Erabaru.net. Alkisah pada zaman dahulu kala, ada seorang sarjana yang telah berjanji menikah dengan tunangannya.

Saat waktu yang dijanjikan tiba, tunangannya telah menikah dengan orang lain. Melihat kenyataan itu, si sarjana sangat terpukul dan jatuh sakit.

Kebetulan saat itu, ada seorang bikkhu. Sang bhikkhu kemudian mengambil sebuah cermin dan diperlihatkan pada si sarjana.

Ilustrasi. (Internet)

Dari dalam cermin itu, si sarjana melihat hamparan laut yang luas, tak lama kemudian ia melihat sesosok wanita tergeletak tak bernyawa di atas pantai dalam keadaan telanjang.

Kemudian ia melihat seorang pria berjalan di pantai, pria itu memandang sejenak sambil menggeleng-gelengkan kepala, lalu pergi.

Beberapa saat kemudian ia melihat lagi seorang pria berjalan ke sana, memandang sejenak lalu melepaskan pakaiannya, kemudian jasad wanita malang yang tewas itu ditutupi dengan pakaiannya, lalu pergi.

Tak lama kemudian, datang lagi seorang pria dan melihat sejenak, lalu menggali sebuah lubang, kemudian dengan hati-hati si pria mengubur mayat itu.

Mayat wanita di pantai itu, adalah kehidupan dahulu calon isterimu, kata Bhikkhu menjelaskan.

Kamu adalah pria kedua yang lewat di pantai itu, yang memberinya sepotong pakaian.

Kini, dalam kehidupannya sekarang, ia berpacaran denganmu, hanya untuk membalas budi baikmu ketika itu.

Tapi, budi orang yang harus dibalas seumur hidupnya itu adalah pria terakhir yang menguburnya ketika itu, dan orang itu adalah pria yang menjadi suaminya sekarang.

Mendengar penjelasan sang Bhikkhu, sarjana itu pun sadar seketika, dan langsung sembuh dari sakitnya.

Kisah kedua : “Kepolosan si Anak”

Ilustrasi. (Internet)

Ada seorang wanita lajang baru pindah rumah, ia melihat ada satu tetangga miskin tinggal di sebelahnya, seorang janda dengan dua anak.

Suatu malam, kawasan tempat tinggal mereka tiba-tiba mati lampu, wanita lajang itu pun menyalakan lilin. Tak lama kemudian, ia mendengar ketukan pintu.

Ternyata bocah tetangga sebelahnya, ia melihat anak itu bertanya dengan gugup : “Tante, punya lilin ga ?”

“Semiskin itukah keluarga mereka, sampai-sampai lilin juga tidak punya ? Lebih baik gak usah kasih pinjam, nanti jadi kebiasaan!” Gumam wanita itu dalam benaknya.

Lalu, wanita itu berteriak kencang : “Tidak punya!”dan ketika mau menutup pintu, bocah miskin itu tersenyum polos sambil berkata : “Aku tahu tante pasti tidak punya!”

Lalu, bocah itu mengeluarkan 2 batang lilin dari balik bajunya dan mengatakan : “Ibu dan aku takut tante tinggal sendiri dan tidak punya lilin, karena itu, aku bawakan 2 batang lilin untuk tante.”

Wanita lajang itu seketika menyesal, terharu sampai meneteskan air mata, kemudian mendekap bocah itu dalam pelukannya.

Intisari: Janganlah memandang orang/sesuatu dari sisi luarnya saja.

Share
Tag: Kategori: Uncategorized

Video Popular