Erabaru.net. Bulan lalu, salah satu teman saya mengalami sedikit kendala tak terduga dalam bisnisnya.

Ia bilang butuh uang mendesak.

Saya pribadi merasa aneh, ketika dia menelepon saya.

Sebab hubungan (pertemanan) kami hanya sebatas teman biasa.

Jadi, saya agak ragu dengan permintaannya.

“Nanti aku telepon lagi ya,” kataku di gagang telepon.

Sepuluh menit kemudian setelah direnungkan, aku pun meminjamkan uang kepadanya.

Ilustrasi

Minggu lalu, ia mengembalkan uang pinjamannya kepadaku, kemudian menjamuku minum teh.

Temanku bilang, “Benar-benar diluar dugaan kamu bersedia meminjamkan uang kepadaku!”

”Mengapa?” tanyaku.

Temanku itu bilang, “Sebelum meneleponmu, aku sudah menghubungi 9 orang (kerabat, teman). Kamu teman ke 10 yang aku hubungi. Ketika kamu bilang, “Nanti aku telepon lagi,” aku pun langsung berpikir perlu menghubungi teman ke-11. Asal tahu saja, aku menghubungi telepon ke 10 ini berdasarkan kekentalan kerabat atau teman, semakin ke atas urutannya aku semakin tidak yakin, jadi aku sudah pesimis saat meneleponmu.”

Setelah itu, kamipun ngobrol panjang lebar tentang topik yang kami bicarakan ini.

Secara ringkas dia mengatakan, “Kalau saja kali ini bukan karena pinjam uang, aku masih bangga punya teman segunung, tapi sekarang baru aku sadari, ternyata betapa kesepiannya aku.”

Ilustrasi

Beberapa hari kemudian, saya terus memikirkan hal itu.

Share
Tag: Kategori: Headline

Video Popular