Erabaru.net.  “Kakek tak pernah salah,” adalah karya klasik master dongeng asal Denmark Hans Christian Andersen.

Ada sepasang suami istri tua yang miskin di desa. Suatu hari, mereka pergi ke pasar menukarkan satu-satunya benda berharga mereka, yaitu kuda.

Nenek tua itu berkata pada si kakek, “Hari ini adalah hari pekan/ pasar, kamu menunggang kuda ini ke kota, jual kuda ini atau tukar dengan barang yang berguna. Kamu tidak pernah salah kalau mengambil keputusan, ayo cepatlah ke pasar.”

Dia membungkus bekal dengan syal untuk si kakek. Pada saat yang sama ia menerima sebuah ciuman hangat. Sampai di pasar, awalnya, kakek menukar kuda itu dengan seekor sapi betina. Kemudian sapi betina itu ditukar dengan seekor kambing, lalu dia menukar lagi kambing itu dengan seekor angsa,  angsa ditukarnya lagi dengan seekor ayam betina.

Terakhir, ia menukar ayam betina itu dengan sebungkus besar apel yang mulai membusuk.

Dalam setiap pertukaran, dia merasa hal yang dilakukannya itulah yang paling dibutuhkan pasangannya, dan pasti akan memberikan pasangannya sebuah kejutan !

Ketika dia membawa sekantung apel busuk melewati sebuah hotel kecil, dia bertemu dengan dua orang Inggris yang kaya raya.

Kemudian dengan bangga ia menceritakan semua hal yang dia lakukan di pasar tadi. Dua jutawan Inggris itu seketika tertawa terbahak-bahak mendengarnya, mereka mengatakan sepulang nanti ke desa, kakek pasti akan langsung didamprat oleh sang istri.

Tapi kakek tua itu dengan yakin mengatakan, itu tidak mungkin, bahkan dia bilang pada dua jutawan itu.

“Aku akan mendapatkan sebuah ciuman, bukan tamparan, dan wanitaku itu pasti akan mengatakan, apa yang kamu lakukan memang selalu benar,” katanya.

Ilustrasi. (internet)

Tapi, dua jutawan itu tidak percaya, lalu kedua jutawan bertaruh akan memberikan kakek tua sejumlah uang kalau benar seperti yang dikatakan kakek. Mereka bertiga pun pulang ke desa bersama.

Dan hal yang membuat kedua jutawan itu tercengang adalah istri kakek tua tampak sangat senang mendengar cerita si kakek padanya. Setiap mendengar pertukaran yang dilakukan oleh sang kakek, istrinya dengan ekspresi kagum dan bertepuk tangan gembira.

Setelah ia mengetahui kalau suaminya menukarkan kuda mereka dengan sebungkus apel busuk, dia bahkan dengan sangat gembira bercerita.

“Sekarang aku harus memberimu satu ciuman. Aku mau kasih tahu kamu satu hal. Kamu tahu, setelah kamu pergi, aku pun berencana membuat makanan enak untukmu malam ini, kemudian aku buat kue telur ditambah daun bawang. Aku punya telur, tapi tidak punya daun bawang, lalu aku pergi ke sekolah, aku tahu mereka menanam daun bawang di sana. Tapi isteri guru sekolah itu pelit, waktu aku minta sedikit sama dia, dia malah bilang kalau di tamannya apapun juga tidak ada yang tumbuh, bahkan satu apel busukpun tidak ada. Dan bahkan satu buah apel pun tak bisa aku pinjamkan padamu. Tapi sekarang kita ada 10 buah apel dan bisa kasih dia, bahkan sekantung besar apel busuk lagi! Benar-benar lucu.”

Bahkan, si nenek berkata, “Terima kasih, suamiku yang baik!”

Usai berkata begitu, si nenek kemudian memberikan sebuah ciuman hangat pada kakek, suaminya.

Kedua jutawan itu hanya bisa melongo sambil memberikan kakek tua sejumlah uang yang dijanjikan. Karena kakek tua ini melakukan hal yang sangat bodoh, namun bukan saja tidak dimarahi, bahkan dipuji dan diberi ciuman hangat.

Untuk pertama kalinya aku menemukan, bahwasannya “Kakek tidak pernah salah” ini bukan cerita yang ditulis untuk anak-anak, melainkan untuk mereka yang sudah menikah.

Ilustrasi. (internet)

Lewat kisah yang agak ganjil ini, mereka mengajarkan kita bagaimana mencintai seseorang.

Jika mencintai seseorang, harus sering-sering memujinya, memberikan dukungan, bahkan meskipun pasangan melakukan kesalahan, asalkan maksudnya baik, dan tulus, maka sudah seyogianya harus didukung.

Jangan sampai kita merasa pintar sampai akhirnya kita menyakiti orang yang kita cintai. Kebahagiaan orang yang kita kasihi itu jauh lebih penting dari apapun, suami istri itu harus saling menghargai, saling menghormati, saling mengalah dan saling mengagumi.

Dengan demikian cinta itu baru bisa saling mencintai dan harmonis, hari-hari yang dilewati juga akan lebih indah dan semarak.

Sepertinya teori yang sangat mudah, namun paling sering diabaikan.

Misalnya, saat suami menggunakan separuh dari gaji bulanannya untuk membelikan istri baju baru, sang istri malah menggerutu kalau baju yang dibelikan suami untuknya itu jelek, menghambur-hamburkan uang, sampai akhirnya keduanya kesal dan bertengkar

Atau ketika istri yang dengan susah payah memasak untuk suaminya, namun yang didapat hanyalah kritikan kalau masakannya tidak enak, hal ini malah memicu pertengkaran.

Antar pasangan, jelas-jelas cinta, jelas-jelas adalah dua orang yang paling dekat di dunia.

Namun kadang kala hanya menganggap pasangan sebagai tempat sampah untuk melemparkan uneg-uneg, mencari-cari kesalahan pasangan sampai akhirnya menyakiti dan melukai perasaan dengan kata-kata.

Siapapun bisa melihatnya, kalau kakek dari cerita di atas itu bukan seorang pria atau suami yang hebat, dan istrinya punya cukup alasan untuk menggerutu, mengeluh karena dia miskin dan bodoh.

Seandainya dia memilih untuk menggerutu, maka hubungan keduanya dia tidak akan berlangsung baik, malah akan semakin tersiksa dan menderita.

Sebaliknya, ia tidak menggerutu, bahkan bisa bersyukur dan memuji suaminya, menggunakan rasa hormat dan sayangnya pada suaminya. Sebenarnya, wanita seperti ini adalah istri yang sangat bijaksana dan menarik.

Asalkan pasanganmu tidak terjerumus pada obat-obatan, minuman keras, tidak melakukan perbuatan yang melanggar hukum, dan seandainya yang dilakukannya hanyalah kesalahan kecil semata, seharusnya kita juga bisa bersikap seperti si nenek itu, bagaimana dia memperlakukan suaminya yang menukar kuda dengan sebungkus apel busuk!

Suami-isteri yang baik itu, harus senantiasa penuh toleransi.

Sebenarnya, semuanya itu adalah cara untuk melengkapi kekurangan diri masing-masing dan untuk melindungi pasangan.

Kalau memang sayang sama pasangan, jangan persulit pasanganmu, jangan salahkan pasanganmu, dampingilah dia seumur hidup dengan saling mencintai, bukankah sangat indah dan mengesankan.

Pasangan suami isteri yang sehati, tanah pun bisa menjadi emas (kiasan-tetap bisa harmonis dalam keadaan apapun).

Masalah keluarga tidak ada istilah benar atau salah, hanya ada keharmonisan atau tidak, dengan adanya keharmonisan baru akan tercipta kedamaian.

Keluarga itu adalah tempatnya kasih sayang, bukan tempat untuk memperdebatkan benar atau salah.

Tempat untuk membicarakan benar dan salah itu di pengadilan. Keluarga itu berakar dan memiliki jiwa, akar dan jiwa itu dikendalikan oleh seorang wanita.

Kekuatan terbesar di dunia adalah cinta, dan senjata yang paling ampuh adalah sentuhan kasih sayang, inilah cinta dari cinta sejati yang sesungguhnya.  (jhony/rp)

Sumber: ntd.tv

VIDEO REKOMENDASI

Share

Video Popular