Pada periode Zaman Musim Semi dan Musim Gugur (770 SM – 476 SM), Zhong Er putra seorang pangeran Negeri Jin (dibaca: cin 晉) mengungsi ke luar negeri.

Di Negeri Qi (dibaca: ji, 齊), Zhong Er telah tinggal cukup lama, Raja Qi Huan lantas menjodohkan Putri Zong (para ahli sejarah menyebutnya sebagai Putri Qi).

Ia pun lambat-laun menyukai kehidupan demikian, boleh dikata telah melupakan cita-cita luhurnya untuk “melenyapkan pengkhianat dan membangun kembali negaranya”.

Para pengikut setia Zhong Er yang mendampinginya, merasa sangat tidak puas terhadap cara hidup sang Pangeran (Zhong Er) yang terbuai oleh kenyamanan, bahkan agak mengkhawatir¬kannya.

Pada suatu hari, mereka berkumpul di dalam hutan murbai di belakang istana para harem untuk berunding.

“Sekarang ini Negeri Qi sedang bergejolak, kita tidak mampu membantu pangeran untuk kembali bertahta di negerinya, cara terbaik tetap adalah pergi mengungsi ke negara lain.”

“Benar! Kita justru sedang ingin menyampaikan pemikiran ini kepada sang Pangeran, namun apa daya karena sang Pangeran siang dan malam hanya bersenang-senang tidak memedulikan masalah lain, dalam waktu 10 hari belum tentu dapat berjumpa sekali dengannya.”

“Lalu bagaimana baiknya?”

Para pengikut itu saling sahut menyahut dalam perundingan ini.

Akhirnya, Hu Yan menemukan sebuah akal, ia berkata: “Kita persiapkan segala perbekalan untuk bepergian jauh, menunggu sang pangeran muncul, lalu kita undang Beliau untuk berburu.

Setelah keluar dari ibukota Negeri Qi, kita paksa Beliau untuk pergi, bukankah akan berhasil?”

“Akal ini sungguh bagus!” Dan berundinglah mereka.

Setelah para pengikut Pangeran bubar, mereka mengira hal tersebut sangat rahasia.

Siapa kira tak lama setelah mereka pergi pohon murbei sedikit bergoyang, dari dalamnya meloncat keluar seorang dayang.

Dia menerima perintah untuk memetik buah murbei dalam hutan dan kepergok para pengikut Pangeran yang berkumpul, maka dia pun bersembunyi di antara dedaunan pohon dan mendengar semua rencana mereka tanpa terlewatkan.

Setelah kembali ke intana, dengan tergesa-gesa melapor kepada sang putri (Putri Qi).

Namun sang Putri justru membunuhnya, hal ini ter¬catat dalam kitab Zuo Zhuan dan kitab Shi Ji (Catatan Sejarah).

Dia membunuh dayang tersebut untuk mencegah bocornya rahasia, demi menjaga keselamatan Zhong Er (suami Putri Qi) dan para pengikutnya.

Pada malam itu, Sang Putri berkata pada Zhong Er: “Konon Anda akan mengungsi ke negeri lain, rencana tersebut tidak terjaga kerahasiaannya, terdengar oleh dayang saya. Namun saya telah membunuhnya. Anda dapat pergi dengan hati tenang.”

“Hidup manusia pendek dan penuh derita, orang yang tahu merasa cukup atau puas, akan berbahagia. Adakah kehidupan yang lebih memuaskan daripada sekarang ini? Aku akan berada di sini untuk menghabiskan sisa hidupku, selamanya tidak akan mempertimbangkan lagi menyingkirkan penghianat dan membangun kembali negara,” demikian jawab Zhong Er.

“Seorang lelaki sejati hendaknya mengutamakan negara!” Sang Putri tidak hentinya menganjurkan Zhong Er untuk melarikan diri, namun, Zhong Er justru tergila-gila pada Sang Putri, dan tidak mau pergi.

Pada keesokan harinya, Hu Yan memohon untuk berjumpa Zhong Er ingin mengajaknya berburu.

Sang Putri sambil bersenyum berkata kepadanya: “Kalian kali ini pergi berburu, kalau bukan ke Negeri Song tentu akan ke Negeri Chu bukan?”

Hu Yan sangat terperanjat, ketika hendak berdalih, Sang Putri memerintahkan orang-orang disekitarnya untuk menyingkir, dan berkata berbisik-bisik kepadanya: “Kalian ingin membohongi Pangeran untuk keluar dari Negeri Qi ini, supaya dapat melaksanakan cita-cita agung penyingkiran pengkhianat dan restorasi negara. Semuanya telah saya ketahui, tidak perlu lagi menutup-nutupi. Sesungguhnya, tadi malam saya juga sudah berusaha menganjurkan Pangeran, tapi apa daya Beliau tidak mau mendengar. Sekarang hanya ada satu cara, malam ini saya akan mengajaknya minum arak sampai mabuk, kemudian kalian dapat menggunakan kesempatan itu untuk membawanya pergi.”

Setelah mendengar ini Hu Yan dengan hormat bersujud kepada Sang Putri dan berkata: “Tuan Putri dapat memiliki rasa keadilan yang sedemikian tinggi, dapat melepas cinta suami istri, pasti akan dapat membantu Sang Pangeran berhasil dalam usaha yang agung. Kebijaksanaan Tuan Putri benar-benar langka!”

Lalu dia memohon diri dan cepat-cepat menginformasikan hal ini kepada Chao Shuai dan teman-teman lain untuk mempersiapkan dengan baik kereta kuda serta perbekalan lain.

Setelah semuanya dipersiapkan dengan seksama, mereka mengendarai dua kereta, bersembunyi di luar pintu istana dan menunggu instruksi Sang Putri.

Malam hari itu, Sang Putri benar-benar mengadakan perjamuan di dalam istana, Zhong Er merasa dipenuhi teka-teki, lalu bertanya kepada Sang Putri: “Untuk siapakah sebenarnya perjamuan ini?”

Sang Putri tertawa manja, dengan lembut berkata kepadanya: “Mengetahui Anda memiliki aspirasi yang besar, maka diadakan perjamuan ini sebagai perpisahan dengan Anda.”

Zhong Er berkata: “Ini omongan apa? Saya tidak bermaksud meninggalkan tempat ini.”

Ilustrasi

Sang Putri berkata dengan serius: “Bersikap pasrah dan mencari selamat, bukanlah perilaku seorang lelaki sejati. Para pengikut Pangeran semuanya adalah orang-orang yang sangat setia, merupakan para satria yang memiliki pandangan yang jauh dan berpengetahuan luas. Saran-saran mereka hendaknya Pangeran dengar dan ikuti!”

Mendengar ini Zhong Er sangat marah, wajahnya muram, gelas arak diletakkan di atas meja, dalam waktu lama mogok bicara.

Sang Putri melihat perubahan wajahnya, tidak berani menasehatinya lagi, dengan perlahan bertanya kepadanya: “Anda benar-benar tidak ingin pergi?”

“Tidak pergi ya tidak pergi, apakah hanya membohongi kamu!” Zhong Er berkata dengan jengkel.

“Bagus sekali!” Sang Putri berpura-pura gembira dan berbicara dengan manja kepada Zhong Er: “Sebenarnya tadi saya hanya menguji Anda, ingin mengetahui sebenarnya Anda mencintai negara atau mencintai saya. Anda pergi, menunjukkan memiliki tekad; tidak pergi dikarenakan cinta antar suami istri. Arak pesta ini sebenarnya adalah untuk perjamuan perpisahan denganmu, sekarang justru telah disediakan karena Anda ingin tinggal. Maka, biarlah saya menghormat Anda satu cawan!”

Ilustrasi

Setelah mendengar ini, Zhong Er terkejut kegirangan, maka diteguklah arak secawan demi secawan sepuasnya, Sang Putri berulang kali mendorongnya minum lebih banyak.

Tak lama kemudian diundang juga penari dan pemusik untuk meramaikannya, sehingga Zhong Er sangat mabuk.

Lama dipanggil-panggil tidak kunjung sadarkan diri. Sang Putri mengetahui saatnya telah tiba, maka dipasang sendiri selimut wol di atas tubuhnya, kemudian meminta Hu Yan dan teman-teman untuk menggendong Zhong Er ke atas kereta. Sang Putri (Putri Qi) melihat kereta telah pergi jauh, berlinang-linang air mata….

Hu Yan dan teman-teman memanfaatkan kegelapan malam hari, dengan buru-buru menempuh perjalanan, setelah berjalan 20 – 30 km, terdengar suara ayam berkokok, ufuk timur mulai memutih, pertanda fajar sudah tiba.

Di atas kereta Zhong Er mulai membalikkan tubuh, merasakan tempat tidur terus berguncang tidak stabil, mengira masih berada di istana, maka berseru: “Pengawal! Cepat memapahku turun dari ranjang.”

Hu Yan merasa lucu, lalu menjawab: “Ini adalah kereta, bukan ranjang!”

Zhong Er membelalakkan mata melihat, ternyata adalah Hu Yan, ia pun mengetahui telah “terjebak”. Namun sudah tidak berdaya.

Kemudian, setelah berjuang selama beberapa tahun, Zhong Er dengan gigih berjuang, berhasil menyingkirkan pengkhianat dan memulihkan Negara Jin, serta ternyata berhasil menjadi raja Negara Jin, ia pun menyambut Putri Qi (Putri Negara Qi).

Karena Putri Qi memiliki rasa keadilan yang sangat tinggi dan mampu menunjang sang suami untuk “menyingkirkan pengkhianat dan memulihkan negara”, dia menerima penghormatan yang sangat luas dari rakyatnya! (Peristiwa berdasarkan kitab sejarah Zuo Chuan) (prm/rp)

Share

Video Popular