Erabaru.net. Cate Cody (44), membeli semua pembungkus bekas dan menumbuhkan buah dan sayurannya sendiri.

Ia bahkan membuat pasta gigi dan deodorannya sendiri dari bikarbonat soda.

Ibu dari Ibu Cody juga tak pernah membeli produk Coca-Cola dan tidak pernah mengonsumsi McDonald’s.

Cate Cody, dari Tewkesbury di Gloucestershire, Inggris mencoba untuk membeli semua pembungkus non-plastik, dan membawa sisa sampah ke tukang sampah dan menanam buah dan sayurannya sendiri.

Seorang ibu ini dijuluki sebagai warga Inggris yang paling hijau setelah mengungkapkan perilakunya yang sangat ramah lingkungan sehingga dia bisa meletakkan sampahnya setiap dua tahun sekali.

Dia bahkan membuat pasta gigi dan deodorannya sendiri dari bikarbonat soda dan minyak organik karena dia tidak tahan untuk membuang tabung dan botol begitu saja.

Jika dia membeli telur atau selai, dia menyumbangkan kotak dan toplesnya ke teman untuk digunakan kembali.

Selain itu, ia kerap membungkus hadiah Natal dengan selendang daripada menggunakan gulungan kertas.

Satu-satunya hal yang masuk ke keranjang sampahnya adalah segel dari botol susu dan sedikit kemasan plastik dari makanan yang biasanya dibawa oleh teman-teman.

Tapi politisi Partai Hijau dan penyanyi jazz, yang tidak memiliki TV di rumahnya dan membeli semua pakaiannya dari toko amal ini menegaskan bahwa tidak ada yang aneh dengan gaya hidupnya.

Ibu dari anak itu berkata, ‘Saya hanyalah orang normal yang sangat peduli dengan lingkungan. Saya selalu sangat sadar akan dunia di sekitar saya. Bahkan ketika saya masih kecil, saya tidak tahan dengan banyaknya sampah. Saya pikir itu adalah hal yang aneh namun harus dilakukan.”

Jika Ms Cody membeli telur atau selai, dia menyumbangkan kotak dan toples ke temannya untuk digunakan kembali.

Ia juga membungkus hadiah Natal dengan selendang daripada menggunakan gulungan kertas.

“Kami hanya punya satu keranjang sampah kecil di rumah, di dapur, dan satu-satunya barang yang kami masukkan ke dalamnya adalah label yang Anda dapatkan dari botol susu,” katanya.

Kadang-kadang ia membeli beberapa sayuran dengan plastik di took-toko. Mendaur ulang plastik itu,  label akan masuk ke tempat sampah.

Alih-alih membeli makanan, ia punya pohon apel dan pir di kebun dan menanam raspberry, gooseberry, blackcurrant, hazelnut, tomat dan kacang-kacangan sendiri.

“Jika ingin membeli daging dan ikan, aku selalu membawa Tupperware ke tukang daging dan penjual ikan. Kami biasanya berbelanja di supermarket dan jika kami pergi, saya akan mengambil ransel.

Menurutnya ia belum pernah menggunakan kantong plastik selama hampir sepuluh tahun.

‘Jika teman-teman datang, mereka mungkin akan membawa sebungkus keripik sehingga bungkusnya akan dibuang ke tempat sampah. Namun, memang kami cenderung berusaha untuk tidak membeli barang jika tidak bisa didaur ulang,” katanya.

Ms Cody membuat sendiri pasta gigi dan deodoran dari bikarbonat soda dan minyak organik karena dia tidak tahan untuk membuang tabung dan botolnya.

Ms Cody membuat kulit telur dan kacang dan menggunakannya sebagai obat pembasmi siput alami di kebunnya

‘Kami dan meminjam barang dari teman atau pergi ke penjualan boot atau toko barang bekas untuk mendapatkan barang yang diinginkan.

Ia mengunjungi perpustakaan untuk mencari buku petunjung terkait cara membuat sendiri barang-barang yang dibutuhkan, jika ia mampu membuatnya.

“Selain pakaian dalam, baju-baju kami yang akan saya beli di toko amal. Saya memakai baju bagus saat bernyanyi tapi saya masih memakai barang yang saya punya 20 tahun yang lalu. Saya juga menggunakan sampo organik dan membuat pasta gigi dan deodoran sendiri di rumah.”

Tampaknya, Anda tidak bisa mengharapkan mereka untuk mencicipi atau melakukan hal yang persis sama dengan produk yang dibeli di toko.

‘Alasan utama kami tidak membeli suatu barang, karena kami rasa barang tersebut tidak atau belum terlalu dibutuhkan. Hampir selalu ada alternatif. ”

Ia juga membatasi pengeluarannya, dengan tak pernah membeli produk-produk perusahaan seperti Coca Cola dan tidak pernah makan di McDonald’s.

Meski memiliki peraturan hijau, Ibu Cody mengatakan tidak ada yang aneh dengan gaya hidupnya tersebut

Dia juga tak pernah membuat kopi karena proses pembuatannya menggunakan banyak air dan tak pernah mengkonsumsi daging sapi karena pengaruhnya terhadap pemanasan global.

Meskipun dia memiliki mobil untuk perjalanan jauh, dia biasanya berkeliling dengan sepeda dan rumahnya pun bebas dari teknologi.

Ms Cody berkata, “Kami hanya memiliki mesin cuci dan tidak memiliki mesin pencuci piring atau semacamnya. Saya belum pernah menonton TV sejak berusia 13 tahun.”

Ia sempat membeli TV untuk putrinya, namun ia menyingkirkannya saat ia berusia sekitar 13 tahun. Ia pun menjelaskan mengapa mengingkirkan TV tersebut.

“Putri saya pun tampaknya memberi respon positif, dengan berkata,’ Nah, mengapa kita tidak mencobanya’, dan kami melakukannya selama beberapa minggu. Dia bilang dia merasa jauh lebih baik di sekolah tanpanya, dan sama sekali tidak merindukannya.”

Lahir dan dibesarkan di Kenya, tempat ayahnya bekerja di pertanian, dia menghargai gaya hidup ramah lingkungannya tersebut.

Cody bercerita, ‘Di Kenya, toko terdekat berjarak mil jauhnya, sehingga membuat Anda belajar untuk menggunakan segala hal yang ada di sekitar Anda. Ketika kami kembali ke negara ini ketika saya berusia sekitar tiga tahun, kami memiliki kebun kecil dengan ayam dan menanam sayuran kami sendiri.”

Bulan lalu Ibu Cody mencalonkan diri untuk anggota parlemen di Tewkesbury untuk memberi orang kesempatan hidup lebih Hijau dan selesai dengan mendapat 2,7 persen suara.

Dia juga mendirikan situs pertukaran komunitas bernama Green Minded People di Tewkesbury, di mana penduduk setempat dapat menukar semuanya mulai dari gadget hingga kotak kardus untuk dapat berpikir lebih hijau dan ramah lingkungan.

Dia menambahkan dirinya tercengang melihat betapa banyaknya orang yang membuang banyak sampah. Ia tidak tahu apakah mereka menaruh pakaian dan buku di tempat sampah mereka dan bukan toko amal dan barang-barang seperti itu.

“Itu membuat saya merasa sangat sedih.Sebagian besar barang-barang tersebut masih bisa didaur ulang. Jika semua orang melakukan apa yang saya lakukan, itu akan berdampak besar. Saya tidak hanya berkata, namun saya iringi dengan tindakan dan perilaku saya.” (intan/rp)

Share
Kategori: Uncategorized

Video Popular