, seperti hari-hari sebelumnya, aku dan dia yang sudah 7 tahun lamanya berpacaran, seperti biasa makan bersama, antara kami, diam membisu.

Ketika dia mengantarku pulang, sambil menatap mataku dia mengatakan: “Besok saya akan segera berangkat ke Amerika untuk dinas, setengah tahun baru kembali, saat saya tidak ada, jagalah dirimu baik-baik!”

Acuh tak acuh aku menganggukan kepala, tidak merasa sedih, juga tidak merasa berat berpisah.

Dia mengeluarkan selembar surat dan diberikan kepadaku sambil mengatakan : “Surat ini untukmu,” selesai berkata dia membalikkan badan lalu pergi.

“Mungkin karena perasaan cinta yang biasa-biasa saja, percintaan yang terlalu biasa, sehingga kamu mengira rasa cinta sudah berubah hambar. Jika sejak awal tahu hatimu telah berubah, tidak ingin rasanya kuungkap dan kusingkap, semua itu hanya karena aku masih sangat mencintaimu.”

“Mungkin karena cinta yang terlalu dalam, seperti batu yang tenggelam ke dasar laut, tidak tampak riak yang romantis. Namun, saat daun-daun berguguran, dan kupu-kupu beterbangan, tahukah kamu? Kalau aku merindukanmu.”

“Pergi bukan berarti berakhir, hanya berharap semoga waktu bisa membuat aku dan kamu mendapatkan jawaban yang diinginkan…..”

Setelah membaca surat di atas ranjang, saking malunya aku terkesima, jika dia sudah mengetahuinya, mengapa dia tidak mencela, tidak memarahiku?

Terbayang selama 7 tahun, jarang sekali dia mengatakan kata-kata manis kepadaku, apalagi mengatakan perasaannya, tetapi, diam-diam ia selalu menemaniku, dengan sikap dewasa memaafkanku.”

Dia membiarkan aku bersandar kepadanya: ketika sakit, selalu menelepon dan berulang-ulang berpesan supaya jangan lupa makan obat, ketika marah, membusungkan dadanya membiarkan aku melampiaskannya, dan ketika gembira, membiarkan aku mengacak-ngacak rambutnya.

Namun, aku malah seperti anak kecil, menuntut semaunya atas cintanya, menganggap perlakuan baiknya kepadaku sudah sewajarnya.

Pengorbanannya untukku tampak nyata di depan mata, dan aku, berapa banyak sebenarnya pengorbanan yang kuberikan padanya?

Hubungan selama 7 tahun itu, sedikit demi sedikit, semua kenangan dan peristiwa, perlahan-lahan terbayang-bayang dalam benakku, sampai hari telah menjelang pagi, remang-remang di depan mata, baru kusadari air mata sudah mengenangi seluruh wajahku!

Akhirnya, dengan penuh penyesalan aku menjelaskan semua ini kepada pacarku yang satu lagi, meskipun, aku juga telah menyakiti hatinya. Namun, akhirnya mendapatkan pengertian dan persetujuannya!

Enam bulan, begitu lama rasanya! Kerinduan yang amat sangat membuat segenap cintaku terhadapnya bagaikan baru, dan juga baru kusadari, orang selalu baru menyayangi setelah merasa kehilangan!

Selaksa harapan, akhirnya saat menanti kepulangannya ke Tanah Air sampai juga pada hari itu, melihat sekilas dirinya, dengan tidak mempedulikan citraku lagi aku menerobos ke kesana, dan dengan erat kupeluk dia, sambil berkata: Aku sangat merindukanmu, jangan pernah lagi meninggalkan aku! Dengan terharu ia meraup wajahku, membuat ciuman yang telah lama berpisah selama 6 bulan itu kembali menghangat. (Arsip Erabaru/asr)

(Sumber Dajiyuan)

Share

Video Popular