Erabaru.net. Aku dan suami adalah teman semasa SMA, kami tidak melanjutkan ke universitas, belakangan kami pulang ke kampung halaman dan menikah.

Kami berdua sama-sama mengelola sebuah toko kelontong, dan usaha kami pun lumayan bagus.

Mamaku meninggal agak awal, sepeninggal mama, papa juga tidak menikah lagi untuk mencari penggantinya, karena papa takut ibu tiri nanti akan menyakitiku.

Setelah saya menikah, papa sepertinya juga berkeinginan untuk menikah lagi, tapi tidak menemukan sosok yang cocok.

Aku tahu persis, papa sedih karena tidak punya anak laki-laki, usia papa sekarang sekitar 50 tahunan, tidak tua-tua amat.

Dan kebetulan, suami saya juga berasal dari keluarga tunggal, setelah papa-mamanya bercerai, suami saya tinggal bersama mamanya.

Setelah kami menikah, jadi otomatis mamanya atau mertuaku tinggal bersama kami.

Kadang-kadang aku akan meminta papaku untuk menginap beberapa hari di rumah kami, tapi papa selalu menolaknya.

Papa beralasan karena dia merasa kikuk berdua bersama mama mertua di rumah saat aku dan suami bepergian.

Papa bilang lebih baik menjaga jarak, jadi, papa kadang-kadang datang hanya sekadar makan lalu pulang.

Seorang tetangga pernah bercerita, papa dan mama mertuaku terlihat sangat serasi, aku sendiri juga setengah bercanda pernah menyinggung hal ini, tapi papa selalu menolaknya dengan berbagai alasan.

Malah menegur aku agar jangan sembarangan bicara : “Mana boleh sih bercanda dengan hal gituan!”gumamku dalam hati..

Tapi aku benar-benar tidak bisa memastikan isi hati papa….. “di bibirnya selalu bilang tidak”, tapi tak disangka tindakannya begitu cepat!

Beberapa waktu lalu, saat ke rumah sakit untuk periksa, aku dinyatakan positif hamil!

Mama mertua yang menemaniku bilang ia juga merasa tidak enak badan, sekalian mau periksa juga.

Tak disangka, hasil pemeriksaan membuat aku tercengang, mama mertuaku ternyata hamil, dan usia kehamilannya sudah dua bulan lagi! Jauh lebih lama dari usia kehamilanku!

Mama mertua tampak tersipu malu menundukkan kepalanya tidak berani memandangku, dan dia bilang akan menggugurkannya nanti.

Mendengar itu, aku cepat-cepat menyarankan pada mertuaku “sebaiknya diskusikan dulu dengan keluarga”.

Meskipun sebenarnya yang terlintas pertama kali dalam benakku adalah menggugurkan kandungannya.

Bagaimanapun juga usia mama atau mertuaku itu sudah terlalu tua untuk melahirkan, aku khawatir fisiknya tidak tahan, dan sangat berisiko.

Selain itu juga akan menjadi pergunjingan tetangga.

Sesampainya di rumah, suamiku terlihat emosi, ia memaksa mamanya mengatakan siapa laki-laki itu. Tapi mamanya hanya diam membisu.

Malamnya, aku menelepon papa dan menceritakan hal itu, maksudku ingin mendengar pendapat papa, meminta saran dan solusi darinya.

Ilustrasi.

Sejak kecil hingga dewasa aku sudah terbiasa menanyakan segala sesuatunya sama papa, dan papa selalu bisa menyelesaikannya dengan baik.

Tak disangka, begitu mendengar mama mertua hamil, perasaan papa tampak begitu bergejolak, bicaranya mulai ngawur.

Papa menyuruh aku membujuk mama mertua agar mempertahankan anak itu, selanjutnya papa bilang…..anak itu adalah anaknya !

Mendengar itu, aku terhenyak dan kakiku serasa lumpuh mendengar pengakuan papa, mana mungkin sih!Gumamku dalam hati.

Menurut cerita papa, suatu ketika, saat aku dan suami berwisata, mama mertua tidak enak badan, karena mama tak ingin kami khawatir, mama mertua kemudian menelepon papa.

Singkat cerita, papa pun ke rumah merawat mama mertua, belakangan mama mertua menjadi sangat perhatian sama papa setelah sembuh dari sakitnya, keduanya akhirnya…..sampai disini papa menarik napas panjang dan berkata : “Yaa…akhirnya terjadi begitu saja.”

Aku menutup telepon, pikiranku benar-benar kalut, dan ketika suamiku bilang mau “meremukkan laki-laki yang menghamili mamanya”.

Aku terhenyak sesaat, bagaimana kalau suamiku tahu laki-laki itu adalah papaku, pasti akan terjadi perang keluarga yang tak terhindarkan!

Meskipun aku setuju dengan hubungan mereka (papa dan mama mertuaku), tapi bagaimana dengan suamiku, apa ia setuju ?

Bisakah mereka tidak peduli dengan pergunjingan orang lain ? Ya Tuhan, aku harus bagaimana, apa yang sebaiknya kulakukan ?

Ilustrasi.

Intisari

Jika papa dan mama mertua itu saling mencintai, dan meskipun agak janggal, tapi apa salahnya kalau memang itu demi kebahagiaan mereka (papa dan mama mertua) ?

Tapi jika kita sendiri yang mengalaminya, sikap kita mungkin tidak sama.

Coba renungkan sejenak, apa yang sebaiknya kamu lakukan seandainya tokoh dalam cerita tersebut di atas itu adalah kamu sendiri ? (jhn/yant)

Sumber: coco01.net

 

Share

Video Popular